Mengurangi Penggunaan Kantong Plastik: Sebuah Solusi Kecil untuk Membuat Perubahan yang Besar

Ini sebenarnya adalah esai yang kubuat untuk mengikuti lomba pekan raya ilmiah di kampus tahun 2009, waktu itu temanya tentang global warning. Kebetulan..juri berbaik hati memberikan apresiasi kepada tulisan ini sebagai juara 2. Daripada dibiarkan mengendap begitu saja, padahal isinya sangat penting, lebih baik di-share kan… walaupun agak terlambat 😀

Setiap kali kita berbelanja di swalayan, pastinya kita akan diberi kantong plastik untuk membungkus barang belanjaan kita, bukan? Begitu pula jika membeli sesuatu di warung atau di pasar, kantong plastik juga pasti akan diberikan oleh sang pedagang. Jangankan itu semua, bahkan ketika membeli gorengan di pinggir jalan sekalipun, kantong plastik hampir selalu mengiringi bungkusan kertas gorengan tersebut. Sekarang coba bayangkan, bagaimana jika dalam satu hari, ada 1000 orang yang berbelanja di swalayan atau pasar di Bandung, katakanlah, berapa banyak sampah plastik yang akan dihasilkan dalam satu hari? Bagaimana dengan 7 hari? 1 bulan? 1 tahun? Itu hanya di kotaBandung saja. Coba kalikan juga dengan ratusan kota dan kabupaten se-Indonesia! Belum lagi jika dikalikan dengan ratusan negara yang menghuni planet bumi ini. Kini dapat terbayang, berapa total sampah plastik yang dihasilkan oleh seluruh penghuni bumi?

Dari 2000 ton sampah yang dihasilkan oleh warga Bandung setiap harinya, menurut anggota Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Sobirin Supardiyono, 5 %-nya, atau sekitar 100 ton, merupakan sampah plastik. Jika diasumsikan ukuran satu kantong plastik sebesar 50 Î 40 cm dengan berat 10 gram, maka sampah plastik kota Bandung per harinya setara dengan 200 kali luas lapangan sepakbola.

Di tingkat dunia sendiri, diperkirakan penggunaan kantong plastik telah mencapai angka 500 juta sampai satu milyar per tahunnya. Itu artinya, dalam satu menit ada satu juta plastik. Dan jika sampah-sampah plastik ini dibentangkan, maka dapat menutupi permukaan bumi sebanyak 10 kali lipat!

Ketidakmampuan kantong-kantong plastik untuk berdekomposisi secara sempurna dalam waktu singkat layaknya sampah organik, akan menyebabkan sampah-sampah kantong plastik ini terus menumpuk dari tahun ke tahun, jika kita tidak mulai mengurangi penggunaannya mulai dari sekarang. Perlu waktu 500-1000 tahun bagi sampah plastik ini untuk dapat terurai dengan sempurna oleh mikroorganisme tanah. Sekalipun itu terjadi, pencemaran tanah akibat dari partikel-partikel plastik tersebut tidak akan terhindarkan. Fakta tersebut menunjukkan nampaknya hanya dengan menimbun sampah-sampah plastik tersebut di dalam tanah bukanlah sebuah ide yang bagus.

Dengan membakarnya pun bukan merupakan solusi yang jitu untuk masalah ini. Kebanyakan plastik terbuat dari bahan PVC, dan ketika dibakar, maka ia akan mengeluarkan  zat di(2-ethylhexyl)adipate (DEHA). DEHA merupakan senyawa yang memiliki aktivitas mirip estrogen, yang jika berada dalam tubuh manusia justru akan mengganggu keseimbangan hormon estrogen yang sebenarnya, yang pada akhirnya akan menurunkan tingkat kesuburan pada wanita. Pada pria pun tidak jauh beda, senyawa yang satu ini menyebabkan sperma menjadi tidak subur, sehingga dapat mengakibatkan infertilitas (ketidaksuburan) pada pria. Menurut Made Arcana, ahli kimia dari Institut Teknologi Bandung, kantong plastik yang mengandung zat pewarna hitam, jika terkena panas (misalnya berasal dari gorengan), bisa terurai, dan terdegradasi menjadi bentuk radikal. Inilah yang disebut sebagai zat radikal bebas, yang dapat memicu tumbuhnya sel-sel kanker. Selain itu, zat ini dapat menyebabkan penyakit-penyakit lainnya seperti hepatitis, dan gangguan system saraf.

