ehm..Jogja -part2-

Terakhir kali sampai mana ya..? Oiya, perjalanan keberangkatan. Intinya, subuh kita semua nyampe di Stasiun Tugu Yogyakarta. Dari sana, kita diantarkan ke hotel oleh panitia. Karena kita datangnya kepagian, kita memutuskan untuk jalan-jalan dulu aja. Tapi kemana..? emm…Parang Tritis!! Berhubung itu satu-satunya pantai yang kutau ada di jogja (padahal sih masih banyak yang lainnya). Akhirnya…kesampaian juga ke pantai.

Dengan memempuh perjalanan cukup jauh sekitar…1 setengah jam kali ya..naik angkot jurusan 12, sampailah kita di Parang Tritis yang indah itu. Sedikit tercengang juga pas pertama kali ngeliat, benar2 sejauh mata memandang cuma ada pantai polos beserta laut, sepi lagi..mungkin karena bukan hari libur kali..

Nah…di sini muncul deh sifat asliku yang rada kekanak-kanakan. Peduli amat..! Bukannya emang kalo sedang di alam, sifat asli kita pasti akan ketauan kan? Pokoknya, momen di sana tak disia-siakan begitu saja, foto2 terus kerjaannya, sampai bosen…

Pulangnya, kami dijemput oleh bis yang sama (soalnya udah dicarter buat nganterin kita pulang..^^). Baru malamnya kami pergi ke acara welcoming party. Rada-rada salah kostum juga sih…soalnya kan disuruh pake batik, dan aku ga punya! Tapi gapapa,,untung ada jas almamater.

Acaranya ada di Benteng Vredeberg (bener ga ya..?). Katanya sih, itu benteng buat pertahanan Belanda pas ada serangan 1 Maret (o iya ya, emang ada?aku juga baru tau..) Dekorasinya cukup wahhh, disambut oleh panitia2 yang semuanya pake kebaya dan batik di sepanjang jalan masuk. Serasa tamu penting…

Pas acaranya mulai, serentak orkestra bermain dengan indahnya. (seumur-umur pengen banget bisa main alat musik, tapi ga kesampaian). Terus, pas pengenalan delegasi setiap univ, kami rombongan dari Unpad memecahkan rekor sebagai delegasi terbanyak! Sangat bersemangat, menurut panitianya. Haha… padahal dari Univ lain ada yang cuma ngirim satu orang. Dan…tibalah saaat yang ditunggu-tunggu..makan! Wiihh..banyak banget lauknya! dan semuanya itu makanan favoritku! Haha..aku sikat aja semua! Kenyang makan, kita dihibur sama sajian terakhir, sendratari Rama Shinta. Ga ngerti si maksudnya apa..tapi lucu ngeliat mereka nari…luwes banget!

Habis itu semua, kami semua balik ke hotel. O iya, ada cerita menarik sebelum tidur. Jadi, kan tempat tidurku itu yang paling pinggir deket pintu, waktu itu penghuni kamar baru ada 4 orang, aku, icha, monik, sama mba wida dari Unej. Baru aja mau merem, ada yang ngetuk pintu. Aku spontan bangun, karena takut keliatan dari luar kalo pintu dibuka. Ternyata, ada penghuni kamar baru..siapa duluan ya waktu itu..kalo ga salah si ka Lili dari Unsri. Habis kenalan dan bla..bla..bla, aku coba tidur lagi. baru juga bentar, ada yang ngetuk pintu lagi, aku bangun lagi. Penghuni kamar baru lagi..Ka Laura dari Unbrah. Kenalan lagi…tidur lagi…ada yang ngetuk pintu lagi…bangun lagi…penghuni kamar baru lagi..Ka Nora dari Unram…kenalan lagi…tidur lagi…ada yang ngetuk lagi…bangun lagi…oh,,panitia. Apa?? mau ditambah lagi? kita udah ber-7!! tapi ok lah..masuklah Ka Emil dari Unbrah juga..Ya…itulah, akhirnya penghuni kamar 235 genap ber-8!! Kebayang…koper bergeletakan dimana-mana,,bikin ruang yang tersisa jadi tambah sempit aja. Yang bikin keterlaluan lagi..panitia ada yang dateng lagi dan berencana nambah personel lagi! Tiddaakk..!! jawab kami semua..

