Komunikasi produktif..tak sekedar bicara

Materi pertama di kuliah Bunsay tentang komunikasi produktif. Saya setuju sekali kenapa materi ini diletakkan paling awal, karena memang itulah fondasinya. Banyak rumah tangga yang bermasalah hanya karena masalah miskomunikasi.

Komunikasi produktif ini meliputi 3 aspek, komunikasi terhadap diri sendiri, komunikasi dengan pasangan, dan komunikasi dengan anak. Komunikasi terhadap diri sendiri, ini yang sering tidak disadari sebetulnya. Komunikasi terhadap diri sendiri berupa pemilihan kata yang sering digunakan. Karena Sifat seseorang itu tercermin dari kata-katanya. Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya. Ganti kata “susah” menjadi “menarik”, “masalah” menjadi “tantangan”.

Dalam berkomunikasi dengan pasangan, pasti ada sudut pandang aku dan kamu karena Frame of Reference dan Frame of Experience yang berbeda. Namun tantangannya adalah bagaimana menyampaikan sudut pandang kita secara baik agar suami mengerti dan juga berusaha memahami sudut pandang suami serta tidak terkesan memaksakan sudut pandang salah satunya.

Komunikasi dengan anak menjadi tantangan tersendiri. Kebetulan sekali karena Oca sedang dalam masa belajar bicara dan sudah mulai bisa diajak komunikasi. Jadi saya memutuskan untuk fokus melatih cara komunikasi saya dengan anak. Berhubung terpisah jarak dengan suami jadi praktek komunikasi dengan pasangannya agak sulit. Ada 11 poin utama yang bisa dilatih dalam tantangan kali ini.

KomProd_Anak.jpg

Poin utama yang ingin saya latih sebetulnya adalah tentang mengendalikan emosi, berhubung ini yang sulit sekali bagi saya. Seringkali jika ada tingkah laku anak yang di luar keinginan saya, emosi jadi terpancing dan akibatnya intonasi suara pun jadi ikut naik, walaupun tidak sampai marah2. Setelahnya pasti ada rasa penyesalan. Jadi saya pikir jika kita bisa mengendalikan emosi, pasti poin intonasi dan suara yang ramah pun otomatis tercapai. Saya juga mencoba melatih beberapa poin yang lain seperti memberi pilihan , mengatakan yang diinginkan, dan jelas memberikan pujian/kritikan sesuai momen yang ada.

Tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi. Di satu saat kita bisa mengendalikan emosi, di waktu lain emosi kita terpancing lagi. Di saat kita melatih anak untuk bisa memilih, ada kalanya berhasil ada kalanya tidak. Saat berhasil, senangnya bukan main, tapi saat gagal, saya bertanya2 apa yang salah ya? Ah..mungkin hanya butuh latihan lagi.

Tantangan lainnya adalah menyempatkan waktu untuk menulis dan melaporkan tantangan tiap harinya. Ada saja halangannya, sedang dinas lah, atau malamnya ketiduran lah. Saya akui selama 17 hari yang disediakan itu agak terseok-seok dalam menulis laporan, sehingga tidak bisa setor tiap hari. Ini baru tantangan pertama lho..masih ada 11 tantangan lainnya..

Di luar itu, saya merasa tantangan kali ini menjadi semacam alarm bagi saya untuk selalu aware ketika berkomunikasi dengan anak. Walaupun kadang-kadang alarmnya macet, tapi setidaknya saya tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan anak. Saya ingin anak saya bisa berkomunikasi dengan baik nantinya. Supaya itu terwujud, orangtuanya dulu yang harus berubah, betul?! ;D

IMG-20170622-WA0006

 

Matrikulasi IIP….ajang kontemplasi diri

Kelas Matrikulasi…9 minggu pembelajaran awal di IIP sudah selesai.

9 minggu yang penuh dengan inspirasi

9 minggu yang membuka wawasan

9 minggu yang bikin baper

9 minggu penuh perenungan

Gimana ngga..hampir setiap minggunya kita diminta untuk terus berpikir..menggali jauh ke dalam diri..mencoba mengenal kembali diri kita..siapa kita..apa misi hidup kita..ingin jadi apa kita kelak..apa passion kita..dll

Semua pertanyaan itu jujur membuat saya berpikir keras..saya pikir saya telah cukup mengenal diri dengan baik tapi ternyata masih bingung jika ditanya misi hidupnya apa. Saya pikir saya tau passion saya ada di mana. Tapi sebetulnya saya belum menemukan bidang yang saya banget. It’s becaue I haven’t really tried anything. Banyak bidang yang saya suka. Tapi karena saya tidak pernah serius menekuni bidang-bidang tersebut saya sendiri tidak tahu yang mana yang betul-betul bisa membuat mata saya berbinar-binar.

