NHW#3 Membangun Peradaban dari dalam Rumah

Semakin ke sini materi MIP semakin menohok saja. NHW nya pun semakin menantang. Keluarga sebagai fondasi peradaban. Mencoba mencari misi spesifik dalam hidup, terutama setelah berkeluarga. Ini yang masih agak bingung, saya masih meraba-raba jawabannya sampai sekarang.

 

Sebetulnya dari sejak kuliah saya sudah membayangkan akan dibawa kemana keluarga saya dan akan jadi orangtua seperti apa nantinya. Menyadari saya banyak kekurangan di bidang tertentu, saya pun mencari pasangan yang bisa melengkapi kekurangan saya dengan kelebihannya sehingga harapannya keluarga kami akan berjalan dengan seimbang saling melengkapi. Dan inilah suami saya. Sosok yang begitu terbuka sangat berkebalikan dengan saya yang terkesan pendiam dan tertutup. Dalam keseharian kami beliau yang lebih banyak aktif bicara, sementara saya menjadi pendengar setianya..hehe. Beliau memang unggul dalam bahasa lisan, tapi mengaku kurang begitu luwes dalam bahasa tulisan. Makanya begitu saya memberinya surat cinta..komentarnya tidak banyak. Maklum, posisi kami skrg yang berjauhan antar benua sedikit membatasi komunikasi, beliau menanggapinya lewat WA. Agak terharu katanya..hehe. Dan seperti biasa..beliau malah merendah. Suami bilang, InsyaAllah kita bisa mencapai tujuan itu asalkan terus ikhtiar, berdoa dan tidak lupa terus berbuat baik kepada orangtua. Suami memang selalu wanti2 untuk terus berbuat baik kepada orangtua. Beliau percaya asalkan kita sudah mendapat ridho orangtua maka segalanya akan dilancarkan.

 

Saya jadi berpikir, dengan kami yang sekarang masih tinggal bersama orangtua, mungkin memang kami diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bisa berbuat baik lebih sering dan lebih banyak kepada mereka. Keinginan saya dari awal menikah adalah tinggal sendiri terpisah dari orangtua. Selain karena tidak mau merepotkan, kami juga bebas menetapkan peraturan rumah tangga kami sendiri tanpa ada intervensi dari orang lain. Namun setelah anak saya lahir, kondisinya tidak menungkinkan untuk kami tinggal sendiri karena saya dan suami dua2nya bekerja. Akhirnya, saya kembali ke rumah orangtua. Beberapa hal yang sempat dikhawatirkan kalau tinggal bersama orangtua sempat terjadi. Perbedaan zaman pasti membuat perbedaan dalam pola mendidik anak. Orangtua zaman dulu cenderung restriktif pada anak dengan banyak membuat hambatan dan larangan, sementara saya termasuk yang berpendapat, biarkan anak untuk mengeksplor lingkungannya. Ini jadi ujian yang cukup berat, bagaimana saya bisa tetap menerapkan prinsip saya dan menjelaskan kepada orangtua dengan cara yang santun. Saya masih harus banyak belajar untuk ini. Di luar itu semua, saya bersyukur masih bisa diizinkan tinggal bersama orangtua, karena dengan begini saya masih punya kesempatan untuk berbakti, anak saya pun menjadi dekat dengan kakek neneknya. Bahkan selama ayahnya tidak ada, perannya dengan sempurna tergantikan oleh kakeknya di rumah..hehe. Mungkin suatu saat ketika ada rezekinya kami akan memiliki rumah sendiri. Tapi sampai saat itu tiba, manfaatkan saja waktu dan kesempatan yang ada sekarang untuk lebih banyak berbuat baik kepada orangtua.

 

Alhamdulillah kami dikaruniai seorang putri perempuan yang cantik dan lincah. Afroza namanya. Di usianya yang masih 17 bulan, sepertinya ke arah mana bakatnya sudah mulai terlihat. Sejak bayi, perkembangan motorik kasarnya sangat menonjol. Ia sudah bisa tengkurap di usia 2,5 bulan. Duduk sendiri 5 bulan 3 minggu, merangkak 6 bulan, dan berjalan 10 bulan 3 minggu. Jangan ditanya lagi bagaimana aktifnya malaikat kecil yang satu ini. Ia hampir tak mengenal duduk manis karena maunya bergerak terus. Belakangan malah ia sedang suka sekali memanjat dan berusaha melompat2. Dari sini saya berpikir..mungkin memang kecerdasan kinestetiknya yang dominan. Memiliki anak dengan kecerdasan kinestetik tentunya memerlukan tenaga ekstra karena orangtuanya harus mampu mengimbangi keaktifan si anak sehingga energi dan bakatnya bisa tersalurkan dengan optimal.

 

Seringkali saya masih ragu apakah saya bisa menjalankan peran saya dalam membangun peradaban dengan baik atau tidak. Anak yang masih butuh banyak perhatian sementara ibunya masih harus bekerja ditambah lagi dengan harus tinggal berjauhan dengan suami untuk sementara waktu, terpaksa tinggal dengan orangtua dulu..itu semua tantangan yang saya hadapi saat ini. Saya yang idealis rasanya tidak sanggup hanya menyerah pada keadaan dan tidak memberikan yang terbaik terutama untuk anak saya. Sekalipun saya masih memerankan peran ganda saya tetap ingin selalu menyediakan gizi terbaik melalui masakan2 homemade sesibuk apapun saya. Saya juga ingin sebisa mungkin membersamai anak saya, menyaksikan tumbuh kembangnya, memberikannya stimulus2 yang diperlukan, memberikannya kasih sayang, dan mendidiknya untum menjadi insan yang berakhlak mulia. Saya bersama suami dengan kelebihan dan kekurangan kami saling melengkapi dalam bekerja sama mendidik anak, menghasilkan generasi rabbani yang dirindukan negeri ini.

 

InsyaAllah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s