NHW#5 Belajar bagaimana Caranya Belajar

Materi minggu ke 5 di MIP ini tentang Belajar bagaimana Caranya Belajar. Agak loading dulu memang ketika pertama kali baca. Sebelum kita mengajarkan sesuatu pada anak kita, terlebih dahulu orangtuanya yang harus belajar bagaimana cara belajar yang betul. Bukan hanya mempelajari materi semata, tapi yang paling penting adalah membentuk pola pikir tentang belajar itu sendiri, agar nantinya pada anak kita tumbuh kecintaan untuk terus belajar, karena membuat bisa itu mudah, sementara membuat suka itu adalah tantangan.

Untuk NHW 5 kali ini kita diminta untuk mempraktekan langsung membuat desain pembelajaran ala kita sendiri. Disesuaikan dengan jurusan ilmu yang akan kita pelajari masing2. Tak ada format khusus sebetulnya. Tapi justru karena tidak ada contoh jadi agak terkesan abstrak untuk saya pribadi, berhubung saya bukan orang pendidikan yang familiar dengan istilah tersebut. Saya coba membuatnya menggunakan petunjuk dari Bu Septi 6W+1H.

Desain Pembelajaran

1. What (ilmu apa yang akan dipelajari)

Ilmu tentang Keluarga. Ada beberapa cabang ilmunya, diantaranya parenting dan manajemen rumah tangga. Manajemen rumah tangga ini dibagi beberapa cabang lagi yaitu keuangan, organizing house, perdapuran, health and beauty, psikologi rumah tangga.

2. Why (tujuan mempelajari ilmu ini/misi spesifik hidup)

Untuk menjadi ibu terbaik untuk anak2 dan mendapat ridho suami

3. When + Which one (tahapan ilmu yang akan dipelajari sesuai prioritas dan waktunya)
1. Parenting : sekarang sampai akhir tahun 2017
2. Psikologi rumah tangga : Januari-Juni 2018
3. Organizing house : Juli-September 2018
4. Keuangan : Oktober-Desember 2018
5. Perdapuran : Januari-Juni 2019
6. Health and beauty : Juli-Desember 2019

4. Who (pada siapa akan belajar ilmu2 tersebut)
Jelas pada pakarnya masing2..hehe

5. Where (di mana akan mempelajari ilmu2 tersebut)

Sepertinya dengan belajar di IIP saya bisa mendapatkan sebagian besar ilmu yang saya butuhkan, seperti parenting lewat bunsay dan manajemen rumah tangga lewat bunda cekatan. Sementara untuk urusan perdapuran saya ada rencana untuk mengambil kursus masak walaupun belum tau tempatnya akan di mana. Sisanya, sepertinya saya akan belajar dari buku dan seminar2 jika ada.

6. How (metode belajar yg akan digunakan)
1. Parenting : baca buku, mengikuti materi dari IIP, baca2 artikel internet, seminar (jika ada), sharing dengan ibu2 lain, praktek..praktek..praktek
2. Psikologi rumah tangga : baca buku/artikel, sharing, dari IIP (ada ga ya?)
3. Organizing house : baca buku/artikel/majalah, IIP (?), praktek
4. Keuangan : baca buku/artikel, seminar (jika ada), praktek
5. Perdapuran : belajar di tempat kursus, sering baca buku resep dan video resep, praktek
6. Health and beauty : baca buku/artikel, lihat video tutorial, praktek

Baru itu aja yang kepikiran. Semoga sedikit demi sedikit bisa terlaksana. Saya menaruh harapan besar dari IIP untuk ini sebetulnya. Semoga sesuai dengan harapan nantinya. Amin.

Advertisements

NHW#4 Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Belum selesai merenungi materi ke-3 tentang pencarian misi hidup, materi ke-4 tentang mendidik dengan kekuatan fitrah sudah muncul. Inti dari materi ke-4 ini adalah kita perlu mengenali fitrah-fitrah apa saja yang dimiliki oleh seorang anak, sehingga kita bisa mendidik anak-anak kita sesuai dengan fitrahnya, bukan malah menjejali semua ilmu sesuai dengan target2 yang kita inginkan. Kenali fitrahnya, kembangkan bakatnya sesuai fitrah, serta temani selalu anak kita dalam kesehariannya.