Sekalipun dalam diri saya masih penuh dengan ketidakjelasan, satu hal yang pasti adalah saya bersyukur bisa mendapat kesempatan belajar di IIP ini. Berkumpul dengan ibu-ibu kece yang selalu bersemangat dan tulus dalam mencari ilmu..saya banyak belajar dari mereka. Sekalipun di kelas saya lebih banyak menjadi silent reader saya belajar dari mereka..tentang kesungguhan dalam mencari ilmu dan kesungguhan untuk mengamalkannya. Saya bahagia bahwa di sini saya dikumpulkan bersama wanita-wanita hebat yang memiliki satu misi yang sama..menjadi seorang wanita terbaik untuk keluarganya masing-masing.

Perjalanan masih panjang. Ini baru matrikulasi, kelas perkenalan. Masih menanti kelas-kelas selanjutnya..Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif, dan Bunda Shaleha. Itu baru dari IIP saja, karena sesungguhnya belajar itu sepanjang hayat, bukan?

Semoga kita semua diberi kesehatan, kekuatan, dan keikhlasan untuk bisa terus mengikuti materi sampai akhir..sehingga kita bisa menjadi seorang wanita dambaan keluarga..Aaamiinn.

NHW#5 Belajar bagaimana Caranya Belajar

Materi minggu ke 5 di MIP ini tentang Belajar bagaimana Caranya Belajar. Agak loading dulu memang ketika pertama kali baca. Sebelum kita mengajarkan sesuatu pada anak kita, terlebih dahulu orangtuanya yang harus belajar bagaimana cara belajar yang betul. Bukan hanya mempelajari materi semata, tapi yang paling penting adalah membentuk pola pikir tentang belajar itu sendiri, agar nantinya pada anak kita tumbuh kecintaan untuk terus belajar, karena membuat bisa itu mudah, sementara membuat suka itu adalah tantangan.

Untuk NHW 5 kali ini kita diminta untuk mempraktekan langsung membuat desain pembelajaran ala kita sendiri. Disesuaikan dengan jurusan ilmu yang akan kita pelajari masing2. Tak ada format khusus sebetulnya. Tapi justru karena tidak ada contoh jadi agak terkesan abstrak untuk saya pribadi, berhubung saya bukan orang pendidikan yang familiar dengan istilah tersebut. Saya coba membuatnya menggunakan petunjuk dari Bu Septi 6W+1H.

Desain Pembelajaran

1. What (ilmu apa yang akan dipelajari)

Ilmu tentang Keluarga. Ada beberapa cabang ilmunya, diantaranya parenting dan manajemen rumah tangga. Manajemen rumah tangga ini dibagi beberapa cabang lagi yaitu keuangan, organizing house, perdapuran, health and beauty, psikologi rumah tangga.

2. Why (tujuan mempelajari ilmu ini/misi spesifik hidup)

Untuk menjadi ibu terbaik untuk anak2 dan mendapat ridho suami

3. When + Which one (tahapan ilmu yang akan dipelajari sesuai prioritas dan waktunya)
1. Parenting : sekarang sampai akhir tahun 2017
2. Psikologi rumah tangga : Januari-Juni 2018
3. Organizing house : Juli-September 2018
4. Keuangan : Oktober-Desember 2018
5. Perdapuran : Januari-Juni 2019
6. Health and beauty : Juli-Desember 2019

4. Who (pada siapa akan belajar ilmu2 tersebut)
Jelas pada pakarnya masing2..hehe

5. Where (di mana akan mempelajari ilmu2 tersebut)

Sepertinya dengan belajar di IIP saya bisa mendapatkan sebagian besar ilmu yang saya butuhkan, seperti parenting lewat bunsay dan manajemen rumah tangga lewat bunda cekatan. Sementara untuk urusan perdapuran saya ada rencana untuk mengambil kursus masak walaupun belum tau tempatnya akan di mana. Sisanya, sepertinya saya akan belajar dari buku dan seminar2 jika ada.

