NHW#9 Bunda sebagai Agen Perubahan

Akhirnya MIP ini memasuki minggu terakhir, tidak terasa sudah dua bulan lebih kami mendapat ilmu tentang bagaimana menjadi ibu profesional. Apa setelah ini kami sudah bisa disebut Ibu Profesional? Tentu belum. Masih ada 4 tahapan ilmu lagi yang masing-masing lamanya 1 tahun, Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif, dan Bunda Shaleha.

Materi terakhir ini merupakan gambaran tentang Bunda Shaleha. Bagaimana seorang wanita bisa berperan juga menjadi agen perubahan di lingkungan tempat tinggalnya dengan memanfaatkan passion yang ia miliki. Kami dituntut untuk lebih peka dan berempati terhadap sekitar dan menemukan sebetulnya apa isu sosial yang ada di sekitar kita yang bisa kita bantu selesaikan dengan ilmu atau passion yang kita miliki.

Saya pribadi sangat concern tentang gizi anak, terutama ASI dan MPASI. Saya banyak mengobrol dengan rekan kerja di RS yang juga sama-sama memiliki anak, banyak dari mereka yang kesulitan dalam memberikan ASI ekslusif kepada buah hati mereka. Mereka sebagai perawat dan dokter yang juga sama-sama berkerja dalam shift mengaku merasa kesulitan dalam memompa ASI saat bekerja sehingga kebutuhan ASI di rumah saat ibu sedang bekerja tidak terpenuhi dan akhirnya anaknya harus dibantu tambahan susu formula. Saya sering sedih mendengarnya. Semenjak saya melahirkan, saya sudah bertekad untuk memberikan ASI ekslusif untuk anak saya. Tidak mudah memang, penuh tantangan menurut saya. Dimulai dari belajar pumping semenjak cuti, menabung ASI selama cuti, setelah mulai masuk kerja jadi ibu-ibu rempong karena selalu membawa-bawa tas extra berisi perlengkapan perang pumping ASI, break tiap 2 jam untuk pumping, stressnya kejar tayang (apalagi dulu anak sempat ditinggal untuk prajab 1 bulan), pengorbanan suami untuk antar jemput ASI selama prajab dulu, semua itu dilakukan demi tercapainya ASI ekslusif. Dan alhamdulillah berhasil, bahkan sampai 1 tahun. Sampai sekarang pun saya masih membawa perlengkapan perang pumping ketika bekerja, padahal anak saya sudah 18 bulan.

Banyak rekan-rekan saya yang mengeluh betapa sedikitnya ASI mereka atau sulitnya meluangkan waktu untuk memompa. Hal itu yang sebagian membuat mereka terhenti di tengah-tengah. Banyak yang seperti itu karena tidak tahu ilmunya. Saya berpikir, seandainya semua wanita tahu ilmu tentang manajemen ASI pada ibu bekerja, sebetulnya kami pasti bisa memberikan ASI ekslusif kepada anak-anak kita. Tapi sayangnya tidak semua tahu. Oleh karena itu, saya ingin sekali menjadi konselor Laktasi dan memberikan penyuluhan kepada rekan-rekan kerja pada khususnya, dan masyarakat umum pada umumnya untuk kembali menekankan pentingnya ASI ekslusif beserta bagaimana cara mengakali supaya anak kita tetap bisa mendapatkan ASI ekslusif sementara kita tetap bekerja. Dengan passion saya di public health yang mengharuskan untuk bisa public speaking memberikan penyuluhan di depan orang banyak, saya ingin berkontribusi kepada lingkungan saya dengan cara ini.

Ini baru salah satu isu sosial yang saya perhatikan, masih banyak isu sosial lain yang juga ingin saya bantu, tapi karena keterbatasan waktu dan tenaga, sementara yang saya bahas baru ini dulu. Jika dimasukkan ke dalam tabel, mungkin seperti ini jadinya:

social venture

NHW#8 Misi Hidup dan Produktivitas

Materi minggu ke-8 di MIP ini masih kelanjutan dari materi sebelumnya tentang pencarian misi hidup dan bagaimana caranya untuk menjadi seorang yang produktif. Setelah sebelumnya melakukan talent mapping dan membuat kuadran #sukadanbisa, sekarang giliran memilih satu dari sekian aktivitas yang masuk di kuadran suka dan bisa tersebut untuk dijadikan fokus hidup kita ke depan. Dari beberapa aktivitas yang saya tuliskan, saya memilih Public Speaking, lebih tepatnya edukasi tentang gizi anak.

