Persahabatan itu…apakah murni..???

Sejauh yang kutau, kudengar, dan kualami sendiri, tidak ada yang namanya persahabatan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan tanpa di dalamnya ada perasaan yang tidak biasa, maksudnya perasaan lebih dari sekedar persahabatan. Entah apakah perasaan itu dimiliki oleh keduanya, atau hanya salah satunya saja..tetap saja ada sesuatu yang lebih…

Perasaan itu bisa saja sudah ada sejak awal, atau akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Terkadang bahkan tidak disadari keberadaannya, atau tidak dikenali. Yang kita rasakan hanyalah perasaan nyaman ketika berada di dekatnya, nyaman untuk berbicara lepas kepadanya dan menceritakan semua yang kita rasakan. Ini merupakan fase “tidak sadar” akan perasaan yang sesungguhnya. Lama kelamaan, satu hal yang aku sendiri belum mengerti bagaimana mekanismenya, perasaan ini akan tumbuh menjadi rasa care terhadap yang lainnya dan munculnya keinginan untuk selalu bersama dan saling mengayomi. Jika ini terjadi, berarti telah memasuki fase “sayang”.

Banyak orang yang berpendapat mana yang lebih kuat, perasaan cinta atau sayang. Aku sendiri berpendapat sayang itu jauh lebih kuat daripada hanya sekedar cinta. Cinta bisa tumbuh dalam sekejap dan hilang dalam sekejap pula. Sedangkan rasa sayang, butuh waktu yang sangat lama untuk menumbuhkannya, dan aku jamin itu akan abadi, tak akan pernah hilang. Untuk merasakan apakah itu cinta, diperlukan debaran-debaran khusus, namun tidak untuk sayang. Yang muncul hanyalah perasaan hangat yang menguar dari diri kita kita bertemu yang kita sayangi.

Jika diukur dari kedalaman pun, jelas sayang jauh lebih mendalam. Kata orang pun, dalam membina rumah tangga, rasa cinta itu hanya akan bertahan 1 hingga 2 tahun usia perkawinan. Selebihnya, rasa sayang dan rasa hormat lah yang akan menggantikan.

Aku mencoba memandang fenomena ini dari sisi lain, syar’i. Bagaimana menurut agama kita,  bila seorang laki-laki dan seorang wanita sering menghabiskan waktu bersama, mengobrol lepas dengan bebasnya, dan menyadari bahwa ada perasaan lebih dari sekedar teman biasa. Sekalipun kita tetap menjaga hijab, dan tidak menamai hubungan ini sebagai pacaran, apa itu masih dapat dibenarkan menurut ketentuan agama? Jika dilihat dari luar, ya, bisa dibenarkan, lagipula tidak ada orang yang tau apa yang sebenarnya kita rasakan. Tapi bagaimana dengan pikiran kita yang terus tertuju pada seseorang, menyisakan ruang di hati dan pikiran kita untuk seseorang yang khusus. Siapa yang tahu? Apa bedanya dengan pacaran jika begitu? apakah ini yang disebut dengan pacaran yang Islami, jika memang ada?

Aku mengungkapkan semua ini bukan berarti aku merasa aku selalu benar. Aku juga pernah berada dalam situasi seperti ini. Mengapa aku bisa menggambarkan detail perasaan itu, karena aku sendiri pernah merasakannya. Namun,  setelah aku mengerti, aku tau bahwa ada yang salah dengan hubungan ini, bukan seperti ini seharusnya. Sampai akhirnya, aku merasa harus melakukan sesuatu. Mundur. Pelan-pelan. Menjauh. Ini bukan jalan yang terbaik. Aku tidak akan pernah menyarankan ini kepada siapapun. Karena ini telah membuatku kehilangan salah satu sahabat terbaikku, tanpa aku bisa menjelaskan padanya mengapa aku melakukan ini. Aku menyesal, harus seperti ini akhirnya.

Untuk siapapun yang terlebih dahulu menyadari bahwa hubungan ini sudah terlalu dekat, bicarakan ini baik-baik dengan sahabatmu. Jelaskan padanya. Syukur-syukur dia bisa mengerti. Memang pasti sulit untuk mengakhiri. Tapi, coba kita pikir lagi, mana yang lebih utama, melakukan apa yang kita inginkan padahal itu salah, atau melakukan apa yang benar, padahal kita tidak menginginkannya?