6. How (metode belajar yg akan digunakan)
1. Parenting : baca buku, mengikuti materi dari IIP, baca2 artikel internet, seminar (jika ada), sharing dengan ibu2 lain, praktek..praktek..praktek
2. Psikologi rumah tangga : baca buku/artikel, sharing, dari IIP (ada ga ya?)
3. Organizing house : baca buku/artikel/majalah, IIP (?), praktek
4. Keuangan : baca buku/artikel, seminar (jika ada), praktek
5. Perdapuran : belajar di tempat kursus, sering baca buku resep dan video resep, praktek
6. Health and beauty : baca buku/artikel, lihat video tutorial, praktek

Baru itu aja yang kepikiran. Semoga sedikit demi sedikit bisa terlaksana. Saya menaruh harapan besar dari IIP untuk ini sebetulnya. Semoga sesuai dengan harapan nantinya. Amin.

NHW#4 Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Belum selesai merenungi materi ke-3 tentang pencarian misi hidup, materi ke-4 tentang mendidik dengan kekuatan fitrah sudah muncul. Inti dari materi ke-4 ini adalah kita perlu mengenali fitrah-fitrah apa saja yang dimiliki oleh seorang anak, sehingga kita bisa mendidik anak-anak kita sesuai dengan fitrahnya, bukan malah menjejali semua ilmu sesuai dengan target2 yang kita inginkan. Kenali fitrahnya, kembangkan bakatnya sesuai fitrah, serta temani selalu anak kita dalam kesehariannya.

NHW 4 nya membuat kita untuk merenungkan kembali NHW kita sebelumnya. Apakah setelah menerima materi ke-4 ini kita masih tetap akan mempertahankan jurusan ilmu yang kita pilih di NHW1. Jujur agak bingung sebetulnya. di NHW1 saya memilih jurusan manajemen waktu, karena memang saya merasa itulah kekurangan saya yang paling besar dan itu yang memang ingin saya pelajari. Tapi begitu di NHW 4 jadi malah bingung. Dari yang saya tangkap, maksud dari NHW 4 ini mempertanyakan, apakah jurusan ilmu yang dulu kita pilih sesuai dengan misi hidup kita. Jika memang begini, sepertinya saya dulu salah ambil jurusan..hehe. Tidak sepenuhnya salah sebetulnya, . Saya tetap harus mempelajari tentang manajemen waktu. Tapi sepertinya itu hanya ilmu pendukung disamping ilmu lainnya yang lebih utama.

Mendengar kata tentang visi & misi hidup sepertinya terkesan grandeur. Saya lebih suka menggunakan istilah penggantinya, yaitu cita-cita. Jika ditanya apa visi hidup saya, saya akan bingung menjawabnya, tapi jika ditanya apa cita-cita saya dalam hidup, saya ingin menjadi seorang ibu yang baik. Hanya itu, walaupun terkesan terlalu abstrak. Saya tidak berambisi menjadi seorang dengan karir yang cemerlang, saya tidak mengejar gelar yang panjang, saya hanya ingin menjadi wanita terbaik untuk keluarga. Oleh karenanya setiap kali mendapat ilmu yang berhubungan dengan keluarga, entah itu parenting, manajemen keuangan keluarga, bahkan tentang resep masakan sekalipun, saya pasti excited.

Apakah untuk menjadi wanita terbaik keluarga seorang wanita harus fokus saja menjadi ibu rumah tangga? Saya termasuk yang berpendapat, idealnya seperti itu, walaupun tidak menjamin seorang ibu rumah tangga selalu bisa menjadi ibu yang terbaik, jika ia tidak tahu ilmunya. Begitu pula bukan berarti seorang ibu bekerja pasti tidak bisa menjadi ibu yang baik. Asalkan kita menguasai ilmunya dan pandai memainkan peran dengan baik. Begitu pula posisi saya sekarang, saya masih belum bisa meninggalkan pekerjaan saya sebagai seorang dokter sekaligus PNS. Maka dari itu, tugas saya sekarang adalah menjalankan ketiga peran (sebagai istri, ibu, dan dokter) dengan semaksimal mungkin. Jika ditanya misi hidup, itu mungkin misi hidup saya dalam jangka pendek sampai menengah, karena dalam jangka panjang saya juga memiliki cita-cita menjadi seorang promotor kesehatan, terutama di bidang gizi dan kesehatan anak. Sepertinya lebih enak dibuat dalam bentuk tabel ya..

timetable

Sekilas mirip kurikulum di IIP ya..memang..hehe. Makanya saya sangat excited begitu tahu ada IIP ini karena memang sesuai dengan yang saya butuhkan. Jani, sedikit mengadopsi kurikulum dari IIP takpapa kan yaa..hehe. Yaa..semoga saja timetable ini bisa berjalan sesuai rencana. Amin.