  • Kita ingin menjadi apa (BE)

Saya ingin menjadi seorang edukator gizi anak

  • Kita ingin melakukan apa (DO)
    • Meneruskan sekolah S2 jurusan Gizi/kesehatan anak
    • Meneruskan sekolah Spesialis Gizi Kesehatan (SpGK)
    • Mengambil kursus menjadi Konselor Laktasi
    • Mengikuti seminar-seminar yang berhubungan dengan gizi
    • Menulis buku/artikel tentang gizi anak
    • Bergabung dengan komunitas-komunitas sebidang (contoh:AIMI)
    • Melakukan penyuluhan ke berbagai tempat
  • Kita ingin memiliki apa (HAVE)
    • Klinik Gizi dan laktasi sendiri
    • Buku-buku yang berkaitan tentang gizi anak

Selanjutnya, kami diminta untuk membuat atau mengingat kembali tentang strategic plan yang sebetullnya sudah secara garis besar dibuat di beberapa NHW sebelumnya.

  • Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita?

Saya ingin fokus mengelola klinik Gizi dan Laktasi dan meninggalkan pekerjaan saya yang sekarang, serta rutin menjadi pembicara di berbagai kesempatan.

  • Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun?

Saya ingin telah menyelesaikan S2 dan sekolah spesialis gizi kesehatan dan telah mendapatkan sertifikat sebagai konselor laktasi

  • Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 1 tahun?

Membaca minimal 5 buku tentang gizi anak dan mengikuti pelatihan manajemen laktasi.

Sebagai penyemangat diri, saya kutip kata-kata berikut:

Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH.

Terutama bagi saya yang harus bisa melepaskan diri dari belenggu kemalasan.

 

NHW#7 Tahapan Menuju Bunda Produktif

Setelah di minggu-minggu sebelumnya kita diberi dasar tentang materi bunda sayang dan bunda cekatan, materi minggu ketujuh ini tentang bunda produktif. Di sini kita diminta untuk mencari passion kita dimana, apa aktivitas atau bidang yang bisa membuat mata kita berbinar-binar. Sebagai seorang ibu kita juga harus produktif, walaupun produktif di sini tidak selalu berkaitan dengan materi. Yang penting, apakah ada aktivitas amalan kita yang bisa meningkatkan kemuliaan hidup kita dan keluarga?

Menjadi seorang dokter sebetulnya bukan cita-cita saya dari kecil, keinginan itu muncul baru sejak SMA. Seiring dengan berjalannya waktu ketika kuliah kedokteran, saya mulai bisa memilah mana bidang yang saya sukai dan yang tidak. Saya mulai menyadari selama kuliah, sebetulnya saya tidak begitu tertarik di bidang klinis kedokteran, saya lebih tertarik ke bidang kesehatan masyarakat. Setiap kali ada kuliah Public Health, saya sangat antusias. Saya membayangkan nanti kedepannya saya ingin berkecimpung dalam bidang kesehatan masyarakat. Saya ingin mengajak lebih banyak masyarakat untuk bisa hidup sehat, bukan hanya sekedar mengobati penyakit. Karena bagi saya, bisa mengajak 1000 orang untuk bisa hidup sehat lebih membuat bahagia ketimbang menyembuhkan 1 orang dari sakitnya. Tapi Qodarullah, saya ditempatkan di rumah sakit yang notebene orientasinya adalah ke pelayanan yang bersifat kuratif, bukan promotif atau preventif. Apa daya, sekarang saya hanya bisa menjalani apa yang diamanahkan kepada saya dengan sebaik mungkin, sekalipun tidak membuat saya berbinar-binar.