Maaf, bukan bermaksud untuk menyinggung beberapa pihak, hanya sekedar ingin berbagi setelah melihat fenomena seperti ini di sekitarku.

Advertisements

Fenomena Pemilu 2009

Pemilu kali ini memang agak miris…jika tidak bisa dibilang sangat..p***h
berikut adalah beberapa hal yang kuperhatikan menjadi catatan penting dalam Pemilu kali ini:
1. Banyak sekali warga yang komplain mereka tidak bisa memberikan hak suaranya lantaran tidak terdaftar menjadi Daftar Pemilih Tetap (DPT). Hal itu terjadi di berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga biasa, para mahasiswa, sampai para artis sekalipun..bagaimana ini bisa terjadi..?bagaimana bisa ada yang luput..? Siapa yang harus bertanggung jawab atas hal ini? Padahal sangat disayangkan..ini bisa jadi merugikan banyak pihak kan..?

2. Dari sekian yang menjadi DPT pun, banyak di antaranya yang memilih golput. Sering disebutkan di berita, bahwa dari 300 sekian yang menjadi DPT di suatu TPS, hanya 150 sekian yang memberikan hak suaranya. Sisanya..? Entah apa alasan mereka. Tapi, tidak bisa dipungkiri, bisa jadi ini karena mereka sudah apatis, tidak perduli lagi terhadap dunia perpolitikan tanah air. Mereka sudah muak dengan semua janji-janji yang sudah berpuluh-puluh taun mereka dengar, namun tidak ada satupun janji tersebut yang terbukti dan bisa mereka rasakan sendiri hasilnya.Tak sengaja, beberapa waktu yang lalu, aku mendengar langsung dari beberapa kuli bangunan yang sedang saling berbincang tentang Pemilu, salah satunya jelas sekali bilang, “Ah,, urang mah rek golput wae lah..da teu ngaruh oge..urang-urang mah teuteup weh hese hirupna” Ya..kurang lebih seperti itulah..
Sudah banyak yang tidak terdaftar jadi pemilih tetap, banyak yang golput pula..berapa suara yang tersisa?

3. Banyak surat suara yang tertukar. Yang seharusnya untuk DPRD kota A, ehh..malah dapet surat suara DPRD kota B. Ckckck…aku tidak bisa dan tidak mau men-judge apa atau siapa, hanya ingin bertanya, Ko bisa??
Ok, positifnya kita bisa bilang, wajarlah…namanya juga manusia, pasti ada khilafnya…Tapi ini event 5 tahunan lho, Bapak-bapak…sayang sekali jika harus dicemari dengan kesalahan-kesalahan teknis seperti itu..yang bahkan karena kesalahan itu, harus diadakan pemilihan ulang lagi di daerah tertentu. Hmmm…

4. Entah mana yang lebih dominan, pemerintah yang kurang sosialisasi kah, atau masyarakat yang kurang ngeh terhadap berita informasi seputar Pemilu. Karena jujur, aku sempat kaget ketika bertemu seorang ibu, yang masih bertanya, “Jadi, sebenernya kita harus nyontreng berapa kertas..?” Yang lebih parah, karena bertanya, “Lho, ko ga ada foto SBY atau JK ? emang ini tu jadinya pemilihan apa, bukan pemilihan presiden ya?”, atau bertanya, “Boleh ga kalau di setiap kertas kita nyontrengnya beda-beda?”, atau, “yang harus dicontreng itu apanya? lambang partainya? orangnya? atau dua-duanya?”
Aku cukup yakin, hal ini tidak hanya terjadi di lingkungan tempatku menyontreng. Bisa terjadi di mana saja, terutama daerah yang kurang bisa dijangkau. Untuk hal ini tidak bisa hanya salah satu pihak yang disalahkan. bagaimanapun, keduanya berkontribusi menyebabkan hal ini terjadi.

Mungkin, masih banyak kejadian-kejadian menarik lainnya seputar pemilu yang terjadi, ada yang hitam, tapi pasti ada juga yang putih. Apapun itu,,itu akan menjadi bagian dari sejarah yang kelak akan menjadi pelajaran bagi Pemilu yang selanjutnya.