NHW#3 Membangun Peradaban dari dalam Rumah

Semakin ke sini materi MIP semakin menohok saja. NHW nya pun semakin menantang. Keluarga sebagai fondasi peradaban. Mencoba mencari misi spesifik dalam hidup, terutama setelah berkeluarga. Ini yang masih agak bingung, saya masih meraba-raba jawabannya sampai sekarang.

 

Sebetulnya dari sejak kuliah saya sudah membayangkan akan dibawa kemana keluarga saya dan akan jadi orangtua seperti apa nantinya. Menyadari saya banyak kekurangan di bidang tertentu, saya pun mencari pasangan yang bisa melengkapi kekurangan saya dengan kelebihannya sehingga harapannya keluarga kami akan berjalan dengan seimbang saling melengkapi. Dan inilah suami saya. Sosok yang begitu terbuka sangat berkebalikan dengan saya yang terkesan pendiam dan tertutup. Dalam keseharian kami beliau yang lebih banyak aktif bicara, sementara saya menjadi pendengar setianya..hehe. Beliau memang unggul dalam bahasa lisan, tapi mengaku kurang begitu luwes dalam bahasa tulisan. Makanya begitu saya memberinya surat cinta..komentarnya tidak banyak. Maklum, posisi kami skrg yang berjauhan antar benua sedikit membatasi komunikasi, beliau menanggapinya lewat WA. Agak terharu katanya..hehe. Dan seperti biasa..beliau malah merendah. Suami bilang, InsyaAllah kita bisa mencapai tujuan itu asalkan terus ikhtiar, berdoa dan tidak lupa terus berbuat baik kepada orangtua. Suami memang selalu wanti2 untuk terus berbuat baik kepada orangtua. Beliau percaya asalkan kita sudah mendapat ridho orangtua maka segalanya akan dilancarkan.

 

Saya jadi berpikir, dengan kami yang sekarang masih tinggal bersama orangtua, mungkin memang kami diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bisa berbuat baik lebih sering dan lebih banyak kepada mereka. Keinginan saya dari awal menikah adalah tinggal sendiri terpisah dari orangtua. Selain karena tidak mau merepotkan, kami juga bebas menetapkan peraturan rumah tangga kami sendiri tanpa ada intervensi dari orang lain. Namun setelah anak saya lahir, kondisinya tidak menungkinkan untuk kami tinggal sendiri karena saya dan suami dua2nya bekerja. Akhirnya, saya kembali ke rumah orangtua. Beberapa hal yang sempat dikhawatirkan kalau tinggal bersama orangtua sempat terjadi. Perbedaan zaman pasti membuat perbedaan dalam pola mendidik anak. Orangtua zaman dulu cenderung restriktif pada anak dengan banyak membuat hambatan dan larangan, sementara saya termasuk yang berpendapat, biarkan anak untuk mengeksplor lingkungannya. Ini jadi ujian yang cukup berat, bagaimana saya bisa tetap menerapkan prinsip saya dan menjelaskan kepada orangtua dengan cara yang santun. Saya masih harus banyak belajar untuk ini. Di luar itu semua, saya bersyukur masih bisa diizinkan tinggal bersama orangtua, karena dengan begini saya masih punya kesempatan untuk berbakti, anak saya pun menjadi dekat dengan kakek neneknya. Bahkan selama ayahnya tidak ada, perannya dengan sempurna tergantikan oleh kakeknya di rumah..hehe. Mungkin suatu saat ketika ada rezekinya kami akan memiliki rumah sendiri. Tapi sampai saat itu tiba, manfaatkan saja waktu dan kesempatan yang ada sekarang untuk lebih banyak berbuat baik kepada orangtua.

 

Alhamdulillah kami dikaruniai seorang putri perempuan yang cantik dan lincah. Afroza namanya. Di usianya yang masih 17 bulan, sepertinya ke arah mana bakatnya sudah mulai terlihat. Sejak bayi, perkembangan motorik kasarnya sangat menonjol. Ia sudah bisa tengkurap di usia 2,5 bulan. Duduk sendiri 5 bulan 3 minggu, merangkak 6 bulan, dan berjalan 10 bulan 3 minggu. Jangan ditanya lagi bagaimana aktifnya malaikat kecil yang satu ini. Ia hampir tak mengenal duduk manis karena maunya bergerak terus. Belakangan malah ia sedang suka sekali memanjat dan berusaha melompat2. Dari sini saya berpikir..mungkin memang kecerdasan kinestetiknya yang dominan. Memiliki anak dengan kecerdasan kinestetik tentunya memerlukan tenaga ekstra karena orangtuanya harus mampu mengimbangi keaktifan si anak sehingga energi dan bakatnya bisa tersalurkan dengan optimal.

