NHW#9 Bunda sebagai Agen Perubahan

Akhirnya MIP ini memasuki minggu terakhir, tidak terasa sudah dua bulan lebih kami mendapat ilmu tentang bagaimana menjadi ibu profesional. Apa setelah ini kami sudah bisa disebut Ibu Profesional? Tentu belum. Masih ada 4 tahapan ilmu lagi yang masing-masing lamanya 1 tahun, Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif, dan Bunda Shaleha.

Materi terakhir ini merupakan gambaran tentang Bunda Shaleha. Bagaimana seorang wanita bisa berperan juga menjadi agen perubahan di lingkungan tempat tinggalnya dengan memanfaatkan passion yang ia miliki. Kami dituntut untuk lebih peka dan berempati terhadap sekitar dan menemukan sebetulnya apa isu sosial yang ada di sekitar kita yang bisa kita bantu selesaikan dengan ilmu atau passion yang kita miliki.

Saya pribadi sangat concern tentang gizi anak, terutama ASI dan MPASI. Saya banyak mengobrol dengan rekan kerja di RS yang juga sama-sama memiliki anak, banyak dari mereka yang kesulitan dalam memberikan ASI ekslusif kepada buah hati mereka. Mereka sebagai perawat dan dokter yang juga sama-sama berkerja dalam shift mengaku merasa kesulitan dalam memompa ASI saat bekerja sehingga kebutuhan ASI di rumah saat ibu sedang bekerja tidak terpenuhi dan akhirnya anaknya harus dibantu tambahan susu formula. Saya sering sedih mendengarnya. Semenjak saya melahirkan, saya sudah bertekad untuk memberikan ASI ekslusif untuk anak saya. Tidak mudah memang, penuh tantangan menurut saya. Dimulai dari belajar pumping semenjak cuti, menabung ASI selama cuti, setelah mulai masuk kerja jadi ibu-ibu rempong karena selalu membawa-bawa tas extra berisi perlengkapan perang pumping ASI, break tiap 2 jam untuk pumping, stressnya kejar tayang (apalagi dulu anak sempat ditinggal untuk prajab 1 bulan), pengorbanan suami untuk antar jemput ASI selama prajab dulu, semua itu dilakukan demi tercapainya ASI ekslusif. Dan alhamdulillah berhasil, bahkan sampai 1 tahun. Sampai sekarang pun saya masih membawa perlengkapan perang pumping ketika bekerja, padahal anak saya sudah 18 bulan.

Banyak rekan-rekan saya yang mengeluh betapa sedikitnya ASI mereka atau sulitnya meluangkan waktu untuk memompa. Hal itu yang sebagian membuat mereka terhenti di tengah-tengah. Banyak yang seperti itu karena tidak tahu ilmunya. Saya berpikir, seandainya semua wanita tahu ilmu tentang manajemen ASI pada ibu bekerja, sebetulnya kami pasti bisa memberikan ASI ekslusif kepada anak-anak kita. Tapi sayangnya tidak semua tahu. Oleh karena itu, saya ingin sekali menjadi konselor Laktasi dan memberikan penyuluhan kepada rekan-rekan kerja pada khususnya, dan masyarakat umum pada umumnya untuk kembali menekankan pentingnya ASI ekslusif beserta bagaimana cara mengakali supaya anak kita tetap bisa mendapatkan ASI ekslusif sementara kita tetap bekerja. Dengan passion saya di public health yang mengharuskan untuk bisa public speaking memberikan penyuluhan di depan orang banyak, saya ingin berkontribusi kepada lingkungan saya dengan cara ini.

Ini baru salah satu isu sosial yang saya perhatikan, masih banyak isu sosial lain yang juga ingin saya bantu, tapi karena keterbatasan waktu dan tenaga, sementara yang saya bahas baru ini dulu. Jika dimasukkan ke dalam tabel, mungkin seperti ini jadinya:

social venture

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s