It’s all due to those amazing books (part 1)

Ada orang yang bilang, akan jadi seperti apa seseorang 5 tahun yang akan datang tergantung pada siapa saja orang-orang yang ada di sekitarnya dan buku-buku apa saja yang dibacanya dalam kurun waktu 5 tahun tersebut. Kata-kata ini aku dengar sudah sejak lama, mungkin ketika SMA? Ah, aku sendiri sudah lupa dari mana dan kapan aku mendengarnya. Yang jelas, aku baru menyadari dan merasakan sendiri kebenaran kata-kata itu setahun belakangan ini. Namun bagiku, yang seorang introvert, buku-buku yang kubaca mempengaruhiku lebih dari apapun.

Pada 2-3 tahun pertama aku menjalani pendidikan sarjana tak banyak buku yang kubaca. Entahlah, hanya saja aku merasa saat-saat itu buku yang menarik perhatianku terbatas, sekalipun ada yang akhirnya kubeli, itu pun tak tuntas kubaca. Seingatku, aku mulai rajin hunting buku justru sejak memasuki tahun terakhirku di pendidikan sarjana, saat-saat dimana orang-orang sibuk dengan tugas akhirnya. Sejak saat-saat tersebut, buku-buku yang menarik perhatianku datang beruntun, sampai-sampai aku harus membuat list buku yang akan kubaca berikutnya (berhubung tak mungkin aku membeli semuanya sekaligus..hehe). Kebiasaan hunting buku pun berlanjut saat aku memasuki bangku pendidikan profesiku, terus begitu sampai sekarang.

Karena buku-buku itu, sekarang aku jadi kerepotan sendiri menyusun rencana hidupku di masa depan, berhubung banyak sekali yang ingin aku kerjakan, semua itu gara-gara buku yang kubaca. Di sini aku hanya akan  menceritakan beberapa buku yang paling mempengaruhiku. Buku-buku ini telah membuka wawasanku tentang beberapa hal penting, sangat penting bahkan, khususnya tentang pendidikan.

Bermula dari buku Three Cups of Tea karangan Greg Mortenson. Darimana ya, awal mulanya aku tahu buku ini? Dasar aku pelupa, entah karena rekomendasi seseorang, atau aku kebetulan menemukannya begitu saja di sebuah toko buku di dekat kampusku, lalu aku tertarik setelah membaca sinopsisnya di belakang. Buku ini menceritakan pengalaman sang penulis sendiri, Greg Mortenson, seorang pendaki gunung asal Amerika yang terdampar di pemukiman penduduk sebuah desa amat sangat terpencil di Pakistan Utara setelah gagal mendaki puncak Himalaya. Apa bisa dikata, takdir justru menuntunnya menjadi seorang agen pembawa perubahan bagi penduduk setempat dengan mendirikan sekolah bagi anak-anak setempat, terutama perempuan, yang sangat membutuhkan pendidikan. Bermula dari hanya satu sekolah di satu desa nan terpencil, ia berjuang mencari dana kesana kemari, merangkul penduduk setempat untuk bisa menerima keberadaannya dan maksud baiknya untuk memberikan hak pendidikan yang sama bagi laki-laki maupun perempuan, satu hal yang amat sulit diterima oleh adat istiadat penduduk daerah sana. Melalui pendekatan “Three Cups of Tea”, ia menjelajahi desa demi desa di pelosok Himalaya meyakinkan penguasa desa setempat dan meminta izin mendirikan sekolah bagi anak-anak mereka. Berbagai penolakan kerap datang, namun itu tak menyurutkan niatnya untuk tetap memperjuangkan hak anak-anak, terutama yang perempuan memperoleh pendidikan. Ia memiliki keyakinan bahwa jika ia mendidik seorang perempuan, maka itu sama saja dengan mendidik sebuah komunitas.

Perjuangan Greg Mortenson berlanjut di buku keduanya, yaitu Stone into Schools. Di sini, ia memperluas sasaran daerah yang akan dibangun sekolah olehnya sampai ke Afganistan, sarang para Taliban. Teror dan ancaman yang mewarnai hari-harinya tak juga menyurutkan langkahnya untuk tetap memperjuangkan hak pendidikan anak-anak di sana yang terampas oleh keberadaan Taliban. Semua ini ia lakukan bukan tanpa pengorbanan. Ia harus rela meninggalkan istri dan anak-anaknya di Amerika sana demi memperjuangkan berdirinya sekolah-sekolah itu. Ia harus merelakan tidak menyaksikan perkembangan anak-anaknya sendiri demi hak anak orang lain. Tentu saja semua itu tidak sia-sia. Berkat perjuangannya, kini telah berdiri ratusan (atau mungkin malah ribuan sekarang?) sekolah di berbagai penjuru Pakistan dan Afganistan.

Kedua buku itu menyadarkankanku mengenai pentingnya pendidikan. Keduanya seakan menantangku dan berbicara. “Hey, apa yang sudah kau lakukan untuk mereka?”. Aku ingin sekali bisa seperti Greg Mortenson, mendidik sebuah komunitas. Bermula dari ruang lingkup yang kecil, lantas kemudian merambah bagaikan jamur di musim penghujan. Sekalipun belum dapat terwujud, setidaknya pesan kedua buku ini telah menancap kuat dalam diriku, menunggu untuk dilaksanakan. Satu tekad yang tak pernah ada sebelum aku membaca buku ini, kini muncul.

Selain itu, buku-buku apa lagi yang sangat mempengaruhiku? Tunggu kelanjutannya 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s