NHW#7 kali ini menyuruh kita untuk talent mapping, cari potensi bakat kita ada dimana melalui situs Temu Bakat. Bukan kali pertama sebetulnya saya melakukan tes potensi diri. Sebelumnya saya juga pernah tes kepribadian dan kecerdasan di mypersonality.info.Hasilnya bisa dilihat di sini. Perbedaannya saya rasa di temubakat.com lebih mengarah ke bakat yang berhubungan langsung dengan profesi. Sementara di mypersonality.info lebih digali lagi jenis kepribadian kita dilihat dari sisi psikologinya. Hasil talent mapping saya di temubakat.com seperti ini:

temubakat

Sepertinya potensi kekuatan saya sebagai caretaker sesuai dengan pekerjaan saya sekarang. Walaupun potensi kekuatan yang lain tidak bisa terlalu diterapkan pada pekerjaan kali ini. Saya memang menaruh minat besar pada bidang pendidikan. Saya suka mengajar sebetulnya, atau jika harus disesuaikan dengan profesi sekarang, memberikan penyuluhan kesehatan. Karena saya di RS, kesempatan untuk mengedukasi ada, lebih bersifat personal, walaupun waktunya terbatas. Sementara saya menginginkan yang lebih dari itu, saya ingin suatu hari nanti bisa mengedukasi lebih banyak orang secara lebih terbuka. Oleh karena itu, di NHW sebelumnya, saya bercita-cita beberapa tahun ke depan saya ingin menjadi seorang promotor kesehatan. Jika dilihat dari strength cluster, sepertinya bakat saya seimbang ya..walaupun berdasarkan yang saya rasakan pribadi, saya merasa lebih menonjol di bidang Elementary dan Technical dan sangat lemah di bidang networking. Ini yang jadi salah satu kendala saya tidak bisa memulai menjadi seorang entrepreneur..hehe.

Sementara untuk kuadran bisa dan suka, baru ini saja yang kepikiran..hehe. Mungkin nantinya akan bertambah.

kuadran bisa dan suka

 

NHW#6 Belajar menjadi Manajer Keluarga Handal

Seperti yang saya duga sebelumnya, materi tentang ini pasti akan muncul. Salah satu materi yang paling saya takutkan, karena saya pribadi menyadari saya memiliki kekurangan yang sangat besar dalam bidang manajemen, baik itu manajemen waktu, diri, pekerjaan, atau yang lainnya. Saya tipikal orang spontan, jarang membuat perencanaan dalam hidup. Sebetulnya saya adalah seorang dreamer, yang punya banyak mimpi dan keinginan. Banyak pencapaian yang ingin saya raih, bukan melulu soal materi sebenarnya. Tapi ya..itu baru sebatas angan-angan  dan belum dibuat step by step menuju ke sananya. Baru di IIP ini saya merasa “dipaksa” untuk menjadi terorganisir dengan membuat perencanaan-perencanaan tertulis. Saya kagum pada orang-orang yang selalu membuat to do list dan secara konsisten menjalaninya. Saya tidak pernah berhasil melakukan itu. Sepertinya buku catatan/agenda bukan teman baik saya..hehe. Saya merasa itu terlalu menyusahkan dan akhirnya menjadi tidak fleksibel. Ditambah lagi dengan sulitnya menjaga konsistensi. Bukan artinya saya sama sekali tidak memiliki rencana dalam menjalani aktivitas sehari-hari sebetulnya, hanya saja biasanya saya lebih nyaman untuk menggambarkan to do list di dalam kepala saja, tidak dituliskan. Resikonya, suka banyak lupanya memang.

Di materi 6 ini kita diingatkan kembali bahwa ibu berperan sebagai manajer keluarga. Baik ibu yang bekerja di ranah domestik maupun publik, peran sebagai manajer rumah tangga tetap dipegang oleh kita. Oleh karena itu, kita harus tau ilmunya, pandai menentukan prioritas, mana yang bisa dikerjakan oleh kita, mana yang bisa didelegasikan. Selama 2 tahun lebih saya menikah, saya belum sepenuhnya bisa merasakan dan menjalankan peran sebagai manajer keluarga. Karena saya dan suami masih tinggal di rumah orangtua, banyak peran seorang manajer yang masih dipegang oleh ibu saya. Tugas-tugas rumah tangga pun sudah didelegasikan ke ART. Ditambah lagi sekarang sedang LDM-an dengan suami, walhasil sebetulnya tugas utama saya ya mengasuh anak, walaupun tidak bisa full time.

