Gadis Kecil dan Lilin Harapan

Seorang gadis kecil sedang duduk termangu di kursi taman menangisi buku ceritanya yang telah dirobek-robek oleh temannya. Dia telah duduk di sana cukup lama, hingga datanglah seorang anak laki-laki menghampirinya.

Anak laki-laki itu ikut duduk di sampingnya. Melihat si gadis kecil menangis, anak laki-laki itu bertanya kepadanya, “Kenapa kamu menangis?”. Menyadari ada seseorang yang berbicara kepadanya, si gadis kecil menoleh dan mendapati seorang anak laki-laki yang usianya lebih tua beberapa tahun darinya.

Si gadis kecil tidak menjawab pertanyaan anak laki-laki itu, ia hanya memandangnya sekilas sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke buku ceritanya yang telah robek. Mengikuti pandangan si gadis kecil, kini si anak laki-laki tahu apa yang menjadi alasan si gadis kecil menangis.

Ia terdiam sesaat. Tak lama kemudian, si anak laki-laki membuka tas yang dibawanya, dan mulai merogoh isinya. Setelah menemukan apa yang dicarinya, anak laki-laki itu menyodorkan sebuah buku kepada si gadis kecil, seraya berkata, ” Jangan sedih lagi, ya…”

Si gadis kecil memperhatikan benda yang disodorkan di hadapannya, sebuah buku cerita. Dengan ragu-ragu, ia mengambil buku cerita tersebut sebelum kemudian berpaling menghadapi si anak laki-laki. Saat itu, ia melihat senyum yang hangat dan tulus diberikan oleh si anak laki-laki untuknya. Sebuah senyum sederhana yang mampu menghapuskan kesedihannya. Sebuah senyum sederhana yang tak akan dilupakannya.

Tanpa berkata-kata lagi, si anak laki-laki beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan si gadis kecil bersama buku cerita barunya.

Setelah si anak laki-laki itu pergi, si gadis kecil mulai membuka halaman demi halaman buku barunya. Sampailah ia pada satu halaman dengan gambar lilin yang sedang menyala terhias di tengahnya. Merasa tertarik, ia membuka halaman selanjutnya, dan mulai membaca. Seorang anak lelaki dan lilin harapan, begitu judul yang tertera. Ia pun melanjutkan membaca:

Di suatu negeri nan jauh, hiduplah seorang anak lelaki yang sangat gemar berpetualang. Suatu hari, di tengah petualangannya, anak lelaki itu menemukan sebuah gua. Karena penasaran, anak lelaki itu memberanikan diri memasuki gua yang sangat gelap. Semakin jauh ia berjalan ke dalam gua, kegelapan yang pekat semakin menyelimutinya.

Setelah beberapa lama, ia melihat ada setitik cahaya di kejauhan. Ia pun mempercepat jalannya untuk mendekati cahaya itu. Cahaya itu benar-benar kecil  hingga dibutuhkan jarak yang sangat dekat untuk melihat rupa si sumber cahaya. Baru dalam jarak satu meter, anak lelaki itu menyadari bahwa cahaya yang dilihatnya berasal dari sebatang lilin yang menyala di kegelapan. Setelah diperhatikan lebih dekat, ternyata lilin tersebut berdiri dengan dikelilingi  oleh beberapa lilin lainnya yang telah padam.

Menjadi satu-satunya lilin yang menyala, si anak lelaki bertanya kepadanya, “Hai lilin…mengapa hanya kamu yang menyala sementara lilin-lilin di sekitarmu semuanya padam?”

Sang lilin pun menjawab, “Aku adalah lilin harapan. Yang ada di sekelilingku adalah teman-temanku, lilin perdamaian, lilin keadilan, lilin persahabatan, lilin kebahagiaan, dan lilin cinta. Karena berbagai hal, mereka tidak bisa mempertahankan cahaya mereka, dan akhirnya padam. Sementara aku terus bertahan untuk selalu memancarkan cahaya. Karena jika tidak ada aku, maka tidak ada yang bisa membuat teman-temanku kembali menyala, mereka akan tetap padam selamanya. Karena itulah, aku berdiri sendiri di sini dengan cahayaku yang tidak akan pernah padam”. Ia berhenti sejenak, “Tapi, aku punya masalah. Aku tidak bisa menghidupkan kembali cahaya teman-temanku sendirian, aku butuh bantuan orang lain. Maukah kamu membantuku menghidupkan teman-temanku kembali dengan cahaya yang kumiliki?”

