pilihan-pilihan itu terbentang di hadapanmu

Akan menjadi apa aku nanti….sudah kuputuskan semenjak aku memasuki bangku kedokteran. Sebuah profesi yang banyak menuai puji maupun caci. Sebuah profesi yang tidak hanya melibatkan materi atau logika, tetapi juga hati. Sebuah profesi yang menurut orang sangat menjanjikan kemakmuran, namun juga menjanjikan tanggung jawab yang sangat besar.

Awalnya aku mengira, menjadi dokter praktek saja sudah cukup. Ternyata, dunia kedokteran tidak sesempit yang aku bayangkan sebelumnya. Dalam perjalananku menjadi seorang dokter, aku diperlihatkan bahwa menjadi dokter praktek hanyalah satu dari banyak pilihan yang ada.

Begitu kita lulus, kita sendirilah yang akan menentukan akan menjadi dokter seperti apa kita nantinya. Apakah kita akan meneruskan mengambil S2, lalu akan menjadi dosen atau peneliti…atau langsung mengambil spesialisasi…atau mengabdikan diri di lingkungan terpencil….bekerja pada suatu perusahaan…atau bekerja di pemerintahan sebagai pengatur kebijakan ataupun pelaksana kesehatan masyarakat…atau bahkan hanya akan membuka praktek pribadi di rumah…itu semua pilihan kita.

Semua pilihan itu nampak menarik di mataku. Masing-masing memiliki daya tariknya tersendiri. Jika mungkin, aku ingin merasakan menjadi semuanya. Tentu tidak dalam waktu yang bersamaan. Dan jika tidak memungkinkan, jika aku diharuskan untuk memilih, aku ingin menjadi seorang pelaksana kesehatan masyarakat.

Semenjak memasuki FK, aku disadarkan mengenai peran seorang dokter yang tidak hanya kuratif, namun juga preventif. Dokter sebagai seorang community leader memiliki tanggung jawab terhadap kesehatan masyarakat daerah tempat tinggalnya. Dengan keberadaan seorang dokter di suatu daerah, diharapkan ia mampu menjadi controller derajat kesehatan masyarakatnya.

Kuliah Public Health yang aku dapatkan selama ini semakin membuka wawasanku dan menggugah naluriku untuk bisa turut berkontribusi di dalamnya. Yang paling mempengaruhiku terutama adalah kuliah yang disampaikan oleh dr.Elsa. Sejak awal, beliau memilih public health sebagai bidang yang ingin beliau tekuni. Bukan karena itu adalah pilihan terakhir (seperti anggapan orang banyak bahwa hanya orang-orang yang tidak mampu masuk spesialis lah yang memilih jalur PH, yang berarti orang-orang “sisa”). IPK beliau yang cum laude dapat membuat beliau dengan mudahnya memasuki spesisalisasi manapun. Namun, beliau memilih PH, sebuah pilihan yang masih banyak dipandang sebelah mata oleh orang lain.

Beliau pernah berkata pada kami bahwa dokter-dokter yang berkecimpung dalam bidang ini jumlahnya masih sangat sedikit, lebih banyak orang-orang non kesehatan yang mengurusi ini. Padahal, siapa lagi yang lebih mengerti tentang kebutuhan kesehatan masyarakat selain kita. Masih banyak PR yang dimiliki bangsa ini, dan kebanyakan tidak bisa diselesaikan hanya dengan tindakan kuratif.

Tengok saja angka kematian ibu dan bayi Indonesia yang menempati peringkat tertinggi di Asia Tenggara. Ditambah lagi masalah gizi buruk yang tak kunjung usai. Juga demam berdarah yang terus-menerus muncul tiap tahunnya. Dan jika dirunut lebih lanjut, bisa saja list-nya menjadi semakin panjang.

Di sinilah aku ingin berkontribusi, di sinilah aku ingin berjuang. Menjadi tangan pemerintah untuk menyehatkan rakyatnya. Menjadi seorang insan yang tidak hanya hidup untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Menjadi seorang manusia yang dirasakan kebermanfaatannya oleh orang lain selama hidup di dunia. Tidak hanya menjadi seonggok daging yang numpang tinggal dan lewat begitu saja.

Pengalamanku selama kurang-lebih satu tahun di PKM senat juga mengajariku banyak hal. Aku merasakan bagaimana serunya terjun langsung ke lapangan dimana kita bisa melihat keadaan masyarakat yang sebenarnya. Belajar berkomunikasi dengan mereka, memahami gaya hidup mereka, apa yang harus mereka hadapi setiap hari, dan masalah-masalah mereka. Aku merasakan betapa indahnya perasaan ketika kita dapat berbagi dengan orang lain. Berbagi ilmu dengan memberikan penyuluhan-penyuluhan, berbagi waktu untuk sekedar mengunjungi rumah mereka dan mengobrol ringan.

Dapatkan kalian membayangkan bagaimana rasanya ketika kalian mengetahui bahwa ilmu yang kalian berikan akan terus mengalir hingga ke akhirat nanti? Mendengar teriakan antusias anak-anak sekolah ketika kita mengajarkan mereka, mendengar ucapan terima kasih nan tulus dari seorang ibu yang telah kita bantu ketika balai pengobatan, merasakan lelahnya berjalan menyusuri jalan-jalan sempit pedesaan untuk mengunjungi rumah warga….Ah…aku merindukan itu semua.