Agak sulit sebetulnya bagi saya untuk membuat dan menjalankan aktivitas rutin karena jadwal saya sebagai dokter yang bekerja mengikuti shift tidak selalu teratur. Tapi jika ditanya mana aktivitas yang penting dan tidak penting bagi saya, maka bagi saya:

Aktivitas penting:

  1. Bermain bersama anak. Ini selalu saya sempatkan setiap harinya, tergantung jadwal shift-nya. Jika shift pagi, saya sempatkan sore sampai menemani anak tidur. Jika shift sore maka kegiatan bermain bersama di pagi hari sebelum berangkat. Jika shift malam saya punya waktu seharian untuk bermain bersama anak.
  2. Bekerja di RS. Saya masih memasukkan ini ke dalam aktivitas yang dianggap penting karena saya masih belum bisa meninggalkan pekerjaan saya dengan pertimbangan kewajiban untuk mengamalkan ilmu dan kebutuhan keluarga.
  3. Memasak. Setidaknya untuk anak. Sesibuk apapun saya, saya berusaha untuk selalu memastikan bahwa asupan gizi anak saya terpenuhi oleh tangan saya sendiri. Waktunya kadang di pagi hari atau malam hari setelah pulang dari RS.

Aktivitas tidak penting:

  1. Main Sosmed. Awalnya seringkali hanya untuk refreshing sejenak, tapi malah seringkali keterusan. Aktivitas tidak penting no.1 ini memang masih sulit untuk ditinggalkan sepenuhnya
  2. Mencuci, menyetrika, beberes rumah. Berhubung saya dan ibu saya masih bekerja, jadi otomatis pekerjaan rumah ini kami delegasikan ke ART yang sekaligus berfungsi sebagai pengasuh anak juga.

Aktivitas tidak penting saya dirangkum jadi 2 saja, karena anak dari aktivitas no.2 kan sebetulnya banyak. Jika ditanya sehari-hari, waktunya lebih banyak dihabiskan untuk aktivitas yang mana, sepertinya bekerja masih lebih dominan, walaupun saya berusaha menyeimbangkannya dengan memperbanyak waktu dengan anak.

Agak sulit untuk “mengandangkan” aktivitas rutin dan membuat jadwal harian, karena seperti yang saya bilang sebelumnya, jadwal saya tidak sama setiap harinya. Secara garis besar, jadwalnya mungkin seperti ini:

Jika dinas pagi: berangkat dari rumah jam 6.30 -> Kerja di rumah sakit sampai jam 14.30 -> Sampai rumah jam 16.00 -> Mandi,dsb, baru bisa bersama anak jam 16.30-> seterusnya sampai anak tidur jam 20.00 -> bikin makanan untuk esok hari

Jika dinas sore -> dari anak bangun sampai jam 12.00 saya yang pegang (disempatkan bikin makanan kalau anak tidur) -> siap-siap berangkat-> kerja sampai jam 21.30 -> sampai rumah jam 22.00 -> istirahat

Jika dinas malam -> polanya mirip sama dinas sore dengan waktu yang lebih panjang.

Ini sebetulnya salah satu kesulitan saya untuk berubah menjadi lebih terorganisir. Karena jadwal kerja saya yang tidak menentu, terpaksa saya yang harus menyesuaikan.

NHW#2 Indikator Profesionalisme Perempuan

Materi kedua di MIP#3 ini adalah tentang Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga. Menjadi seorang Ibu Profesional artinya menjadi seorang perempuan yang bangga akan profesinya sebagai pendidik utama anak-anaknya serta senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu. Tentunya ilmu untuk menjadi seorang ibu profesional pastilah tidak mudah. Membutuhkan waktu sepanjang hayat dan kerja keras serta ikhlas. Di IIP ilmu-ilmu tersebut dirangkum dalam 4 level:

  1. Bunda Sayang, yang akan kita ikuti setelah lulus kelas matrikulasi ini. Di kelas ini, akan diajarkan ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya.
  2. Bunda Cekatan. Di level ini lebih akan diajarkan bagaimana meningkatkan kualitas diri dalam hal mengelola rumah tangga dan keluarganya, seperti mengelola keuangan, kesehatan, dll.
  3. Bunda Produktif. Level selanjutnya ini para ibu akan belajar untuk bisa menemukan misi spesifik dalam hidupnya dan menjadi seorang ibu yang produktif tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.
  4. Bunda Saleha. Level tertinggi di IIP ini akan mengajarkan ibu-ibu agar bisa menjadi agen perubahan di masyarakat, sehingga bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk sekitarnya.