NHW 4 nya membuat kita untuk merenungkan kembali NHW kita sebelumnya. Apakah setelah menerima materi ke-4 ini kita masih tetap akan mempertahankan jurusan ilmu yang kita pilih di NHW1. Jujur agak bingung sebetulnya. di NHW1 saya memilih jurusan manajemen waktu, karena memang saya merasa itulah kekurangan saya yang paling besar dan itu yang memang ingin saya pelajari. Tapi begitu di NHW 4 jadi malah bingung. Dari yang saya tangkap, maksud dari NHW 4 ini mempertanyakan, apakah jurusan ilmu yang dulu kita pilih sesuai dengan misi hidup kita. Jika memang begini, sepertinya saya dulu salah ambil jurusan..hehe. Tidak sepenuhnya salah sebetulnya, . Saya tetap harus mempelajari tentang manajemen waktu. Tapi sepertinya itu hanya ilmu pendukung disamping ilmu lainnya yang lebih utama.

Mendengar kata tentang visi & misi hidup sepertinya terkesan grandeur. Saya lebih suka menggunakan istilah penggantinya, yaitu cita-cita. Jika ditanya apa visi hidup saya, saya akan bingung menjawabnya, tapi jika ditanya apa cita-cita saya dalam hidup, saya ingin menjadi seorang ibu yang baik. Hanya itu, walaupun terkesan terlalu abstrak. Saya tidak berambisi menjadi seorang dengan karir yang cemerlang, saya tidak mengejar gelar yang panjang, saya hanya ingin menjadi wanita terbaik untuk keluarga. Oleh karenanya setiap kali mendapat ilmu yang berhubungan dengan keluarga, entah itu parenting, manajemen keuangan keluarga, bahkan tentang resep masakan sekalipun, saya pasti excited.

Apakah untuk menjadi wanita terbaik keluarga seorang wanita harus fokus saja menjadi ibu rumah tangga? Saya termasuk yang berpendapat, idealnya seperti itu, walaupun tidak menjamin seorang ibu rumah tangga selalu bisa menjadi ibu yang terbaik, jika ia tidak tahu ilmunya. Begitu pula bukan berarti seorang ibu bekerja pasti tidak bisa menjadi ibu yang baik. Asalkan kita menguasai ilmunya dan pandai memainkan peran dengan baik. Begitu pula posisi saya sekarang, saya masih belum bisa meninggalkan pekerjaan saya sebagai seorang dokter sekaligus PNS. Maka dari itu, tugas saya sekarang adalah menjalankan ketiga peran (sebagai istri, ibu, dan dokter) dengan semaksimal mungkin. Jika ditanya misi hidup, itu mungkin misi hidup saya dalam jangka pendek sampai menengah, karena dalam jangka panjang saya juga memiliki cita-cita menjadi seorang promotor kesehatan, terutama di bidang gizi dan kesehatan anak. Sepertinya lebih enak dibuat dalam bentuk tabel ya..

timetable

Sekilas mirip kurikulum di IIP ya..memang..hehe. Makanya saya sangat excited begitu tahu ada IIP ini karena memang sesuai dengan yang saya butuhkan. Jani, sedikit mengadopsi kurikulum dari IIP takpapa kan yaa..hehe. Yaa..semoga saja timetable ini bisa berjalan sesuai rencana. Amin.

NHW#3 Membangun Peradaban dari dalam Rumah

Semakin ke sini materi MIP semakin menohok saja. NHW nya pun semakin menantang. Keluarga sebagai fondasi peradaban. Mencoba mencari misi spesifik dalam hidup, terutama setelah berkeluarga. Ini yang masih agak bingung, saya masih meraba-raba jawabannya sampai sekarang.

 

Sebetulnya dari sejak kuliah saya sudah membayangkan akan dibawa kemana keluarga saya dan akan jadi orangtua seperti apa nantinya. Menyadari saya banyak kekurangan di bidang tertentu, saya pun mencari pasangan yang bisa melengkapi kekurangan saya dengan kelebihannya sehingga harapannya keluarga kami akan berjalan dengan seimbang saling melengkapi. Dan inilah suami saya. Sosok yang begitu terbuka sangat berkebalikan dengan saya yang terkesan pendiam dan tertutup. Dalam keseharian kami beliau yang lebih banyak aktif bicara, sementara saya menjadi pendengar setianya..hehe. Beliau memang unggul dalam bahasa lisan, tapi mengaku kurang begitu luwes dalam bahasa tulisan. Makanya begitu saya memberinya surat cinta..komentarnya tidak banyak. Maklum, posisi kami skrg yang berjauhan antar benua sedikit membatasi komunikasi, beliau menanggapinya lewat WA. Agak terharu katanya..hehe. Dan seperti biasa..beliau malah merendah. Suami bilang, InsyaAllah kita bisa mencapai tujuan itu asalkan terus ikhtiar, berdoa dan tidak lupa terus berbuat baik kepada orangtua. Suami memang selalu wanti2 untuk terus berbuat baik kepada orangtua. Beliau percaya asalkan kita sudah mendapat ridho orangtua maka segalanya akan dilancarkan.