Sayangnya, tidak semua orang mengerti apa yang aku alami dan rasakan. Orangtuaku, seperti kebanyakan orang lainnya, masih mengannggap bahwa menjadi seorang dokter berarti membuka praktek di rumah, kemudian mengambil spesialisasi dan bekerja di rumah sakit. Mereka mungkin berpikir sayang sekali ilmu yang kudapatkan selama ini tidak akan digunakan pada akhirnya karena aku memilih untuk tidak membuka praktek dan malah bekerja di dinas kesehatan. Butuh waktu dan kecerdasan untuk dapat menyampaikan dengan baik kepada mereka.

Harapan mereka, terutama ibuku, nantinya aku akan mengambil spesialis kandungan, dengan alasan pasti banyak dibutuhkan, terutama oleh muslimah2. Begitu pula saran dari bibiku. Aku hanya bisa menghela nafas. Bukan berarti tidak mau, hanya saja jika aku diberi pilihan, aku lebih memilih spesialis anak. Karena aku suka anak kecil. Mereka itu polos, jujur, apa adanya. Namun, mereka adalah makhluk yang rapuh baik secara fisik maupun mental, sehingga butuh perhatian khusus. Mereka juga memiliki hak-hak tertentu yang telah dirampas dari diri mereka dan patut untuk diperjuangkan. Kembali lagi, aku belum bisa menemukan cara untuk menjelaskan semua ini dengan baik, sehingga dapat diterima semua pihak.

Jujur, aku ingin mengalami menjadi keduanya…baik menjadi seorang klinisi maupun seorang agen kesehatan masyarakat. oleh karena itu, aku mencoba membuat jalan tengah agar kedua impianku ini dapat tercapai. Tiga, ditambah keinginanku untuk ditempatkan di tempat terpencil.

Setelah aku lulus menjadi dokter, aku ingin mengambil PTT. Aku ingin ditempatkan di sebuah pulau yang terpencil, kalau bisa sih di Belitung. Alasannya, karena itu pulau, berarti aku bisa berada di dekat pantai :), dan karena itu pulau terpencil, biasanya penugasannya tidak akan berlangsung lama, paling lama juga 1 tahun. Setelah PTT aku ingin kerja di puskesmas. Itu kuanggap sebagai sarana pertamaku sebagai agen kesehatan masyarakat, itung-itung sebagai latihan. Setelah 2 atau 3 tahun, aku ingin melamar menjadi PNS dan bekerja di dinkes. Oh ya, satu hal lagi mengapa aku memilih bekerja di dinkes, karena dengan bekerja di sana memungkinkan aku untuk tetap bisa mengurus keluargaku, membesarkan dan mendidik anak-anakku. Karena jika langsung mengambil spesialis,,wah-wah..keluarga bisa terlantar mengingat sebagian besar waktu yang harus kita habiskan di rumah sakit ketika menjadi residen. Aku baru berniat untuk mengambil spesialis ketika anak-anakku nantinya sudah cukup besar dan mengerti untuk ditinggal lama. Ya..mungkin ketika mereka berumur 9 atau 10 tahun.

Setelah menjadi spesialis, bukan berarti aku akan lebih fokus bekerja di rumah sakit. Aku ingin menjadi pembicara di berbagai event, agar aku bisa menebar ilmu yang bermanfaat ke lebih banyak lagi orang. Sebagai seorang dokter, sudah merupakan tugasnya untuk never-ending study..dan turut menyumbang terhadap perkembangan ilmu kedokteran. Seperti para dosen-dosenku yang lain yang telah spesialis, aku juga ingin melakukan penelitian-penelitian sehingga pada saatnya nanti aku menghasilkan sesuatu yang bisa bermanfaat. Dan satu lagi, kelak aku juga ingin membagi ilmuku kepada para calon penerusku kelak, para calon teman sejawatku, mahasiswa-mahasiswa kedokteran, untuk mencetak generasi baru yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Ya…pada akhirnya aku dapat membuat jalan tengah untuk hampir semua impianku..:D. Akan tetapi, semua yang aku tuliskan di atas masih akan tergantung pada satu hal, suamiku kelak. Bagi seorang wanita, ia akan memulai hidup keduanya setelah menikah. Begitu pula denganku. Apa langkah yang akan kuambil kelak nantinya akan berdasarkan izin dari suamiku. Aku akan sangat bersyukur jika ia bisa menerima rencanaku. Tapi jika ia punya rencana lain yang mengharuskanku untuk mengikutinya, yang memungkinkanku untuk meninggalkan rencana-rencanaku, insyaAllah aku akan ikhlas. Tapi bukan berarti aku akan menyerah begitu saja meninggalkan impian-impianku tadi. Aku akan berusaha untuk mencari jalan tengahnya. Agar selain aku bisa menjadi istri yang taat suami, tapi juga aku bisa mewujudkan semua impian2ku…:D

Kita lihat nanti….semoga saja…

Advertisements