NHW#6 Belajar menjadi Manajer Keluarga Handal

Seperti yang saya duga sebelumnya, materi tentang ini pasti akan muncul. Salah satu materi yang paling saya takutkan, karena saya pribadi menyadari saya memiliki kekurangan yang sangat besar dalam bidang manajemen, baik itu manajemen waktu, diri, pekerjaan, atau yang lainnya. Saya tipikal orang spontan, jarang membuat perencanaan dalam hidup. Sebetulnya saya adalah seorang dreamer, yang punya banyak mimpi dan keinginan. Banyak pencapaian yang ingin saya raih, bukan melulu soal materi sebenarnya. Tapi ya..itu baru sebatas angan-angan  dan belum dibuat step by step menuju ke sananya. Baru di IIP ini saya merasa “dipaksa” untuk menjadi terorganisir dengan membuat perencanaan-perencanaan tertulis. Saya kagum pada orang-orang yang selalu membuat to do list dan secara konsisten menjalaninya. Saya tidak pernah berhasil melakukan itu. Sepertinya buku catatan/agenda bukan teman baik saya..hehe. Saya merasa itu terlalu menyusahkan dan akhirnya menjadi tidak fleksibel. Ditambah lagi dengan sulitnya menjaga konsistensi. Bukan artinya saya sama sekali tidak memiliki rencana dalam menjalani aktivitas sehari-hari sebetulnya, hanya saja biasanya saya lebih nyaman untuk menggambarkan to do list di dalam kepala saja, tidak dituliskan. Resikonya, suka banyak lupanya memang.

Di materi 6 ini kita diingatkan kembali bahwa ibu berperan sebagai manajer keluarga. Baik ibu yang bekerja di ranah domestik maupun publik, peran sebagai manajer rumah tangga tetap dipegang oleh kita. Oleh karena itu, kita harus tau ilmunya, pandai menentukan prioritas, mana yang bisa dikerjakan oleh kita, mana yang bisa didelegasikan. Selama 2 tahun lebih saya menikah, saya belum sepenuhnya bisa merasakan dan menjalankan peran sebagai manajer keluarga. Karena saya dan suami masih tinggal di rumah orangtua, banyak peran seorang manajer yang masih dipegang oleh ibu saya. Tugas-tugas rumah tangga pun sudah didelegasikan ke ART. Ditambah lagi sekarang sedang LDM-an dengan suami, walhasil sebetulnya tugas utama saya ya mengasuh anak, walaupun tidak bisa full time.

Agak sulit sebetulnya bagi saya untuk membuat dan menjalankan aktivitas rutin karena jadwal saya sebagai dokter yang bekerja mengikuti shift tidak selalu teratur. Tapi jika ditanya mana aktivitas yang penting dan tidak penting bagi saya, maka bagi saya:

Aktivitas penting:

  1. Bermain bersama anak. Ini selalu saya sempatkan setiap harinya, tergantung jadwal shift-nya. Jika shift pagi, saya sempatkan sore sampai menemani anak tidur. Jika shift sore maka kegiatan bermain bersama di pagi hari sebelum berangkat. Jika shift malam saya punya waktu seharian untuk bermain bersama anak.
  2. Bekerja di RS. Saya masih memasukkan ini ke dalam aktivitas yang dianggap penting karena saya masih belum bisa meninggalkan pekerjaan saya dengan pertimbangan kewajiban untuk mengamalkan ilmu dan kebutuhan keluarga.
  3. Memasak. Setidaknya untuk anak. Sesibuk apapun saya, saya berusaha untuk selalu memastikan bahwa asupan gizi anak saya terpenuhi oleh tangan saya sendiri. Waktunya kadang di pagi hari atau malam hari setelah pulang dari RS.

Aktivitas tidak penting:

  1. Main Sosmed. Awalnya seringkali hanya untuk refreshing sejenak, tapi malah seringkali keterusan. Aktivitas tidak penting no.1 ini memang masih sulit untuk ditinggalkan sepenuhnya
  2. Mencuci, menyetrika, beberes rumah. Berhubung saya dan ibu saya masih bekerja, jadi otomatis pekerjaan rumah ini kami delegasikan ke ART yang sekaligus berfungsi sebagai pengasuh anak juga.

Aktivitas tidak penting saya dirangkum jadi 2 saja, karena anak dari aktivitas no.2 kan sebetulnya banyak. Jika ditanya sehari-hari, waktunya lebih banyak dihabiskan untuk aktivitas yang mana, sepertinya bekerja masih lebih dominan, walaupun saya berusaha menyeimbangkannya dengan memperbanyak waktu dengan anak.

Agak sulit untuk “mengandangkan” aktivitas rutin dan membuat jadwal harian, karena seperti yang saya bilang sebelumnya, jadwal saya tidak sama setiap harinya. Secara garis besar, jadwalnya mungkin seperti ini:

Jika dinas pagi: berangkat dari rumah jam 6.30 -> Kerja di rumah sakit sampai jam 14.30 -> Sampai rumah jam 16.00 -> Mandi,dsb, baru bisa bersama anak jam 16.30-> seterusnya sampai anak tidur jam 20.00 -> bikin makanan untuk esok hari

Jika dinas sore -> dari anak bangun sampai jam 12.00 saya yang pegang (disempatkan bikin makanan kalau anak tidur) -> siap-siap berangkat-> kerja sampai jam 21.30 -> sampai rumah jam 22.00 -> istirahat

Jika dinas malam -> polanya mirip sama dinas sore dengan waktu yang lebih panjang.

Ini sebetulnya salah satu kesulitan saya untuk berubah menjadi lebih terorganisir. Karena jadwal kerja saya yang tidak menentu, terpaksa saya yang harus menyesuaikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s