After All these Years

It’s been more than 4 years ago since the last time I wrote here. Banyak momen yang terjadi dalam kurun waktu tersebut yang sebetulnya sangat sayang jika dilewatkan begitu saja tanpa didokumentasikan lewat tulisan. Apalagi alasannya jika bukan karena motivasi menulis yang kurang. Aku akui, semenjak lulus S1, motivasi menulis menjadi jauh berkurang. Rasanya sulit sekali untuk memulai menuliskan barang sepatah dua patah kata. Masalah klise yang sama, sulit untuk memulai. Ditambah lagi dengan seiring berjalannya waktu, jika kemampuan menulis tidak terus menerus diasah, layaknya pisau, akan menumpul dengan sendirinya. Akhirnya, ketika momen “ingin” menulis itu datang, sering kali jadi stuck sendiri karena kesulitan untuk merangkai kata.

Many things happened during those four years. Tahun 2013 aku berhasil menyelesaikan pendidikan dokterku yang cukup panjang melalui sebuah sumpah dokter. Prosesnya Alhamdulillah lancar tanpa ada halangan yang berarti. Masa-masa Koass aku jalani dengan enjoy walaupun melelahkan. Aku mendapatkan banyak pengalaman dan teman baru di kerasnya tembok rumah sakit. Banyak pemandangan yang kusaksikan di sana, beberapa di antaranya membuatku berpikir seribu kali untuk melanjutkan sekolah spesialis. Sempat gagal ta’aruf juga..hehe..maklum pengalaman pertama. Anyway, masa2 koass itu memang indah untuk dikenang, tapi tidak untuk diulang..hehe.

Setelah resmi menyandang gelar dr. di depan nama, aku diwajibkan untuk internship selama 1 tahun sebagai syarat mendapatkan STR (surat tanda registrasi). Waktu itu kami semua ditempatkan di berbagai daerah di Jawa Barat, melalui kocokan. Aku yang awalnya kebagian di Majalaya memutuskan tukeran jadi Depok demi bisa berkumpul dan seru2an bareng the gengs (baca:vita dan alma). Sekalian berpetualang juga, masa di Bandung2 terus..hehe. Dan keputusan untuk tukeran itu pun sama sekali tidak kusesali, justru aku bersyukur bisa ditempatkan di Depok. Kembali mengenal daerah baru, budaya baru, dan teman2 baru. Dan berhubung Depok dekat dengan dengan Jakarta, kesempatan untuk ngebolang di Jakarta pun tak kusia2kan. keliling2 Jakarta pake busway, ketipu naik bajaj, sempit2an naik KRL, jalan2 ke pulau Pari, sampai nekad ke PRJ tanpa megang uang cash dan akhirnya pulang hanya menyisakan 500 perak..haha. Depok pun kini menjadi salah satu kota yang kurindukan.

Ketika masa internship ini aku sempat mencoba ta’aruf untuk yang kedua kalinya dan gagal untuk yang kedua kalinya pula. Tapi memang jodoh tak bisa ditebak darimana datangnya, sekalipun aku sudah mencoba untuk minta dicarikan ke teteh mentor atau teman, eh..malah datangnya dari saudara sendiri. Mendekati akhir tahun 2014, bulan November kalau tidak salah, sepupuku mengenalkan temannya padaku. Tanpa melalui proses panjang, saat itu kita hanya tukeran CV, aku konsultasi ke orangtua, dengan istikharah dulu, akhirnya aku setuju untuk dipertemukan. Pertemuan pertama kita hanya ngobrol2 ringan, tapi dari situ kami berdua memiliki gambaran tentang masing2 dan memutuskan untuk lanjut. Awalnya aku ingin mempersingkat prosesnya supaya langsung kenalan ke orangtua, tapi papa minta jangan buru2..coba kenal lebih dekat lagi. Well…terjadilah satu kali pertemuan lagi sebelum akhirnya ia kukenalkan ke orang tua. Alhamdulillah tanggapan orangtua cukup baik, dan dari situ mulai obrolan serius yang menjurus2..hehe. Beberapa kali calon suami datang ke rumah saat aku masih di Depok maupun saat aku di rumah..yaa..pendekatan lagi lah. Akhirnya pertemuan kedua keluarga terjadi di bulan Juni (atau Juli yah..?). Kami pun setuju hari besar itu akan dilaksanakan di bulan November.

Selesai internship bulan mei, aku sempat jaga di klinik2 dekat rumah sebelum akhirnya ada tawaran untuk bantu di penelitian gizi FK Unpad. Saat proses menunggu itu pula aku ikut seleksi CPNS daerah.

And D-Day has arrived…We became one after a simple akad sentence. Simple but contains deep meanings. Setelah mempersiapkan beberapa waktu sebelumnya, kami pun terbang ke Bali untuk honeymoon…hehe.

Alhamdulillah..tak menunggu lama, Allah menitipkan sesosok janin mungil di rahimku. We were so excited back then. Berita gembira itu juga dibarengi dengan berita kelulusanku diterima menjadi CPNS..alhamdulillah. Akhir bulan Maret, jalanku di rumah sakit pun dimulai. Meski di awal sempat denial karena kecewa tidak masuk puskemas. Anyway, bulan2 pertamaku jaga di RS ditemani dengan bayi mungil di perut. Sampai akhirnya, setelah melalui proses penantian panjang yang melelahkan, lahirlah sesosok bayi perempuan mungil ke dunia ini. Bayi mungil menggemaskan yang sangat mirip ayahnya ini mengisi hari2 kami sebagai orangtua baru. Seyum, tawa, tangis, keringat mewarnai hari2 kami. Bagaimana kami berusaha memberikannya ASI ekslusif di tengah kesibukanku yang masih harus jaga di RS. Bagaimana setelahnya kami berkomitmen untuk memberikan MPASI hommade walaupun itu cukup menguras tenaga dan waktu. Sebagai orangtua baru, kami masih jauh dari sempurna, perjalanan kami pun masih panjang. Tapi yang jelas kehadiran anak kami benar2 membuat hari2 jadi penuh warna. I Love you my little girl.

Kini aku masih berkutat di rumah sakit, menunggu kesempatan di mana aku bisa mengembangkan passionku. Sejak Juli 2016, aku menjalani LDM (long distance marriage) dengan suamiku, berhubung ia harus mengikuti program research selama 1 tahun di Polandia. Aku berharap waktu bisa cepat berlalu sehingga kita bertiga bisa berkumpul kembali. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s