Ujung Bernama Kematian

Ceritanya udah lumayan lama…sekitar 3-4 minggu yang lalu…
Hari Senin itu aku diminta pulang oleh orangtuaku, dengan alasan…ohhh tidak..buat beli sepatu besoknya. Tapi, akhirnya sih ga jadi besoknya, jadinya sore2 aku langsung dari kampus ke cibaduyut sendirian. Dan pulang ke rumah malem-malem, sendirian pula…di angkot yang penuh dengan laki-laki bertampang sangar. Serem sih…untung ga ada apa-apa.

Belum nyampe satu setengah jam di rumah, ada berita mengejutkan yang menghampiriku. Bapak masuk rumah, dan bilang ke aku dan ibuku yang waktu itu lagi nonton TV, “Kayaknya Pak —- meninggal deh..” kami berdua kaget sekali. Untukku kagetnya nambah karena selanjutnya Bapak bilang, “Kak, kamu bisa ngecek ga, udah meniggal atau belum, kamu bisa ngebedain nadi yang udah meninggal sama yang belum kan?”

Ngitung nadi orang yang masih hidup sih gampang, tapi, aku belum pernah ngecek orang meninggal sebelumnya. Dengan jantung berdegup kencang, aku berangkat ke rumahnya yang terletak di 2 rumah samping depan rumahku.

Di sana, aku benar-benar melihat sebuah drama kehidupan, dimana sebuah keluarga menangis ditinggalkan sang imam. Aku dan ayahku masuk ke kamarnya, dan aku langsung mengecek nadi radialisnya. Kupegang tangannya masih hangat, aku meraba cukup lama, tapi aku tetap tidak yakin. Aku merasakan di ujung ketiga jariku terasa ada denyutan. Tapi, karena jantungku sendiri berdegup kencang, jadi aku tidak tau berasal dari mana denyutan itu. Untuk memeriksa lebih jauh lagi di nadi carotis, aku sudah kehilangan keberanian, karena percuma saja memeriksa dalam keadaan deg-degan, karena akan terjadi blur seperti tadi.

Akhirnya, semua keputusan diserahkan pada dokter yang datang tak lama kemudian. Awalnya aku tidak mau ikut masuk melihat dokter memeriksa. Jujur aku tidak tega melihat sebersit harapan dari keluarganya ketika dokter tiba. Tapi, atas desakan ibuku, aku masuk juga.

Pertama, dokter memeriksa tekanan darahnya. Aku tidak dapat melihat hasilnya dengan jelas, tapi kuduga tidak ada getaran pada jarumnya yang biasanya terlihat jika terasa tekanan systole. Kemudian, dokter beralih memeriksa dada beliau yang sudah sangat kurus dimakan oleh penyakit yang telah beberapa lama ini menggerogoti tubuhnya dengan stetoskop. Pemeriksaan ini berlangsung cukup lama, mungkin ada 2 menit. Mungkin, dokternya tidak ingin gegabah memutuskan, karena ini berhubung dengan harapan sebuah keluarga. Terakhir, dokter meminta izin pada istrinya untuk membuka matanya. Istrinya mengizinkan dengan menambahkan, “..yang sebelah kanan saja, dok, soalnya yang kiri sudah tidak berfungsi..” memang, tumornya itu menyerang mata kirinya sehingga sudah lama menjadi tidak berfungsi. Dokter pun membuka matanya dan mengarahkan senter ke matanya. Setelah selesai, ayahku kembali bertanya, “gimana dok, udah ga ada..?”
Ketika dokter menggeleng, pecahlah lagi tangisan ibu dan anak yang sebelumnya reda karena melihat secuil harapan.

Alu sungguh-sungguh tidak tahan berada di dalam sana. Aku tidak tega. Dan pada saat itu, aku membayangkan bagaimana jika yang tergolek lemah itu adalah ayahku?

Istri dan anaknya pun dibawa keluar kamar untuk ditenangkan. Jujur, aku tidak bisa mengatakan apa-apa, I was totally speechless.

Lalu, bagaimana dengan nasib putri tertuanya yang kini sedang kuliah di Jakarta? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya ketika mendengar ayahnya telah tiada. Aku juga tidak bisa membayangkan ketika sedang belajar di sini, aku mendapat kabar yang sama.

Karena tidak tahan lagi, aku mengajak ibuku untuk pulang. Di rumah, aku merenungi semua yang terjadi tadi. Bagaimana nasib sebuah keluarga yang kini benar-benar ditinggal oleh tulang punggungnya? Bagaimana nasib anak-anaknya yang masih ingin mengecap pendidikan? Dan bagaimana jika itu semua terjadi pada keluaragku?

Aku tau, semua itu sama sekali tidak dapat diprediksi. Segalanya dapat hilang hanya dengan jentikan tangan Yang Maha Kuasa.

Aku tau, bahkan sedetik pertemuan bersama keluarga pun akan sangat berharga jika kita telah kehilangan mereka. Sekalipun aku tidak setiap saat bisa pulang ke rumah, setiap kali pulang, aku ingin benar-benar memanfaatkan setiap detik kebersamaanku bersama keluargaku, karena aku tidak ingin menyesal di akhir karena telah menyia-nyiakannya.

Sangat beruntung, orang yang bisa selalu dekat dengan keluarganya. Namun, dia akan menjadi sangat tidak beruntung, jika kesempatan itu tidak dimanfaatkannya untuk mempersembahkan yang terbaik dari yang bisa kita berikan kepada mereka.

Bagi teman-teman yang jarang bertemu keluarganya, jangan sedih, karena masih ada sesuatu yang bernama do’a yang dapat kita persembahkan untuk kedua orang tua kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s