Aku Tak Ingin Hanya Diam

ku ingin terbang
tuk menikmati birunya langit

     ku ingin berlari di pantai
     tuk merasakan deburan ombak

ku ingin mendaki puncak gunung tertinggi
tuk menghirup udara kebebasan

     ku ingin mengunjungi sabana
     tuk menyapa angin yang menari riang

ku ingin menyelami samudera yang dalam
tuk meneguk sari-sari pati kehidupan

     ku ingin melintasi benua yang luas
     tuk mengecap manisnya petualangan

ku ingin menjelajahi galaksi sampai ke Andromeda
tuk memetik mimpi-mimpi nun jauh di sana

     aku ingin semua itu...
     aku tak ingin hanya diam...

Goes to Semarang

Waaahhh,,,senang sekali rasanya bisa berakhir pekan di luar kota. Lumayanlah untuk melarikan diri sejenak dari kepenatan kehidupan kampus. Rasanya: Luar Biasa !! Coba bayangkan bagaimana jadinya pergi ke tempat asing yang belum pernah dikunjungi sebelumnya ditemani dengan teman-teman yang juga sama butanya tentang tempat tujuan?? Terbayang ? Maka hasilnya adalah sebuah petualangan seru !!

Ketika diajak untuk ikut acara ini _setelah memastikan tidak ada acara yang bentrok_ aku langsung menyanggupi, tanpa tau apa materi yang akan diberikan, siapa pematerinya, dimana tempat acaranya, dan yang paling penting: bagaimana cara supaya bisa sampai ke sana.  Yang ku tau hanyalah, hari Minggu tanggal 19 Oktober bakal ada seminar kedokteran Islam di Undip _yang ini padahal salah, karena ternyata tempatnya bukan di Undip, tapi di balaikota_ titik. Info-info tadi _kecuali yang terakhir_ baru ku dapatkan ketika 5 menit sebelum berangkat dari kostan, itu pun hanya dari sms.

Tapi dengan semangat kenekatan dan dilandasi niat ingin merasakan sebuah pengalaman baru, berangkatlah juga akhirnya kami ber-4 (T Nana, Maryam, Vita, dan aku sendiri). Setelah menunggu bis Bandung Express (baru tau kalo bis ini emang bener-bener ada, kupikir ini hanya bis khayalan teman sebangkuku waktu SD yang selalu ia gambar di penghapusnya) di pertigaan Cileunyi cukup lama (bis-nya ngaret > 30 menit), masuklah kami ke dalam bis menuju Semarang menempati 4 kursi kosong yang memang sudah di-reservasi sebelumnya.

Niat untuk menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dikalahkan oleh rasa kantuk yang menyerang. Lagipula, memang apa yang mau dilihat? wong sepanjang jalan gelap gitu kok..

Aku sendiri baru bangun ketika bis melintasi entah kota apa. Di luar sudah terang sekali padahal masih jam 5. Shalat subuh pun jadi terlambat, walaupun tetap dilakukan di dalam bis yang berguncang-guncang (paling parah pas wudhunya, udah mah pintu toiletnya harus dipegangin terus, untuk mempertahankan keseimbangan pun sangat sulit) Dari situ aku baru bisa menikmati pemandangan. Dan yang disajikan oleh alam adalah hamparan sawah yang luas sekali seolah tanpa batas. Jarang sekali ada pemandangan rumah-rumah penduduk, perumahan-perumahan, apalagi gedung-gedung bertingkat.

Jam 6 bis berhenti di sebuah rumah makan di Kendal. Kami pun mengisi perut kami yang kosong dengan semangkuk soto ayam dan segelas wedang jahe (salah satu kuliner incaran jika pergi ke Semarang). Betapa terkejutnya kami ketika mba2 di rumah makan itu bilang kalau Semarang masih satu jam lagi perjalanan. Berarti…wuihh..

Dan benar saja, baru jam tujuh kita sampai ke benar2 kota Semarang. Kita pun diturunkan di depan kantor si bis. Dan ketika kami bertanya, “Kalau ke balaikota lewat mana ya?”. Si Bapak pun menjawab, “Ohh.. mau ke balaikota? padahal sebelum ke sini tadi juga lewat sana..harusnya tadi bilang dulu kalau mau turun di sana..”. Gubrakk..!! satu kesalahan..