Membayangkannya saja sudah membuat excited. Tak sabar rasanya untuk bisa belajar semua ilmu-ilmu tersebut. Tapi seperti yang Ibu Septi bilang, pelajarannya harus diikuti pelan-pelan dari awal, jangan loncat-loncat karena dikhawatirkan bisa ada ketimpangan nantinya.

Ok..mari kita jalani satu-satu..slowly but sure. NHW#2 kali ini kita diminta untuk membat daftar checklist indikator seorang perempuan dapat dikatakan profesional. Indikator-indikator ini dibuat dari 3 sudut pandang, pertama sebagai seorang individu, seorang istri, dan seorang ibu.

Hmm..berarti dalam pembuatan NHW#2 kali ini aku harus konsultasi dulu dengan suami, pikirku. Walaupun sebetulnya aku tidak berharap banyak akan diberi jawaban oleh pak suami,  mengingat sifatnya yang memang tidak pernah menuntut. Begitu ditanya beliau maunya aku seperti apa/harus ngapain supaya beliau bahagia, eh..malah ngasih jawaban yg unpredictable..hehe. Walhasil harus muter otak lagi, berkreasi sendiri menentukan indikatornya. Untuk indikator sebagai ibu, berhubung anakku masih 17 bulan yang belum bisa ditanya, ya akhirnya mengarang lagi..hehe.

Berikut indikator2 yang baru kepikiran olehku, mungkin ke depannya akan ditambah kalau ada ide lagi, tapi yang jelas harus selalu dievaluasi. Yosh!!

No Indikator Frekuensi
Sebagai Individu
1 Membaca buku seputar rumah tangga/parenting/kesehatan 1 buku per bulan
2 Mengurangi frekuensi nonton film Maksimal 2 jam seminggu
3 Makan bergizi tepat waktu 3 kali sehari
4 Shalat Dhuha Min.3 x seminggu
5 Mengurangi buka aplikasi facebook Max. 15 menit perhari
Sebagai Istri
1 Menyiapkan kopi&sarapan di pagi hari Min. 3x seminggu (setelah suami pulang ke Indo)
2 Tidak memegang HP saat “together time” bersama suami Setiap hari

(setelah suami pulang ke Indo)

3 Mengobrol via WA Setiap hari
4 Mengobrol via telepon Min. 3x seminggu
5 Memijat suami ketika kelelahan Min.1x seminggu (setelah suami pulang ke Indo)
6 Mengobrol santai berdua Setiap hari min.30 menit (setelah suami pulang ke Indo)
7 Mendoakan suami dalam setiap sholat Setiap hari
Sebagai Ibu
1 Menyiapkan makanan dan cemilan bergizi Setiap hari
2 Bermain bersama anak Setiap hari minimal 1 jam
3 Membacakan cerita sebelum tidur Min 3x seminggu
4 Meminimalisir penggunaan gadget pada anak Max 30 menit tiap hari
5 Menyiapkan permainan2 baru untuk anak Min. 1 kali seminggu
6 Mengajak anak jalan-jalan/tamasya Min. 1 kali sebulan
7 Mendoakan anak dalam setiap sholat Setiap hari
8 Membiasakan kata2 ajaib pada anak (maaf/terima kasih/tolong) Setiap hari
9 Melatih anak untuk bisa makan sendiri Setiap hari
10 Membisikkan kata2 baik pada anak saat akan/sudah tidur Setiap hari

Mengurangi Penggunaan Kantong Plastik: Sebuah Solusi Kecil untuk Membuat Perubahan yang Besar

Ini sebenarnya adalah esai yang kubuat untuk mengikuti lomba pekan raya ilmiah di kampus tahun 2009, waktu itu temanya tentang global warning. Kebetulan..juri berbaik hati memberikan apresiasi kepada tulisan ini sebagai juara 2. Daripada dibiarkan mengendap begitu saja, padahal isinya sangat penting, lebih baik di-share kan… walaupun agak terlambat 😀

