Tha Man in the Iron Mask
January 6, 2009 at 6:02 pm | In Review | 1 CommentAku sudah menonton film ini 2 kali. Tapi film ini tetap menarik sekalipun telah ditonton berkali-kali. Satu hal yang kusuka dari film ini, sebuah fakta sejarah yang mengejutkan. Sebenarnya, aku sendiri kurang tau bagian mana di film ini yang benar-benar fakta dan mana yang hanya rekaan semata. Memang, di awal cerita, dibilang juga sih kalau ada bagian yang hanya legenda tapi sebagian besar isi film ini adalah fakta.
Film yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio ini diproduksi tahun 1998. Singkatnya, film ini bercerita tentang Raja Louis XIV dari Perancis yang ternyata diketahui memiliki seorang saudara kembar. Hanya sedikit sekali orang yang mengetahui hal ini. Menariknya, sifat keduanya sangatlah bertolak belakang. Louis, adalah seorang raja yang angkuh, hanya mementingkan diri sendiri dan memerintah dengan semena-mena. Sedangkan Philippe, bayangkan saja semua sifat yang berkebalikan dari itu semua. Dengan bantuan The Musketeers (Aramis, Athos, Porthos, dan D’Artagnan), sang raja angkuh itu berhasil digantikan oleh saudara kembarnya, Philippe, yang tentu saja karena tidak banyak orang yang menyadari adanya pergantian raja ini, Philippe tetap menggunakan nama saudaranya, Louis XIV sampai ia meniggal. Dan dalam kepemimpinannya, Perancis berada dalam masa kejayaannya.
Lalu apa maksudnya the man in the iron mask? Lelaki di balik topeng besi, itulah Philippe selama hidupnya sebelum ditemukan oleh Aramis, Athos, dan Porthos. Ia dipaksa untuk masuk penjara Bastille dan menggunakan topeng besi supaya tidak ada orang yang menyadari bahwa sang raja memiliki saudara kembar.
Sedikit tentang Louis XIV (1638-1715), dia mendapatkan titel raja semenjak usianya 5 tahun, dan menjadi raja yang berkuasa paling lama, yaitu 72 tahun. Dia juga dijuluki Sun King atau Raja Matahari dan Louis yang Agung (Louis le Grand, atau Le Grand Monarque).
Mengenai benar atau tidaknya cerita ini, tidak ada orang yang tau sampai sekarang. Karena ada sumber lain yang memasukkan beliau ke nomor tiga sebagai orang paling misterius. Menurut sumber itu, Man In The Iron Mask (Meninggal November 1973) adalah tahanan yang dikurung di sejumlah penjara di Perancis (termasuk penjara legendaris, Bastille) pada masa pemerintahan Raja Louis XIV. Identitas pria ini tidak pernah diketahui karena tidak ada yang pernah melihat wajahnya yang disembunyikan dalam sebuah topeng kulit berwarna coklat. Sekarang kita tahu, bahwa sejak jaman dahulu, orang suka membesar-besarkan cerita karena pada kisah-kisah yang beredar, diceritakan bahwa topeng tersebut terbuat dari baja yang menjadi awal nama julukan yang diberikan kepadanya.
Menurut surat yang diberikan kepada kepala Penjara di Pignerol (Bénigne Dauvergne de Saint-Mars) tempat pertama pria tersebut dipenjarakan, nama pria tersebut adalah Eustache Dauger. Dalam surat itu juga diinstruksikan agar disiapkan sebuah sel yang dilapisi dengan beberapa pintu (untuk mencegah orang dari luar mendengar suara dari dalam sel). Selain itu, juga dikatakan bahwa bila pria tersebut berbicara kepada orang lain selain untuk hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan pribadinya, dia akan dibunuh seketika.
Terlepas dari kebenaran cerita itu, aku ingin sedikit menyoroti pemainnya, Leonardo DiCaprio. Aku kagum pada aktor yang satu ini. Dalam setiap filmnya, pasti dia memerankan tokoh dengan watak yang jauh berbeda. Coba, lihat saja, mulai dari Titanic, Catch Me if You Can, The Aviator, Blood Diamond, The Beach, sampai film The Man in The Iron Mask ini. Aku memang belum menonton semua filmnya, tapi terlihat dia memang bisa memerankan semua tokoh itu dengan sangat baik. Apalagi di film The Man In the Iron Mask ini dia diharuskan untuk memerankan 2 tokoh yang kepribasiannya saling bertolakbelakang ini sekaligus. Well, dalam dunia akting, dia memang patut diacungi dua jempol.