Baru setelah yakin ga akan ada personel baru lagi, aku bisa benar-benar tidur.  Hmmph..berkali-kali bangun..ga enak!!

Besoknya, baru dimulai kegiatan yang sebenernya…workshop BAPIN!!

Hati yang Lapang

Kelapangan hati yang sesungguhnya adalah

ketika kita banyak memberi

sekalipun kita tidak mendapat apa-apa

 

Kelapangan hati yang sesungguhnya adalah

ketika kita bisa memberikan senyum yang tulus

ketika melihat orang lain bahagia

sekalipun kita merasa tersakiti karena kebahagiaannya

 

Kelapangan hati yang sesungguhnya adalah

ketika kita menganggap kesedihan kita sebagai lelucon belaka

seolah-olah itu adalah hal paling bodoh yang pernah dilakukan

 

Kelapangan hati yang sesungguhnya adalah

ketika kau tetap tegar tak tergoyahkan

menghadapi apa pun yang terjadi di depan matamu

 

Kelapangan hati yang sesungguhnya adalah

ketika bahumu tetap tegak

tak peduli seberapa banyak beban yang sedang kau pikul

 

Kelapangan hati yang sesungguhnya adalah

menerima, tersenyum, dan memberi

 

Tapi…

Apakah kelapangan hati yang sesungguhnya

berarti harus mengalah

tanpa mencoba bertahan terlebih dahulu

Apakah kelapangan hati yang sesungguhnya

berarti menerima kekalahan

bahkan sebelum pertandingan berakhir

Jalan yang akan kau lalui masih panjang…

Kau tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi…

Oleh karenanya, mulai dari detik ini, lapangkanlah hatimu seluas mungkin…

Karena hanya dengan itu kau dapat bertahan…

Tha Man in the Iron Mask

Aku sudah menonton film ini 2 kali. Tapi film ini tetap menarik sekalipun telah ditonton berkali-kali. Satu hal yang kusuka dari film ini, sebuah fakta sejarah yang mengejutkan. Sebenarnya, aku sendiri kurang tau bagian mana di film ini yang benar-benar fakta dan mana yang hanya rekaan semata. Memang, di awal cerita, dibilang juga sih kalau ada bagian yang hanya legenda tapi sebagian besar isi film ini adalah fakta.

Film yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio ini diproduksi tahun 1998. Singkatnya, film ini bercerita tentang Raja Louis XIV dari Perancis yang ternyata diketahui memiliki seorang saudara kembar. Hanya sedikit sekali orang yang mengetahui hal ini. Menariknya, sifat keduanya sangatlah bertolak belakang. Louis, adalah seorang raja yang angkuh, hanya mementingkan diri sendiri dan memerintah dengan semena-mena. Sedangkan Philippe, bayangkan saja semua sifat yang berkebalikan dari itu semua. Dengan bantuan The Musketeers (Aramis, Athos, Porthos, dan D’Artagnan), sang raja angkuh itu berhasil digantikan oleh saudara kembarnya, Philippe, yang tentu saja karena tidak banyak orang yang menyadari adanya pergantian raja ini, Philippe tetap menggunakan nama saudaranya, Louis XIV sampai ia meniggal. Dan dalam kepemimpinannya, Perancis berada dalam masa kejayaannya.

Lalu apa maksudnya the man in the iron mask? Lelaki di balik topeng besi, itulah Philippe selama hidupnya sebelum ditemukan oleh Aramis, Athos, dan Porthos. Ia dipaksa untuk masuk penjara Bastille dan menggunakan topeng besi supaya tidak ada orang yang menyadari bahwa sang raja memiliki saudara kembar.

