Fenomena Pemilu 2009

Pemilu kali ini memang agak miris…jika tidak bisa dibilang sangat..p***h
berikut adalah beberapa hal yang kuperhatikan menjadi catatan penting dalam Pemilu kali ini:
1. Banyak sekali warga yang komplain mereka tidak bisa memberikan hak suaranya lantaran tidak terdaftar menjadi Daftar Pemilih Tetap (DPT). Hal itu terjadi di berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga biasa, para mahasiswa, sampai para artis sekalipun..bagaimana ini bisa terjadi..?bagaimana bisa ada yang luput..? Siapa yang harus bertanggung jawab atas hal ini? Padahal sangat disayangkan..ini bisa jadi merugikan banyak pihak kan..?

2. Dari sekian yang menjadi DPT pun, banyak di antaranya yang memilih golput. Sering disebutkan di berita, bahwa dari 300 sekian yang menjadi DPT di suatu TPS, hanya 150 sekian yang memberikan hak suaranya. Sisanya..? Entah apa alasan mereka. Tapi, tidak bisa dipungkiri, bisa jadi ini karena mereka sudah apatis, tidak perduli lagi terhadap dunia perpolitikan tanah air. Mereka sudah muak dengan semua janji-janji yang sudah berpuluh-puluh taun mereka dengar, namun tidak ada satupun janji tersebut yang terbukti dan bisa mereka rasakan sendiri hasilnya.Tak sengaja, beberapa waktu yang lalu, aku mendengar langsung dari beberapa kuli bangunan yang sedang saling berbincang tentang Pemilu, salah satunya jelas sekali bilang, “Ah,, urang mah rek golput wae lah..da teu ngaruh oge..urang-urang mah teuteup weh hese hirupna” Ya..kurang lebih seperti itulah..
Sudah banyak yang tidak terdaftar jadi pemilih tetap, banyak yang golput pula..berapa suara yang tersisa?

3. Banyak surat suara yang tertukar. Yang seharusnya untuk DPRD kota A, ehh..malah dapet surat suara DPRD kota B. Ckckck…aku tidak bisa dan tidak mau men-judge apa atau siapa, hanya ingin bertanya, Ko bisa??
Ok, positifnya kita bisa bilang, wajarlah…namanya juga manusia, pasti ada khilafnya…Tapi ini event 5 tahunan lho, Bapak-bapak…sayang sekali jika harus dicemari dengan kesalahan-kesalahan teknis seperti itu..yang bahkan karena kesalahan itu, harus diadakan pemilihan ulang lagi di daerah tertentu. Hmmm…

4. Entah mana yang lebih dominan, pemerintah yang kurang sosialisasi kah, atau masyarakat yang kurang ngeh terhadap berita informasi seputar Pemilu. Karena jujur, aku sempat kaget ketika bertemu seorang ibu, yang masih bertanya, “Jadi, sebenernya kita harus nyontreng berapa kertas..?” Yang lebih parah, karena bertanya, “Lho, ko ga ada foto SBY atau JK ? emang ini tu jadinya pemilihan apa, bukan pemilihan presiden ya?”, atau bertanya, “Boleh ga kalau di setiap kertas kita nyontrengnya beda-beda?”, atau, “yang harus dicontreng itu apanya? lambang partainya? orangnya? atau dua-duanya?”
Aku cukup yakin, hal ini tidak hanya terjadi di lingkungan tempatku menyontreng. Bisa terjadi di mana saja, terutama daerah yang kurang bisa dijangkau. Untuk hal ini tidak bisa hanya salah satu pihak yang disalahkan. bagaimanapun, keduanya berkontribusi menyebabkan hal ini terjadi.

Mungkin, masih banyak kejadian-kejadian menarik lainnya seputar pemilu yang terjadi, ada yang hitam, tapi pasti ada juga yang putih. Apapun itu,,itu akan menjadi bagian dari sejarah yang kelak akan menjadi pelajaran bagi Pemilu yang selanjutnya.

Advertisements

One thought on “Fenomena Pemilu 2009

  1. Dulu, tangan kita menusuk, jari kita mencontreng,
    Kini, tangan kita mencontreng, jari kita ditintain,
    Napa tak jari yg ditintain dicapkan pd pemilu,
    Terlalu otentik?

    Salam Maya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s