Itu baru tentang Louis XIV saja yang kutau, masih banyak cerita sejarah lainnya yang menarik untuk diketahui. Huh, kenapa coba pas di SMA materi tentang Revolusi Perancis, Amerika, dan Inggris malah diilangin? Eh..malah diganti dengan materi-materi lain yang lebih ga penting dan tentunya lebih membosankan…
Sandiwara Langit
January 6, 2009 at 5:17 pm | In Review | 1 CommentTags: novel, novel sandiwara langit, resensi, resensi buku, sandiwara langit
Begitulah judul yang tertera di cover depannya. Novel ini dibuat berdasarkan kisah nyata yang kembali diceritakan oleh orang lain. Ceritanya bermula dari seorang pemuda berusia 18 tahun yang mendatangi seorang ustadz untuk berkonsultasi tentang keinginannya untuk segera menikah lantaran ketidakmampuannya untuk menahan gejolak syahwatnya. Calon suda ada, namun masalahnya ada pada dirinya yang dinilai masih belum mapan secara finansial untuk berkeluarga. Benar saja, hal inilah yang menjadi ganjalan ketika dia melamar calonnya itu pada keluarganya. Walaupun begitu, pada akhirnya keluarga sang calon menerima lamaran pemuda itu dengan sebuah syarat yang cukup unik, yaitu bahwa jika dalam 10 tahun pernikahannya dia tidak mampu memberi istrinya sebuah kehidupan yang layak, maka ia harus menceraikan istrinya. Dan syarat ini harus diucapkan ketika akad nikah berlangsung.
Dari sinilah cerita sebenarnya dimulai. Di dalam novel ini kita dapat melihat perjuangan sepasang suami istri yang memulai biduk rumah tangga benar-benar dari titik nol. Hanya bermodalkan pemberian dari orangtua si pemuda yang tidak seberapa mereka memulai segalanya. Suka dan duka silih berganti menimpa pasangan ini. Namun, hebatnya, mereka tetap terus memegang teguh prinsip mereka yang selalu didasarkan pada Al-Quraan dan Sunnah. Dalam keseharian mereka, kata-kata yang terucap adalah firman-firman Allah dan sabda Rasul, hal ini dapat dilihat dari banyaknya cuplikan ayat-ayat Al-Quran yang tersebar di novel ini. Begitu seterusnya mereka menjalani kehidupan mereka, saling menyokong satu sama lain, hingga cinta di antara mereka pun tumbuh semakin dalam. Hingga pada akhirnya sebuah keputusan besar harus diambil. Dan cerita ini pun ditutup dengan sebuah ending yang sangat mengharukan.
Novel ini dapat membawa pembacanya ke dalam campuran emosi. Sedih, terharu, bahagia, sampai marah. Bukunya tidak terlalu tebal, hanya sekitar 100 halaman lebih, satu malam saja sudah cukup untuk menamatkan buku ini. Cara penyampaian penulis di dalam buku ini cukup enak, walaupun terasa tidak begitu mengalir kata-katanya. Mungkin karena ini memang buku yang agak serius, jadi kata-katanya terkesan sedikit kaku. Tapi overall, kita bisa mengambil begitu banyak hikmah dari kisah sepasang anak manusia tadi. Tidak akan rugi jika meluangkan waktu kita sebentar untuk membaca dan merenungi isi buku ini.
Jujur, novel ini merubah pandanganku tentang sebuah pernikahan. Ternyata, pernikahan tidak sesimple bayangan kita. Pernikahan bukan hanya tempat untuk saling mencurahkan kasih sayang satu sama lain, mendidik anak-anak, ataupun menghabiskan waktu susah senang bersama.
Bagi seorang suami, pernikahan berarti gerbang awal baginya untuk menjadi seorang pemimpin rumah tangga. Pemimpin, terdengar mudah, padahal esensinya sangat berat. Menjadi pemimpin berarti sudah harus memiliki arah akan dibawa kemana keluarganya nanti. Tentu saja pencapaian tertinggi semua orang adalah memasuki surgaNya yang kekal. Namun, jalan apa yang akan dipilih untuk meraihnya? kendaraan apa yang akan digunakan untuk menuju ke sana? Jika standar seorang pemimpin yang ideal adalah seperti pemuda di dalam novel ini, maka itu berarti standarnya terlalu tinggi dari yang aku bayangkan sebelumnya, dan masalahnya adalah aku pasti tidak bisa mengimbanginya.
Bagi seorang istri, sudah tentu pastinya harus selalu menemani dan mendukung suami kita dalam keadaan apapun. Mungkin sekarang, kita bisa saja berkata bahwa kita akan mampu menemani suami kita dalam keadaan apapun, termasuk keadaan paling sulit sekalipun, tapi pasti dalam prakteknya akan lebih sulit. Seorang istri mempunyai sebuah tugas yang cukup berat bagi dirinya sendiri, yaitu mencari ridho suaminya. Dan untuk mendapatkannya bukankah kita harus terlebih dahulu menjadi seorang istri yang sholihah? Tugas yang berat, tapi untuk mencapainya, bukan sebuah hal yang tidak mungkin.
Team work, sepertinya itu yang dibutuhkan…
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.