Setiap kali kita berbelanja di swalayan, pastinya kita akan diberi kantong plastik untuk membungkus barang belanjaan kita, bukan? Begitu pula jika membeli sesuatu di warung atau di pasar, kantong plastik juga pasti akan diberikan oleh sang pedagang. Jangankan itu semua, bahkan ketika membeli gorengan di pinggir jalan sekalipun, kantong plastik hampir selalu mengiringi bungkusan kertas gorengan tersebut. Sekarang coba bayangkan, bagaimana jika dalam satu hari, ada 1000 orang yang berbelanja di swalayan atau pasar di Bandung, katakanlah, berapa banyak sampah plastik yang akan dihasilkan dalam satu hari? Bagaimana dengan 7 hari? 1 bulan? 1 tahun? Itu hanya di kotaBandung saja. Coba kalikan juga dengan ratusan kota dan kabupaten se-Indonesia! Belum lagi jika dikalikan dengan ratusan negara yang menghuni planet bumi ini. Kini dapat terbayang, berapa total sampah plastik yang dihasilkan oleh seluruh penghuni bumi?

Dari 2000 ton sampah yang dihasilkan oleh warga Bandung setiap harinya, menurut anggota Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Sobirin Supardiyono, 5 %-nya, atau sekitar 100 ton, merupakan sampah plastik. Jika diasumsikan ukuran satu kantong plastik sebesar 50 Î 40 cm dengan berat 10 gram, maka sampah plastik kota Bandung per harinya setara dengan 200 kali luas lapangan sepakbola.

Di tingkat dunia sendiri, diperkirakan penggunaan kantong plastik telah mencapai angka 500 juta sampai satu milyar per tahunnya. Itu artinya, dalam satu menit ada satu juta plastik. Dan jika sampah-sampah plastik ini dibentangkan, maka dapat menutupi permukaan bumi sebanyak 10 kali lipat!

Ketidakmampuan kantong-kantong plastik untuk berdekomposisi secara sempurna dalam waktu singkat layaknya sampah organik, akan menyebabkan sampah-sampah kantong plastik ini terus menumpuk dari tahun ke tahun, jika kita tidak mulai mengurangi penggunaannya mulai dari sekarang. Perlu waktu 500-1000 tahun bagi sampah plastik ini untuk dapat terurai dengan sempurna oleh mikroorganisme tanah. Sekalipun itu terjadi, pencemaran tanah akibat dari partikel-partikel plastik tersebut tidak akan terhindarkan. Fakta tersebut menunjukkan nampaknya hanya dengan menimbun sampah-sampah plastik tersebut di dalam tanah bukanlah sebuah ide yang bagus.

Dengan membakarnya pun bukan merupakan solusi yang jitu untuk masalah ini. Kebanyakan plastik terbuat dari bahan PVC, dan ketika dibakar, maka ia akan mengeluarkan  zat di(2-ethylhexyl)adipate (DEHA). DEHA merupakan senyawa yang memiliki aktivitas mirip estrogen, yang jika berada dalam tubuh manusia justru akan mengganggu keseimbangan hormon estrogen yang sebenarnya, yang pada akhirnya akan menurunkan tingkat kesuburan pada wanita. Pada pria pun tidak jauh beda, senyawa yang satu ini menyebabkan sperma menjadi tidak subur, sehingga dapat mengakibatkan infertilitas (ketidaksuburan) pada pria. Menurut Made Arcana, ahli kimia dari Institut Teknologi Bandung, kantong plastik yang mengandung zat pewarna hitam, jika terkena panas (misalnya berasal dari gorengan), bisa terurai, dan terdegradasi menjadi bentuk radikal. Inilah yang disebut sebagai zat radikal bebas, yang dapat memicu tumbuhnya sel-sel kanker. Selain itu, zat ini dapat menyebabkan penyakit-penyakit lainnya seperti hepatitis, dan gangguan system saraf.