Itu baru sekelumit efek dari kantong plastik dipandang dari aspek kesehatan. Dalam kaitannya dengan pemanasan global (Global Warming), dari mulai proses pembuatan sampai pembuangan, sampah plastik ini menghasilkan gas rumah kaca ke atmosfer. Kegiatan produksinya saja, menghabiskan 12 juta barel minyak dan 14 juta pohon per tahunnya. Dan layaknya mata rantai yang saling bersambungan satu sama lain, gas CO2 tersebut akan menyebabkan bumi ini menjadi semakin hangat dalam artian negatif. Jika sudah terjadi pemanasan global seperti ini, maka es-es di kutub pun sedikit demi sedikit akan mencair. Kutub utara maupun selatan yang merupakan pengatur keseimbangan iklim di bumi ini pun tidak dapat menjalankan fungsinya sedemikian rupa.

Ujung-ujungnya akan seperti sekarang ini. Kita ambil contoh di Indonesia, 20 tahun yang lalu kita masih bisa menandai musim hujan yang bermula di bulan yang berakhiran -ber, yaitu September, dan diakhiri dengan bulan yang berakhiran -ret, yaitu Maret. Namun kini, dimulainya musim hujan bergeser ke Oktober atau November, dan penghujungnya pun tidak lagi pasti di bulan Maret, tapi dapat bergeser sebelumnya, di bulan Februari atau setelahnya di bulan April. Pergeseran seperti ini sering kali menciptakan musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya. Akibatnya, banyak daerah-daerah yang mengalami kekeringan yang berkepanjangan. Ketika musim hujan tiba pun, curah hujannya yang menjadi lebih tinggi daripada biasanya, menyebabkan banjir dimana-mana. Padahal, jika kita lihat 20 tahun ke belakang, jarang sekali terjadi banjir seperti sekarang ini.

Mata rantai ini akan terus berputar tanpa henti jika kita tidak memutus salah satu rantainya. Yang bisa kita lakukan adalah memutus mata rantai yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global ini. Dan jika kita usut kembali, ternyata salah satu penyebab terjadinya semua peristiwa ini adalah penumpukkan sampah plastik yang semakin tidak terkendali, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.

Penggunaan kantong plastik ini memang sudah menjadi gaya hidup orang-orang di hampir seluruh negara, tak terkecuali Indonesia. Karenanya, pasti akan sangat sulit untuk mengurangi kebiasaan itu. Sebenarnya, sudah mulai diperkenalkan plastik yang berbahan biodegradable, artinya terbuat dari bahan-bahan alami, seperti ketela pohon, dan tentunya dapat diuraikan dengan mudah oleh mikroorganisme tanah. Kelebihannya adalah, plastik dari jenis ini jelas lebih ramah lingkungan dari plastik polymer sintetis biasanya. Namun, kekurangannya, plastik ini tidak dapat bertahan lama, hanya dapat bertahan sekitar 10 hari. Selain itu, harganya yang masih 8-10 kali dibandingkan plastik konvensional, membuat para produsen menolak beralih dari plastik sintetis menjadi plastik yang biodegradable seperti ini.