Sedikit tentang Louis XIV (1638-1715), dia mendapatkan titel raja semenjak usianya 5 tahun, dan menjadi raja yang berkuasa paling lama, yaitu 72 tahun. Dia juga dijuluki Sun King atau Raja Matahari dan Louis yang Agung (Louis le Grand, atau Le Grand Monarque).

Mengenai benar atau tidaknya cerita ini, tidak ada orang yang tau sampai sekarang. Karena ada sumber lain yang memasukkan beliau ke nomor tiga sebagai orang paling misterius. Menurut sumber itu, Man In The Iron Mask (Meninggal November 1973) adalah tahanan yang dikurung di sejumlah penjara di Perancis (termasuk penjara legendaris, Bastille) pada masa pemerintahan Raja Louis XIV. Identitas pria ini tidak pernah diketahui karena tidak ada yang pernah melihat wajahnya yang disembunyikan dalam sebuah topeng kulit berwarna coklat. Sekarang kita tahu, bahwa sejak jaman dahulu, orang suka membesar-besarkan cerita karena pada kisah-kisah yang beredar, diceritakan bahwa topeng tersebut terbuat dari baja yang menjadi awal nama julukan yang diberikan kepadanya.

Menurut surat yang diberikan kepada kepala Penjara di Pignerol (Bénigne Dauvergne de Saint-Mars) tempat pertama pria tersebut dipenjarakan, nama pria tersebut adalah Eustache Dauger. Dalam surat itu juga diinstruksikan agar disiapkan sebuah sel yang dilapisi dengan beberapa pintu (untuk mencegah orang dari luar mendengar suara dari dalam sel). Selain itu, juga dikatakan bahwa bila pria tersebut berbicara kepada orang lain selain untuk hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan pribadinya, dia akan dibunuh seketika.

Terlepas dari kebenaran cerita itu, aku ingin sedikit menyoroti pemainnya, Leonardo DiCaprio. Aku kagum pada aktor yang satu ini. Dalam setiap filmnya, pasti dia memerankan tokoh dengan watak yang jauh berbeda. Coba, lihat saja, mulai dari Titanic, Catch Me if You Can, The Aviator, Blood Diamond, The Beach, sampai film The Man in The Iron Mask ini. Aku memang belum menonton semua filmnya, tapi terlihat dia memang bisa memerankan semua tokoh itu dengan sangat baik. Apalagi di film The Man In the Iron Mask ini dia diharuskan untuk memerankan 2 tokoh yang kepribasiannya saling bertolakbelakang ini sekaligus. Well, dalam dunia akting, dia memang patut diacungi dua jempol.

Itu baru tentang Louis XIV saja yang kutau, masih banyak cerita sejarah lainnya yang menarik untuk diketahui. Huh, kenapa coba pas di SMA materi tentang Revolusi Perancis, Amerika, dan Inggris malah diilangin? Eh..malah diganti dengan materi-materi lain yang lebih ga penting dan tentunya lebih membosankan…

Sandiwara Langit

Begitulah judul yang tertera di cover depannya. Novel ini dibuat berdasarkan kisah nyata yang kembali diceritakan oleh orang lain. Ceritanya bermula dari seorang pemuda berusia 18 tahun yang mendatangi seorang ustadz untuk berkonsultasi tentang keinginannya untuk segera menikah lantaran ketidakmampuannya untuk menahan gejolak syahwatnya. Calon suda ada, namun masalahnya ada pada dirinya yang dinilai masih belum mapan secara finansial untuk berkeluarga. Benar saja, hal inilah yang menjadi ganjalan ketika dia melamar calonnya itu pada keluarganya. Walaupun begitu, pada akhirnya keluarga sang calon menerima lamaran pemuda itu dengan sebuah syarat yang cukup unik, yaitu bahwa jika dalam 10 tahun pernikahannya dia tidak mampu memberi istrinya sebuah kehidupan yang layak, maka ia harus menceraikan istrinya. Dan syarat ini harus diucapkan ketika akad nikah berlangsung.