Itu baru sekelumit efek dari kantong plastik dipandang dari aspek kesehatan. Dalam kaitannya dengan pemanasan global (Global Warming), dari mulai proses pembuatan sampai pembuangan, sampah plastik ini menghasilkan gas rumah kaca ke atmosfer. Kegiatan produksinya saja, menghabiskan 12 juta barel minyak dan 14 juta pohon per tahunnya. Dan layaknya mata rantai yang saling bersambungan satu sama lain, gas CO2 tersebut akan menyebabkan bumi ini menjadi semakin hangat dalam artian negatif. Jika sudah terjadi pemanasan global seperti ini, maka es-es di kutub pun sedikit demi sedikit akan mencair. Kutub utara maupun selatan yang merupakan pengatur keseimbangan iklim di bumi ini pun tidak dapat menjalankan fungsinya sedemikian rupa.

Ujung-ujungnya akan seperti sekarang ini. Kita ambil contoh di Indonesia, 20 tahun yang lalu kita masih bisa menandai musim hujan yang bermula di bulan yang berakhiran -ber, yaitu September, dan diakhiri dengan bulan yang berakhiran -ret, yaitu Maret. Namun kini, dimulainya musim hujan bergeser ke Oktober atau November, dan penghujungnya pun tidak lagi pasti di bulan Maret, tapi dapat bergeser sebelumnya, di bulan Februari atau setelahnya di bulan April. Pergeseran seperti ini sering kali menciptakan musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya. Akibatnya, banyak daerah-daerah yang mengalami kekeringan yang berkepanjangan. Ketika musim hujan tiba pun, curah hujannya yang menjadi lebih tinggi daripada biasanya, menyebabkan banjir dimana-mana. Padahal, jika kita lihat 20 tahun ke belakang, jarang sekali terjadi banjir seperti sekarang ini.

Mata rantai ini akan terus berputar tanpa henti jika kita tidak memutus salah satu rantainya. Yang bisa kita lakukan adalah memutus mata rantai yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global ini. Dan jika kita usut kembali, ternyata salah satu penyebab terjadinya semua peristiwa ini adalah penumpukkan sampah plastik yang semakin tidak terkendali, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.

Penggunaan kantong plastik ini memang sudah menjadi gaya hidup orang-orang di hampir seluruh negara, tak terkecuali Indonesia. Karenanya, pasti akan sangat sulit untuk mengurangi kebiasaan itu. Sebenarnya, sudah mulai diperkenalkan plastik yang berbahan biodegradable, artinya terbuat dari bahan-bahan alami, seperti ketela pohon, dan tentunya dapat diuraikan dengan mudah oleh mikroorganisme tanah. Kelebihannya adalah, plastik dari jenis ini jelas lebih ramah lingkungan dari plastik polymer sintetis biasanya. Namun, kekurangannya, plastik ini tidak dapat bertahan lama, hanya dapat bertahan sekitar 10 hari. Selain itu, harganya yang masih 8-10 kali dibandingkan plastik konvensional, membuat para produsen menolak beralih dari plastik sintetis menjadi plastik yang biodegradable seperti ini.

Jika kita mencoba melihat ke luar, banyak negara lain yang sudah jauh terbelih dulu sadar akan bahaya penggunaan kantong plastik ini dan sudah beralih menggunakan tas bawaan sendiri ketika hendak berbelanja. Amerika Serikat sudah dari dulu beralih ke kantong belanjaan yang terbuat dari kertas. Pemerintah Australia pun sudah menyerukan setiap super market untuk melakukan hal yang sama. Di Korea Selatan, pemerintahnya sudah mulai menginisiasi untuk memproduksi plastik biodegradable. Lain lagi di Singapura, mulai April 2007, negara itu sudah mencanangkan satu hari yang bertema BYOB atau “Bring Your Own Bag” sebagai salah satu bentuk kepedulian mereka terhadap lingkungan. Jadi, pada hari itu, mereka diharuskan untuk membawa kantong belanjaan sendiri, dan bagi yang tidak membawa, diharuskan untuk membayar 30 sen yang akan digunakan untuk kegiatan lingkungan. Negara-negara lain pun tidak ketinggalan. Filipina, Australia, Hongkong, Taiwan, Irlandia, Skotlandia, Prancis, Swedia, Finlandia, Denmark, Jerman, Swiss, Tanzania, Bangladesh, dan Afrika Selatan juga sudah mulai mengkampanyekan pengurangan konsumsi plastk ini.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Memang, sudah ada beberapa supermarket yang mulai menerapkan cara menjual kantong belanjaan yang dapat dipakai seterusnya oleh si pembeli, namun, kembali lagi ke masalah gaya hidup yang sudah mendarah daging, kantong itu sering kali tidak dibawa untuk belanja yang selanjutnya, sehingga ujung-ujungnya mereka akan menggunakan kantong plastik lagi.