Panitia pun ditelpon untuk dimintai tolong jemput kami di daerah entah namanya apa. Tapi…mungkin karena sedang sibuk semua jadi tak ada yang bisa jemput. Kami hanya disarankan untuk naik taksi karena hanya itu yang bisa mengantarkan kami (di sana angkot tak begitu banyak seperti di Bandung). Sementara itu, ada tukang becak yang menawarkan jasanya dan membuat kami tambah bingung. Di satu sisi, menggunakan taksi bisa jadi lebih murah karena ditanggung ber-4 tapi susah untuk didapat. Setiap taksi yang lewat pasti ada penumpangnya. Si Mang becak terus memprovokasi kami untuk menggunakan jasanya daripada harus berlama-lama menunggu taksi yang datang. Kami pun ditawari harga 7500 untuk satu becak. Untuk ukuran becak itu memang sangat mahal, dan susahnya lagi, setelah perdebatan cukup sengit, tak mau dia kalau ditawar. Yaa..sudah lah, berhubung kita sudah telat ke acaranya, daripada nunggu sesuatu yang tak jelas kapan datangnya, lebih baik baik naek becak. Akhirnya kami pergi ke balaikota dengan 2 becak melewati jalan2 kecil kota Semarang. Satu pengalaman bonus yang didapat, kita bisa sekalian melihat kondisi kota Semarang yang  menurutku sangat sepi dan tertib. Moment itu pun tak kusia-siakan dengan mengambil foto di sana-sini.

Akhirnya,,sampai juga di balaikota. Padahal sebelumnya ada yang memberi tau kalau sebenarnya jalan itu tidak boleh dimasuki oleh becak. Untungnya, materi belum dimulai. Karena ternyata kita ditolong juga oleh _seperti biasa_ sambutan2 yang biasa menghiasi pembukaan sebuah acara. Dan selanjutnya, kita pun siap mendengarkan materi…

Materi pertama tentang Islamic Medicine Past, Present and Future yang dibawakan oleh dr. Pukovisa. Intinya, pesan yang disampaikan beliau adalah mengajak kita semua untuk kembali bangkit merebut masa kejayaan Islam yang dulu sempat merajai dunia. Berhubung kita bergerak dalam bidang kesehatan, maka fokuslah dalam bidang itu untuk mencapai tujuan tersebut.

Sesi kedua adalah talkshow dengan 4 pembicara, yang masing-masing membahas tema malpraktek dari sudut pandang agama, media massa, dan dari kedokteran itu sendiri. Dari semuanya, yang paling membuat kami terkesan adalah apa yang disampaikan dr. Hanny Ronosulistyo, SpOG bahwa sebenarnya yang namanya malpraktek itu tidak akan pernah terjadi jika kita menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam menjalankan pekerjaan. Beliau juga mengingatkan bahwa nantinya kita akan banyak berhadapan dengan para pengacara yang sangat sensitif terhadap masalah ini. Kembali lagi, supaya kita tidak perlu berurusan dengn mereka, menerapkan nilai-nilai Islam adalah solusi terbaik. Terakhir, beliau menyajikan sebuah perenungan yang sangat menyentuh mengenai betapa Rasulullah sangat menyayangi umatnya. Jamin, setelah melihatnya, semua orang pasti mengucurkan air matanya, atau bagi yang malu untuk menangis, setidaknya pasti ada genangan air di matanya.

The last but not the least, even the most incredible adalah Prof.Dr. Omar Hasan Kasule,MPH yang juga merupakan dosen di Brunei dan Malaysia. Kesan yang aku dapat dari beliau sangat positif, bahwa bukan tidak mungkin untuk mendirikan rumah sakit yang berbasis Islam. Jika berkaca dari bank syariah yang mungkin 5 tahun lalu belum terlalu kita kenal, tapi lihat sekarang keadannya !! Bank syariah menjamur dimana-mana. Jadi, menjamurkan rumah sakit Islam bukan tidak mungkin kan? Mungkin banyak yang harus dipersiapkan, namun, jika melihat efeknya pada dunia…bayangkan saja jika minimal seluruh negara Islam kompak untuk memiliki berjuta-juta rumah sakit yang berbasis Islam, maka kita dapat dengan lantangnya berkata pada dunia : Lihatlah..!!! Peradaban Islam telah Kembali..!!!

Setelah mendapat berbagai macam ilmu yang sangat hebat dari orang-orang yang hebat pula, kini saatnya kami memikirkan bagaimana cara pulang balik ke Bandung? Katanya, Bandung Express habis, Kramat Jati apalagi, giliran tiket kereta juga ikut-ikutan habis. Well, ujung-ujungnya kita _ber-7 kali ini_ menyewa sebuah travel. Karena masih lama sampai travel itu menjemput kita, akhirnya kita numpang shalat magrib+isya di kostan salah satu panitia yang juga teman SMA T’Moi, T’Nisa namanya. Sedikit mengorbankan waktu belajarnya, karena esoknya ada ujian katanya, dia mau juga menampung orang-orang ga jelas ini. Makasih banyak ya teh…(atau mba ?? ;>)

Oh, ya, sebelumnya, satu yang tidak boleh dilupakan…oleh-oleh!!! Untuk apa jauh-jauh ke Semarang tanpa bawa oleh-oleh. Alhasil, tak kusia-siakan perjalanan singkat ke Pandanaran dari balaikota (kurang dari 5 menit, tapi T Nana terlalu baik bayar taxinya 10rb, padahal di argo cuma 4500) untuk memborong apa pun yang kuminati. Wingko babat, yangko, kripik tahu, krupuk gendar, getuk, lumpia goreng dan yang paling menarik adalah madu wongso yang dibentuk bunga sedemikian rupa oleh waarna-warni kertas krep yang sangat atraktif. Karena warnanya itulah aku tertarik untuk membelinya. Awalnya mau ditambah dengan bandeng prestonya juga, karena dari yang kutahu Semarang memang terkenal dengan bendengnya, tapi dengan melihat harganya aja udah bergidik.