Dari sinilah cerita sebenarnya dimulai. Di dalam novel ini kita dapat melihat perjuangan sepasang suami istri yang memulai biduk rumah tangga benar-benar dari titik nol. Hanya bermodalkan pemberian dari orangtua si pemuda yang tidak seberapa mereka memulai segalanya. Suka dan duka silih berganti menimpa pasangan ini. Namun, hebatnya, mereka tetap terus memegang teguh prinsip mereka yang selalu didasarkan pada Al-Quraan dan Sunnah. Dalam keseharian mereka, kata-kata yang terucap adalah firman-firman Allah dan sabda Rasul, hal ini dapat dilihat dari banyaknya cuplikan ayat-ayat Al-Quran yang tersebar di novel ini. Begitu seterusnya mereka menjalani kehidupan mereka, saling menyokong satu sama lain, hingga cinta di antara mereka pun tumbuh semakin dalam. Hingga pada akhirnya sebuah keputusan besar harus diambil. Dan cerita ini pun ditutup dengan sebuah ending yang sangat mengharukan.

Novel ini dapat membawa pembacanya ke dalam campuran emosi. Sedih, terharu, bahagia, sampai marah. Bukunya tidak terlalu tebal, hanya sekitar 100 halaman lebih, satu malam saja sudah cukup untuk menamatkan buku ini. Cara penyampaian penulis di dalam buku ini cukup enak, walaupun terasa tidak begitu mengalir kata-katanya. Mungkin karena ini memang buku yang agak serius, jadi kata-katanya terkesan sedikit kaku. Tapi overall, kita bisa mengambil begitu banyak hikmah dari kisah sepasang anak manusia tadi. Tidak akan rugi jika meluangkan waktu kita sebentar untuk membaca dan merenungi isi buku ini.

Jujur, novel ini merubah pandanganku tentang sebuah pernikahan. Ternyata, pernikahan tidak sesimple bayangan kita. Pernikahan bukan hanya tempat untuk saling mencurahkan kasih sayang satu sama lain, mendidik anak-anak, ataupun menghabiskan waktu susah senang bersama.

Bagi seorang suami, pernikahan berarti gerbang awal baginya untuk menjadi seorang pemimpin rumah tangga. Pemimpin, terdengar mudah, padahal esensinya sangat berat. Menjadi pemimpin berarti sudah harus memiliki arah akan dibawa kemana keluarganya nanti. Tentu saja pencapaian tertinggi semua orang adalah memasuki surgaNya yang kekal. Namun, jalan apa yang akan dipilih untuk meraihnya? kendaraan apa yang akan digunakan untuk menuju ke sana? Jika standar seorang pemimpin yang ideal adalah seperti pemuda di dalam novel ini, maka itu berarti standarnya terlalu tinggi dari yang aku bayangkan sebelumnya, dan masalahnya adalah aku pasti tidak bisa mengimbanginya.

Bagi seorang istri, sudah tentu pastinya harus selalu menemani dan mendukung suami kita dalam keadaan apapun. Mungkin sekarang, kita bisa saja berkata bahwa kita akan mampu menemani suami kita dalam keadaan apapun, termasuk keadaan paling sulit sekalipun, tapi pasti dalam prakteknya akan lebih sulit. Seorang istri mempunyai sebuah tugas yang cukup berat bagi dirinya sendiri, yaitu mencari ridho suaminya. Dan untuk mendapatkannya bukankah kita harus terlebih dahulu menjadi seorang istri yang sholihah? Tugas yang berat, tapi untuk mencapainya, bukan sebuah hal yang tidak mungkin.

Team work, sepertinya itu yang dibutuhkan…