“Tentu saja”, jawab si anak segera. Si anak kemudian meraih lilin harapan dan mulai menghidupkan lilin-lilin di sekelilingnya.  Tak lama kemudian seluruh lilin telah menyala dan membuat gua menjadi jauh lebih terang dari sebelumnya.

Ketika akan berbalik meninggalkan lilin-lilin itu, langkah si anak lelaki dihentikan oleh sebuah suara, “Terima kasih banyak. Tanpamu aku hanya akan menjadi setitik cahaya yang tak berarti banyak”, ujar lilin harapan. Setelah mengangguk singkat, si anak lelaki pun melanjutkan langkahnya keluar dari kegelapan gua ditemani oleh kehangatan yang ditinggalkan oleh lilin-lilin tadi.

Selesai membaca kisah tadi, si gadis kecil menutup bukunya. Di sampul depan buku, tertulis nama sang pemilik buku. Dipandanginya nama itu lekat-lekat. Disimpannya nama itu dalam memorinya. Diingatnya kembali detik-detik pertemuan singkatnya dengan si anak lelaki..suaranya, wajahnya, senyumnya. Dicobanya untuk terus mengulang adegan singkat itu agar ingatan itu terus terpatri dalam memorinya. Terus…dan terus…hingga suatu saat nanti…

—————–

Tahun-tahun telah berganti, kini si gadis kecil telah beranjak dewasa. Tahun-tahun telah berlalu, segalanya telah berubah, kecuali satu.  Dalam hati dan pikirannya, nama dan wajah itu masih melekat kuat. Orang asing yang telah menempati satu ruang dalam hatinya untuk waktu yang cukup lama. Cinta pertamanya.

Sejak lama, diam-diam ia memiliki sebuah harapan. Sebuah harapan yang nyaris tidak mungkin. Ia berharap, suatu hari nanti ia akan bertemu kembali dengan si anak laki-laki, yeng tentunya kini telah menjadi seorang pemuda dewasa. Ia sadar, kemungkinannya sangat kecil. Ia tahu, bahkan jika seandainya mereka bertemu pun, belum tentu ia akan mengenali si anak laki-laki. Karena ia hanya mengingat wajahnya, senyumnya, dan suaranya ketika masih kecil. Dan ia pun yakin, si anak laki-laki pasti tidak akan mengenalinya. Namun, ia tetap menyimpan harapan tersebut, dengan alasan yang ia sendiri tidak mengetahuinya.

Kini ia telah duduk di bangku kuliah. Layaknya teman-temannya yang lain, ia pun memutuskan untuk terlibat dalam satu organisasi. Tak ada yang spesial, hingga suatu saat, pada sebuah pertemuan bersama para alumni dari organisasi yang diikutinya, ia melihat sesosok wajah asing bagi otaknya namun sangat familiar bagi hatinya. Hanya dengan melihat sosok itu, jantungnya berdetak lebih kencang. Ia merasakan ada desiran yang melintas di dadanya. Ia kebingungan, “Mengapa..?”, tanyanya dalam hati. Ia amati wajah itu lebih jelas. Mata itu, senyum itu, mungkinkah…

Jantungnya berdebar semakin tak menentu ketika tiba giliran orang itu memperkenalkan diri. Nama itu, nama yang persis dengan yang selalu diingatnya.

Gadis itu terhenyak di tempat duduknya. Ia masih belum bisa mempercayai penglihatannya. Ia kembali memandang pemuda yang ada di hadapannya. Ternyata kekhawatirannya selama ini bahwa ia tak akan mengenali rupa si anak laki-laki ketika ia dewasa menjadi tak beralasan. Karena seharusnya Ia tau, sekalipun otaknya tidak bisa mengenali si anak laki-laki, tapi hatinya bisa. Debaran itu..desiran itu..hatinya lah yang mengingatkannya. Segenggam takjub pun ia persembahkan kepada takdir yang telah mempertemukan ia kembali dengan cinta masa kecilnya. Ia pun tersenyum.