 

Seringkali saya masih ragu apakah saya bisa menjalankan peran saya dalam membangun peradaban dengan baik atau tidak. Anak yang masih butuh banyak perhatian sementara ibunya masih harus bekerja ditambah lagi dengan harus tinggal berjauhan dengan suami untuk sementara waktu, terpaksa tinggal dengan orangtua dulu..itu semua tantangan yang saya hadapi saat ini. Saya yang idealis rasanya tidak sanggup hanya menyerah pada keadaan dan tidak memberikan yang terbaik terutama untuk anak saya. Sekalipun saya masih memerankan peran ganda saya tetap ingin selalu menyediakan gizi terbaik melalui masakan2 homemade sesibuk apapun saya. Saya juga ingin sebisa mungkin membersamai anak saya, menyaksikan tumbuh kembangnya, memberikannya stimulus2 yang diperlukan, memberikannya kasih sayang, dan mendidiknya untum menjadi insan yang berakhlak mulia. Saya bersama suami dengan kelebihan dan kekurangan kami saling melengkapi dalam bekerja sama mendidik anak, menghasilkan generasi rabbani yang dirindukan negeri ini.

 

InsyaAllah

Belajar jadi Ibu Profesional di MIP#3

Pertama kali mendengar ada yang namanya Institut Ibu Profesional, saya sangat excited. Apalagi tau siapa di balik pendirinya, Ibu Septi Peni Wulandani. Bagi pengamat dunia parenting pasti tau beliau, seorang Ibu luar biasa dari 3 anak yang luar biasa pula. Beliau mampu mendidik ketiga buah hatinya dengan sangat baik dan memaksimalkan potensi yang ada pada diri mereka. Mendengar adanya IIP ini bagaikan dreams come true bagi saya. Inilah yang saya cari-cari selama ini. Semenjak menjadi istri dan kemudian seorang ibu baru, saya menjadi haus akan ilmu dunia parenting. Saya mulai mencari informasi tentang dunia parenting dari berbagai sumber. Namun ternyata kenyataan di lapangan terkadang tak selalu mudah untuk diterapkan. Sama seperti ibu-ibu pada umumnya, saya pun melewati hari-hari yang diwarnai tawa, keringat, dan air mata selama menjadi istri dan ibu. Karena saya merasa masih banyak kekurangan di diri ini, ketika bertemu dengan IIP saya merasa seperti menemukan oase sebagai tempat untuk memenuhi kehausan akan ilmu. Semoga saya bisa konsisten mengikuti materi-materi yang ada dan mengerjakan tugas-tugasnya, sehingga nantinya saya bisa menjadi istri dan ibu yang lebih baik bagi suami dan anak saya.

Materi pertama di MIP#3 cukup menohok..tentang Adab menuntut ilmu. Cukup menohok karena isinya sesuai dengan yang selalu disampaikan oleh suami berulang-ulang. Suami selalu bilang, urutan dalam mencari ilmu itu adalah adab, ilmu, baru amal. Mantapkan dulu adabnya, baru siap menerima ilmu. Akan sangat berbeda orang yang menyampaikan ilmu antara yang beradab dan yang tidak. Orang yang tidak beradab akan cenderung merasa dirinya paling benar dan merendahkan orang lain yang tidak sepaham dengan mereka. Dan jangan sekali-kali menyampaikan suatu ilmu yang kita tidak menguasai ilmu itu sepenuhnya, karena dikhawatirkan dapat terjadi salah persepsi. Itu yang suami saya selalu bilang. Sangat sesuai dengan materi yang saya dapat kemarin.