Ok, kembali ke perjalanan pulang. Bada Isya kami ber-4 dijemput oleh si travel yang di dalamnya sudah terlebih dulu ada T’Moi, T’Ghea, dan Nestri. Travel itu kami kuasai, HAHA..mulai dari ngobrol sampai berantem di dalamnya pun jadi. Kasian pak supirnya harus menghadapi kelakuan aneh-aneh kami. Tak terasa kami sudah sampai Jatinangor lagi jam 4.30, lebih cepat dari yang dibayangkan. Untunglah, masih ada waktu untuk mempersiapkan diri untuk kuliah jam7nya (dari mandi sampai ngerjain LI)

Hmmhh..Jika di-review ulang, AKU SANGAT SENANG…ini pertama kalinya aku pergi ke luar kota tanpa ditemani keluarga atau ikut sebuah biro perjalanan. Sebuah pengalaman yang tak akan kulupakan. Dan yang paling pasti, aku tak akan menjadikan ini pengalaman terakhirku berkelana tanpa guide. Karena aku masih ingin merasakan sensasi ini berjuta kali lagi, ke tempat berbeda-beda yang belum pernah aku kunjungi sebellumnya. Dunia…tunggu aku..!!

Preambule..

Yang bisa  kukatakan sebagai pembukaan adalah…fuihh..!! akhirnya…

Akhirnya,,aku berani mengambil satu langkah awal untuk membuat sebuah perubahan. Dimulai dari diri sendiri dulu, karena jangankan untuk merubah sebuah hal yang besar, memaksa diri untuk memulai sesuatu pun sangat sulit.

Aku juga heran kenapa aku begitu sulit untuk memulai sesuatu, dalam hal ini menulis. Aku pribadi memang bukan tipe orang yang dapat dengan mudah untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran. Terkadang,,semua yang ingin  kukatakan sudah ada di ujung mulut, tapi yang terjadi kemudian ada dua kemungkinan:

  1. kemungkinan pertama, kata-kata itu tidak jadi keluar, karena seperti ada tahanan yang tidak mengizinkannya untuk keluar
  2. kemungkinan kedua, kata-kata itu akhirnya keluar juga, tapi tidak dalam satu kesatuan kalimat yang utuh dan enak didengar. seolah-olah semua kata-kata itu berlomba-lomba ingin keluar duluan tanpa menghiraukan urutan kapan seharusnya mereka keluar

Seorang teman pernah menyarankan untuk menulis, supaya kita bisa belajar untuk merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat yang benar. OK..aku coba untuk menulis di buku harian. Tapi, karena sulit untuk memulai itu tadi, buku harian yang memang seharusnya diisi harian, hanya  kuisi ketika sedang mood saja.

Tapi, aku merasa kemampuan berbahasaku menjadi lebih baik setelah banyak berbincang dengan temanku yang satu itu. Pemikirannya yang kritis dan cara penyampaiannya yang bagus mengajariku cukup banyak.

Kemudian, niat untuk menulis lewat media lain, yaitu blog ini baru ada ketika akan memasuki tahun keduaku di FK. Temanku yang lain yang memang sudah lebih dulu menulis di blog pribadinya, mengajariku pentingnya sebuah dokumentasi kehidupan.

Memang, kalau dipikir-pikir akan sangat disayangkan jika event-event dalam hidup kita terlewatkan begitu saja. Akan ada banyak sekali mozaik kehidupan yang sangat menarik untuk diceritakan kembali. Bahkan, siapa tau bisa menginspirasi orang lain..^^

Apalagi kedepannya aku akan banyak berkutat di dunia kedokteran, yang pastinya akan banyak sekali pengalaman menarik yang sayang jika tidak dibagi. Pada sat ko-ass misalnya, pertama kalinya menangani  pasien secara langsung, sebuah ajang realisasi pendidikan yang sudah didapat sebelumnya. Mulai dari pengalaman-pengalaman lucu, mungkin, sampai sejuta pelajaran moral yang akan sangat berharga sebagai bekal kehidupan kita kedepannya.

Jadi, dengan menulis berarti kita tidak melupakan masa lalu, memanfaatkan saat ini, dan bisa merencanakan masa depan…

Untuk siapapun yang juga mengalami hal yang sama,,Mulailah sekarang juga..!! Sekalipun sulit pada awalnya, tapi itu tak akan berlangsung lama. Dan jangan pernah merasa terlambat, karena tak pernah ada kata terlambat untuk berubah.

Ingatlah bahwa dari 1000 mil perjalanan panjang yang akan kita tempuh, pasti berawal dari satu langkah kecil…