Sejak pertemuan tak terduga itu, sang gadis diam-diam mengharapkan sang takdir berbaik hati untuk memberinya pertemuan-pertemuan serupa kedepannya. Ia memanfaatkan setiap kesempatan yang ada dengan harapan bisa bertemu dengan pemuda itu. Setiap celah yang ada ia telusuri. Ia memasang telinganya lekat-lekat untuk setiap berita apapun tentangnya.

Beberapa kali ia mendapat kesempatan untuk bertemu dengan pemuda itu. Dalam setiap pertemuan itu, yang bisa ia lakukan hanya memandangnya dari kejauhan. Keberanian, satu hal yang amat ia butuhkan, tak kunjung datang.

Dalam bayangannya, gadis itu mendapati dirinya berjalan mendekati si pemuda untuk menyapanya, menanyakan kabarnya, dan mengingatkannya kembali akan peristiwa bertahun-tahun lalu bersama si gadis. Namun dengan segera ia mengenyahkan bayangannya itu karena menurutnya tak ada gunanya mengingatkannya akan peristiwa singkat yang sudah lama berlalu. Ia yakin peristiwa itu pasti sudah dilupakan oleh si pemuda. Ia sudah pasti tidak ingat lagi dengan si gadis.  Si gadis memutuskan mengesampingkan keinginan itu. Sekalipun dalam hatinya, ia sangat berharap untuk setidaknya mengucapkan terima kasih yang dulu tidak sempat diucapkannya kepada si pemuda.

Alhasil, si gadis hanya menjadi pengagum jauh setianya. Ia menyimpan perasaannya kepada si pemuda sejak dulu hingga detik ini sendirian, jauh di lubuk hatinya. Ia tetap mencintai pemuda itu sekalipun si pemuda itu tidak menyadari keberadaannya.

Dalam pikirannya, si gadis sadar, bahwa hubungan antara ia dan pemuda itu, tidak akan mengalami perkembangan apa-apa. Karena ketidakberanian si gadis, Ia tahu mustahil mengharapkan sesuatu yang lebih untuk terjadi. Namun hati kecilnya berkata lain. Tanpa sengaja, pemuda itu telah menyalakan lilin cinta dan harapan yang ada dalam hatinya pada pertemuan pertama mereka. Dan kedua lilin itu menolak untuk padam begitu saja. Diam-diam, si gadis berharap takdir akan bersahabat dengannya dan berbaik hati menyatukan hati kedua insan itu.

Ia terus menunggu. Menunggu kepastian sang takdir. Dalam proses penantiannya, ia tetap menyimpan perasaannya, menjaga agar lilin cinta dan harapan itu tak mati.

Namun rupanya, sang takdir enggan bersahabat dengannya. Setelah penantian panjang bertahun-tahun lamanya, akhirnya ia mendengar kabar itu. Sebuah kabar yang dengan sekejap menghancurkan semua harapannya. Gadis itu mendengar bahwa si pemuda akan menikah dengan gadis pilihannya.

Dadanya terasa sesak ketika mendengar berita itu. Udara seperti terenggut dari paru-parunya selama beberapa detik. Seketika itu juga tubuhnya menjadi lemas. Ia terkulai tak bertenaga, seolah habis berlari puluhan kilometer. Tubuhnya diam tak bergerak, namun pikirannya memburu.

Bagaikan peluru yang ditembakkan ke segala arah, ia mendengar desingan-desingan suara yang sangat acak di kepalanya. Pikirannya melaju dengan cepatnya hingga ia kehilangan kontrol atasnya. Memori-memori itu berkelebatan di benaknya, saling berganti, cepat sekali. Sejumput kepingan ingatannya tentang pemuda itu berterbangan kesana kemari, semakin menjauh, dan kemudian hilang.