Kebiasaan tersebut bukan tidak mungkin untuk dirubah. Mulailah dengan mengurangi penggunaan kantong plastik sehari-hari. Tolaklah pemberian kantong plastik ketika sedang berbelanja. Jika belanjaan kita hanya sedikit, bukankah kita bisa membawanya sendiri? Jika ternyata memang bawaannya banyak, mengapa tidak mambawa kantong tersendiri dari rumah? Mungkin, pada awalnya hal itu akan terlihat aneh dan repot. Tapi, lama kelamaan orang akan terbiasa, dan siapa tahu hanya dengan melihat, orang lain dapat mengikuti jejak kita? Bukankah sebuah perubahan yang besar dapat dimulai dari hal-hal kecil yang kita lakukan sehari-hari?

Tak dapat dipungkiri, pemerintah memegang peranan yang sangat penting dalam upaya pengurangan konsumsi plastik ini. Pemerintah Indonesia dalam hal ini, sangat diharapkan untuk mengikuti negara-negara lain yang sudah terlebih dahulu mengurangi pemakaian kantong plastik di antara warganya. Mungkin, pemerintah dapat secara tegas melarang penggunaan kantong-kantong plastik di semua supermarket se-Indonesia. Pengalihan dari kantong plastik menjadi kantong kertas seperti di Amerika tidak dianjurkan, mengingat untuk membuat kertas itu sendiri diharuskan untuk menebang jutaan kayu lainnya. Jadi, cara yang paling efektif adalah dengan menyarankan warganya untuk menggunakan tas belanjaan yang terbuat dari kain yang dibawa oleh masing-masing setiap akan membeli sesuatu.

Tentu saja, perubahan itu dapat tercipta jika ada kerjasama yang baik dengan warganya. Hanya diperlukan sebuah tekad dan kepedulian untuk memulai merubah itu semua. Sebuah solusi yang simple, namun, jika seluruh warga Indonesia melakukan hal yang serupa, bayangkan perubahan seperti apa yang akan tercipta?

Sementara di sekitar kita

Tulisan ini kubuat sekitar tahun 2009-an..awalnya untuk mengisi salah satu kolom di buletin kampus, eh..ga sengaja ditemuin lagi..jadi pengen diposting… ;D

Sebelum kita mengeluh betapa jauhnya perjalanan yang harus kita tempuh dengan berjalan kaki

Bersyukurlah,,karena setidaknya kita masih bisa mempergunakan kedua kaki kita untuk berjalan

Sementara di sekitar kita..

Seorang pria yang kehilangan kakinya berjalan terseok-seok di tengah kerumunan orang

Hanya mengandalkan kedua tangannya

Sebelum kita mengeluh betapa gemuknya badan kita

Bersyukurlah,,karena setidaknya gizi kita terpenuhi

Sementara di sekitar kita..

Tergeletak seorang anak yang tubuhnya hanya berbalut tulang

Mengharapkan seteguk susu yang tak pernah bisa ia dapatkan

Sebelum kita mengeluh betapa lambatnya kita dalam berpikir

Bersyukurlah,,karena setidaknya kita masih diberi kemampuan untuk itu

Sementara di sekitar kita

Seorang anak berkebutuhan khusus harus bersekolah terpisah dengan teman-teman sebayanya

Menjalankan aktivitasnya dengan bantuan orang lain

jika kita merasa diri kita kurang beruntung dalam beberapa hal

maka sadarilah,,bahwa sesungguhnya ada yang lebih tidak beruntung daripada kita

jika kita selalu mengeluh dengan apa yang kita miliki sekarang

maka sadarilah,,bahwa sesungguhnya ada orang yang tidak pernah mengeluh akan kekurangan yang mereka miliki

jika saja kita mau melihat sekitar kita…

apakah kita akan tetap mengeluh..?