 

Saya jadi berpikir, dengan kami yang sekarang masih tinggal bersama orangtua, mungkin memang kami diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bisa berbuat baik lebih sering dan lebih banyak kepada mereka. Keinginan saya dari awal menikah adalah tinggal sendiri terpisah dari orangtua. Selain karena tidak mau merepotkan, kami juga bebas menetapkan peraturan rumah tangga kami sendiri tanpa ada intervensi dari orang lain. Namun setelah anak saya lahir, kondisinya tidak menungkinkan untuk kami tinggal sendiri karena saya dan suami dua2nya bekerja. Akhirnya, saya kembali ke rumah orangtua. Beberapa hal yang sempat dikhawatirkan kalau tinggal bersama orangtua sempat terjadi. Perbedaan zaman pasti membuat perbedaan dalam pola mendidik anak. Orangtua zaman dulu cenderung restriktif pada anak dengan banyak membuat hambatan dan larangan, sementara saya termasuk yang berpendapat, biarkan anak untuk mengeksplor lingkungannya. Ini jadi ujian yang cukup berat, bagaimana saya bisa tetap menerapkan prinsip saya dan menjelaskan kepada orangtua dengan cara yang santun. Saya masih harus banyak belajar untuk ini. Di luar itu semua, saya bersyukur masih bisa diizinkan tinggal bersama orangtua, karena dengan begini saya masih punya kesempatan untuk berbakti, anak saya pun menjadi dekat dengan kakek neneknya. Bahkan selama ayahnya tidak ada, perannya dengan sempurna tergantikan oleh kakeknya di rumah..hehe. Mungkin suatu saat ketika ada rezekinya kami akan memiliki rumah sendiri. Tapi sampai saat itu tiba, manfaatkan saja waktu dan kesempatan yang ada sekarang untuk lebih banyak berbuat baik kepada orangtua.

 

Alhamdulillah kami dikaruniai seorang putri perempuan yang cantik dan lincah. Afroza namanya. Di usianya yang masih 17 bulan, sepertinya ke arah mana bakatnya sudah mulai terlihat. Sejak bayi, perkembangan motorik kasarnya sangat menonjol. Ia sudah bisa tengkurap di usia 2,5 bulan. Duduk sendiri 5 bulan 3 minggu, merangkak 6 bulan, dan berjalan 10 bulan 3 minggu. Jangan ditanya lagi bagaimana aktifnya malaikat kecil yang satu ini. Ia hampir tak mengenal duduk manis karena maunya bergerak terus. Belakangan malah ia sedang suka sekali memanjat dan berusaha melompat2. Dari sini saya berpikir..mungkin memang kecerdasan kinestetiknya yang dominan. Memiliki anak dengan kecerdasan kinestetik tentunya memerlukan tenaga ekstra karena orangtuanya harus mampu mengimbangi keaktifan si anak sehingga energi dan bakatnya bisa tersalurkan dengan optimal.

 

Seringkali saya masih ragu apakah saya bisa menjalankan peran saya dalam membangun peradaban dengan baik atau tidak. Anak yang masih butuh banyak perhatian sementara ibunya masih harus bekerja ditambah lagi dengan harus tinggal berjauhan dengan suami untuk sementara waktu, terpaksa tinggal dengan orangtua dulu..itu semua tantangan yang saya hadapi saat ini. Saya yang idealis rasanya tidak sanggup hanya menyerah pada keadaan dan tidak memberikan yang terbaik terutama untuk anak saya. Sekalipun saya masih memerankan peran ganda saya tetap ingin selalu menyediakan gizi terbaik melalui masakan2 homemade sesibuk apapun saya. Saya juga ingin sebisa mungkin membersamai anak saya, menyaksikan tumbuh kembangnya, memberikannya stimulus2 yang diperlukan, memberikannya kasih sayang, dan mendidiknya untum menjadi insan yang berakhlak mulia. Saya bersama suami dengan kelebihan dan kekurangan kami saling melengkapi dalam bekerja sama mendidik anak, menghasilkan generasi rabbani yang dirindukan negeri ini.