Setelah diberikan materi, selanjutnya Nice Homework (NHW) pun diberikan. Berkaitan dengan materinya, NHW#1 kali ini meminta kita untuk melakukan perenungan cukup dalam dan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Tentukan satu jurusan ilmu yang akan Anda tekuni di universitas kehidupan ini

Cukup menghabiskan waktu agak lama untuk memikirkan jawabannya. Berkali-kali saya merenung, apa yang kira-kira “saya banget”. Sempat beberapa hal muncul sebagai jawabannya. Sebetulnya banyak bidang yang saya minati, hanya saja saya tidak pernah berusaha menekuni bidang2 tersebut sehingga saya sendiri tidak yakin apakah bidang2 tersebut merupakan passion saya atau hanya sekedar minat saja. Tapi setelah menikah dan memiliki anak, timbul keinginan kuat bahwa saya ingin sekali menjadi wanita terbaik bagi keluarga saya, sehingga saya ingin sekali bisa menguasai ilmu keluarga.

  • Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut

Dalam universitas kehidupan ini, saya memainkan beberapa peran sekaligus, sebagai istri, ibu, anak, saudara, dokter, dan manusia biasa. Waktu saya selama 24 jam sehari terbagi dua antara pekerjaan dan keluarga. Ingin rasanya saya hanya fokus mengurusi keluarga saja, tapi sebagai seorang dokter saya juga memiliki kewajiban untuk mengamalkan ilmu saya untuk kebermanfaatan orang banyak. Namun demikian, saya tidak begitu berambisi dalam mengejar karir saya sebagai seorang dokter, karena bagi saya keluarga jauh lebih penting. Oleh karenanya jika ada ilmu yang saya ingin tekuni ke depannya, itu adalah ilmu tentang keluarga karena bersama keluarga lah kita akan menghabiskan sisa usia kita. Ilmu tentang kesehatan sudah saya pelajari di bangku kuliah, kini saatnya saya fokus untuk belajar bagaimana menjadi seorang istri yang baik sekaligus menjadi ibu yang baik demi mengejar mimpi tertinggi, surga Allah SWT. Walaupun sejujurnya masih ada keinginan untuk memperdalam ilmu kedokteran saya, terutama di bidang gizi anak, tapi niat itu saya simpan dulu untuk jangka panjang, sementara ini saya ingin fokus mempelajari ilmu tentang keluarga dulu.

  • Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?

Ilmu tentunya tidak akan datang jika tidak dicari. Sekarang banyak sumber ilmu yang beredar, baik itu dari buku, internet, seminar, dll. Walaupun kembali lagi ke materi kita, jangan mudah percaya pada suatu bacaan jika kita belum pastikan/yakinkan bahwa itu berasal dari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan. Berkaitan dengan manajemen waktu ini, strategi yang akan saya lakukan di antaranya:

 Meminta kepada Sang Pemilik segala Ilmu, Allah SWT. Karena tanpa izin dan ridhonya, ke manapun kita mencari ilmu, tidak akan mendapat hasil yang diharapkan.

 Banyak membaca buku mengenai parenting, manajrmen rumah tangga, psikologi rumah tangga, dsb. Bukan hanya sekedar teori saja, tapi juga pengalaman dan kisah sukses orang lain yang berhasil menjadi seorang ibu dan istri yang hebat.

 Komunikasi dengan suami harus lebih intensif. Menyusun strategi bersama. Mencari jalan keluar bersama. Karena bagaimanapun kami akan menjalami hidup ini bersama-sama

 Sering sharing dengan orang yang lain, bertukar pengalaman dan cerita. Mencontoh yang baik dan ambil sebagai pelajaran yang kurang baiknya

 Mengikuti majelis-majelis ilmu tentang manajemen keluarga, termasuk di IIP ini…hehe. Karena seperti yang susah saya katakan sebelumnya, saya menemukan apa yang ingin saya cari di sini.

  • Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut

 Kosongkan gelas…jangan menyisakan satu tetes pun. Sifat saya yang terkadang sok tau dan sering ngeyel bisa menghambatku dalam menerima ilmu

 Kuatkan tekad untuk belajar. Pelajaran ini membutuhkan waktu sepanjang hayat, oleh karenanya dibutuhkan tekad yang benar-benar kuat agar tidak berhenti di tengah jalan.

 Jauhkan sifat malas. Ini penyakit yang paling berbahaya yang bisa menghambat seseorang untuk maju. Saya sendiri masih sering berkutat membebaskan diri dari belenggu kemalasan ini dan masih sering kalah.

Membuat NHW#1 ini jadi seperti pengingat akan kekurangan diri kita sendiri, tujuan kita sesungguhnya apa, dan bagaimana bisa mengubah kekurangan tersebut agar tujuan kita bisa tercapai. Semoga ini tidak hanya sekedar menjadi tulisan yang akan dilupakan, tapi menjadi titik awal menuju perubahan. Aamiin.