Jika kita mencoba melihat ke luar, banyak negara lain yang sudah jauh terbelih dulu sadar akan bahaya penggunaan kantong plastik ini dan sudah beralih menggunakan tas bawaan sendiri ketika hendak berbelanja. Amerika Serikat sudah dari dulu beralih ke kantong belanjaan yang terbuat dari kertas. Pemerintah Australia pun sudah menyerukan setiap super market untuk melakukan hal yang sama. Di Korea Selatan, pemerintahnya sudah mulai menginisiasi untuk memproduksi plastik biodegradable. Lain lagi di Singapura, mulai April 2007, negara itu sudah mencanangkan satu hari yang bertema BYOB atau “Bring Your Own Bag” sebagai salah satu bentuk kepedulian mereka terhadap lingkungan. Jadi, pada hari itu, mereka diharuskan untuk membawa kantong belanjaan sendiri, dan bagi yang tidak membawa, diharuskan untuk membayar 30 sen yang akan digunakan untuk kegiatan lingkungan. Negara-negara lain pun tidak ketinggalan. Filipina, Australia, Hongkong, Taiwan, Irlandia, Skotlandia, Prancis, Swedia, Finlandia, Denmark, Jerman, Swiss, Tanzania, Bangladesh, dan Afrika Selatan juga sudah mulai mengkampanyekan pengurangan konsumsi plastk ini.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Memang, sudah ada beberapa supermarket yang mulai menerapkan cara menjual kantong belanjaan yang dapat dipakai seterusnya oleh si pembeli, namun, kembali lagi ke masalah gaya hidup yang sudah mendarah daging, kantong itu sering kali tidak dibawa untuk belanja yang selanjutnya, sehingga ujung-ujungnya mereka akan menggunakan kantong plastik lagi.

Kebiasaan tersebut bukan tidak mungkin untuk dirubah. Mulailah dengan mengurangi penggunaan kantong plastik sehari-hari. Tolaklah pemberian kantong plastik ketika sedang berbelanja. Jika belanjaan kita hanya sedikit, bukankah kita bisa membawanya sendiri? Jika ternyata memang bawaannya banyak, mengapa tidak mambawa kantong tersendiri dari rumah? Mungkin, pada awalnya hal itu akan terlihat aneh dan repot. Tapi, lama kelamaan orang akan terbiasa, dan siapa tahu hanya dengan melihat, orang lain dapat mengikuti jejak kita? Bukankah sebuah perubahan yang besar dapat dimulai dari hal-hal kecil yang kita lakukan sehari-hari?

Tak dapat dipungkiri, pemerintah memegang peranan yang sangat penting dalam upaya pengurangan konsumsi plastik ini. Pemerintah Indonesia dalam hal ini, sangat diharapkan untuk mengikuti negara-negara lain yang sudah terlebih dahulu mengurangi pemakaian kantong plastik di antara warganya. Mungkin, pemerintah dapat secara tegas melarang penggunaan kantong-kantong plastik di semua supermarket se-Indonesia. Pengalihan dari kantong plastik menjadi kantong kertas seperti di Amerika tidak dianjurkan, mengingat untuk membuat kertas itu sendiri diharuskan untuk menebang jutaan kayu lainnya. Jadi, cara yang paling efektif adalah dengan menyarankan warganya untuk menggunakan tas belanjaan yang terbuat dari kain yang dibawa oleh masing-masing setiap akan membeli sesuatu.

Tentu saja, perubahan itu dapat tercipta jika ada kerjasama yang baik dengan warganya. Hanya diperlukan sebuah tekad dan kepedulian untuk memulai merubah itu semua. Sebuah solusi yang simple, namun, jika seluruh warga Indonesia melakukan hal yang serupa, bayangkan perubahan seperti apa yang akan tercipta?

Advertisements

3 thoughts on “Mengurangi Penggunaan Kantong Plastik: Sebuah Solusi Kecil untuk Membuat Perubahan yang Besar

  1. Bro, gua udh terapin teori ini di khidupan pribadi gua. Malah satu keluarga dirumah gua jg udh mulai ikut2an. Tp yg jadi masalahnya ketika gua beli barang belanjaan berupa benda/bahan cair, seperti contoh es buah yg sering ditemui dipinggir jalan seputaran kota Denpasar – Bali, itu selalu menggunakan plastik kiloan. Nah apa ada solusi utk hal itu bro? Karena menurut gua pribadi, plastik yg dpakai itu lumayan kalau sehari tertimbun misalnya dalam jumlah yg banyak. Mohon sarannya bro. Thanks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s