Kini pikirannya kosong.  Ia tidak mampu memikirkan hal lain. Hatinya hampa. Sesuatu yang selama ini berada dalam dirinya, kini telah dicabut paksa keluar, meninggalkan lubang menganga besar di hatinya. Perasaan terhadap si pemuda yang selama ini ia simpan kini bukan miliknya lagi. Ia masih ingin memilikinya, tapi ia tahu ia sudah tidak berhak.  Dengan terpaksa, ia menghancurkan sisa-sisa kepingan perasaannya.

Ini adalah yang pertama bagi si gadis. Ia masih asing dengan perasaan yang menurutnya sangat menyakitkan itu. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk mengatasi rasa sakit itu. Selama beberapa waktu, ia sempat kehilangan arah.

Si gadis sadar, ia tidak bisa seperti ini terus. Ia berusaha melihat ke dalam hatinya. Melihat seberapa besar kerusakannya, mencari celah-celah yang bisa diperbaikinya. Di sana, si gadis mendapati sebuah lubang yang menganga dan kegelapan yang menyelimuti karena ia tahu cahaya yang biasa dihasilkan oleh lilin cintanya kini telah padam, cahayanya hilang bersamaan dengan harapannya yang turut padam.

Tapi tunggu dulu…jauh di dasar hatinya, gadis itu melihat ada secercah cahaya. Ia penasaran darimana cahaya itu berasal. Kemudian ia teringat sesuatu. Ia berpikir, “Hei..bukankah ini sama seperti yang ada dalam buku cerita itu?”. Ya, ia ingat, dalam cerita itu, jauh di dalam gua, lilin harapanlah yang memancarkan cahaya. Ia juga ingat, bahwa lilin harapan akan selalu mempertahankan cahayanya, ia akan selalu menyala.

Seperti cerita itu, maka yang harus dilakukan si gadis hanyalah berjalan menghampiri lilin harapan dan menemukannya. Seharusnya ia tahu, seharusnya ia ingat, bahwa sekalipun semua lilin di sekitarnya padam, lilin harapan akan tetap menyala. Ia selalu ada untuk menghidupkan kembali lilin-lilin yang lainnya. Ia hanya sedang menunggu untuk ditemukan. Ia harus ditemukan, karena jika tidak, ia hanya akan menjadi setitik cahaya yang tidak berarti.

Setelah mencari jauh di kedalaman hatinya, si gadis akhirnya menemukan lilin harapannya. Ia berjalan mendekat dan mendapati lilin itu masih menyala dengan terangnya. “Aku akan selalu ada di sini, bersamamu..” seru lilin harapan. “Ya, aku tahu…terima kasih karena kamu tidak pernah pergi meninggalkanku sendirian.” balas si gadis. “Itulah gunanya keberadaanku. Aku akan selalu ada untuk membantumu keluar dari situasi sulit seperti ini.” balas lilin harapan.

Si gadis mengambil lilin harapan dan memegangnya kuat-kuat. Di dalam hati ia berjanji, bahwa mulai saat ini ia akan terus melangkah ke depan. Tak akan ia biarkan masa lalu menghalanginya untuk melangkah. Kini ia tidak ragu lagi untuk melangkah ke depan, karena ia memiliki lilin harapan di genggamannya, yang akan selalu menerangi jalannya dalam perjalanannya menyongsong masa depan, memberinya kehangatan selama perjalanan, dan yang tak akan pernah meninggalkannya.

Kini si gadis akan benar-benar meninggalkan masa lalunya. Biarlah kenangan indah dan pahitnya tentang si pemuda ia kunci rapat dalam memori album tersendiri, yang tak akan pernah ia buka lagi. Mengenai luka menganga di hatinya, biarlah waktu yang akan menyembuhkannya. Yang gadis itu tahu hanyalah, bahwa ia hanya perlu menjaga lilin harapan yang ada di genggamannya tetap menyala, agar suatu saat nanti, jika telah tiba saat yang tepat, ia bisa menyalakan lilin cintanya yang padam, menggantinya dengan nyala api yang lebih terang dari sebelumnya.

Advertisements