 

InsyaAllah

NHW#2 Indikator Profesionalisme Perempuan

Materi kedua di MIP#3 ini adalah tentang Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga. Menjadi seorang Ibu Profesional artinya menjadi seorang perempuan yang bangga akan profesinya sebagai pendidik utama anak-anaknya serta senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu. Tentunya ilmu untuk menjadi seorang ibu profesional pastilah tidak mudah. Membutuhkan waktu sepanjang hayat dan kerja keras serta ikhlas. Di IIP ilmu-ilmu tersebut dirangkum dalam 4 level:

  1. Bunda Sayang, yang akan kita ikuti setelah lulus kelas matrikulasi ini. Di kelas ini, akan diajarkan ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya.
  2. Bunda Cekatan. Di level ini lebih akan diajarkan bagaimana meningkatkan kualitas diri dalam hal mengelola rumah tangga dan keluarganya, seperti mengelola keuangan, kesehatan, dll.
  3. Bunda Produktif. Level selanjutnya ini para ibu akan belajar untuk bisa menemukan misi spesifik dalam hidupnya dan menjadi seorang ibu yang produktif tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.
  4. Bunda Saleha. Level tertinggi di IIP ini akan mengajarkan ibu-ibu agar bisa menjadi agen perubahan di masyarakat, sehingga bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk sekitarnya.

Membayangkannya saja sudah membuat excited. Tak sabar rasanya untuk bisa belajar semua ilmu-ilmu tersebut. Tapi seperti yang Ibu Septi bilang, pelajarannya harus diikuti pelan-pelan dari awal, jangan loncat-loncat karena dikhawatirkan bisa ada ketimpangan nantinya.

Ok..mari kita jalani satu-satu..slowly but sure. NHW#2 kali ini kita diminta untuk membat daftar checklist indikator seorang perempuan dapat dikatakan profesional. Indikator-indikator ini dibuat dari 3 sudut pandang, pertama sebagai seorang individu, seorang istri, dan seorang ibu.

Hmm..berarti dalam pembuatan NHW#2 kali ini aku harus konsultasi dulu dengan suami, pikirku. Walaupun sebetulnya aku tidak berharap banyak akan diberi jawaban oleh pak suami,  mengingat sifatnya yang memang tidak pernah menuntut. Begitu ditanya beliau maunya aku seperti apa/harus ngapain supaya beliau bahagia, eh..malah ngasih jawaban yg unpredictable..hehe. Walhasil harus muter otak lagi, berkreasi sendiri menentukan indikatornya. Untuk indikator sebagai ibu, berhubung anakku masih 17 bulan yang belum bisa ditanya, ya akhirnya mengarang lagi..hehe.

Berikut indikator2 yang baru kepikiran olehku, mungkin ke depannya akan ditambah kalau ada ide lagi, tapi yang jelas harus selalu dievaluasi. Yosh!!

No Indikator Frekuensi
Sebagai Individu
1 Membaca buku seputar rumah tangga/parenting/kesehatan 1 buku per bulan
2 Mengurangi frekuensi nonton film Maksimal 2 jam seminggu
3 Makan bergizi tepat waktu 3 kali sehari
4 Shalat Dhuha Min.3 x seminggu
5 Mengurangi buka aplikasi facebook Max. 15 menit perhari
Sebagai Istri
1 Menyiapkan kopi&sarapan di pagi hari Min. 3x seminggu (setelah suami pulang ke Indo)
2 Tidak memegang HP saat “together time” bersama suami Setiap hari

(setelah suami pulang ke Indo)

3 Mengobrol via WA Setiap hari
4 Mengobrol via telepon Min. 3x seminggu
5 Memijat suami ketika kelelahan Min.1x seminggu (setelah suami pulang ke Indo)
6 Mengobrol santai berdua Setiap hari min.30 menit (setelah suami pulang ke Indo)
7 Mendoakan suami dalam setiap sholat Setiap hari
Sebagai Ibu
1 Menyiapkan makanan dan cemilan bergizi Setiap hari
2 Bermain bersama anak Setiap hari minimal 1 jam
3 Membacakan cerita sebelum tidur Min 3x seminggu
4 Meminimalisir penggunaan gadget pada anak Max 30 menit tiap hari
5 Menyiapkan permainan2 baru untuk anak Min. 1 kali seminggu
6 Mengajak anak jalan-jalan/tamasya Min. 1 kali sebulan
7 Mendoakan anak dalam setiap sholat Setiap hari
8 Membiasakan kata2 ajaib pada anak (maaf/terima kasih/tolong) Setiap hari
9 Melatih anak untuk bisa makan sendiri Setiap hari
10 Membisikkan kata2 baik pada anak saat akan/sudah tidur Setiap hari