Persahabatan itu…apakah murni..???
April 19, 2009 at 11:24 pm | In Experience, Inspirasi | 6 CommentsTags: cinta, pacaran Islami, persahabatan, sayang
Sejauh yang kutau, kudengar, dan kualami sendiri, tidak ada yang namanya persahabatan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan tanpa di dalamnya ada perasaan yang tidak biasa, maksudnya perasaan lebih dari sekedar persahabatan. Entah apakah perasaan itu dimiliki oleh keduanya, atau hanya salah satunya saja..tetap saja ada sesuatu yang lebih…
Perasaan itu bisa saja sudah ada sejak awal, atau akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Terkadang bahkan tidak disadari keberadaannya, atau tidak dikenali. Yang kita rasakan hanyalah perasaan nyaman ketika berada di dekatnya, nyaman untuk berbicara lepas kepadanya dan menceritakan semua yang kita rasakan. Ini merupakan fase “tidak sadar” akan perasaan yang sesungguhnya. Lama kelamaan, satu hal yang aku sendiri belum mengerti bagaimana mekanismenya, perasaan ini akan tumbuh menjadi rasa care terhadap yang lainnya dan munculnya keinginan untuk selalu bersama dan saling mengayomi. Jika ini terjadi, berarti telah memasuki fase “sayang”.
Banyak orang yang berpendapat mana yang lebih kuat, perasaan cinta atau sayang. Aku sendiri berpendapat sayang itu jauh lebih kuat daripada hanya sekedar cinta. Cinta bisa tumbuh dalam sekejap dan hilang dalam sekejap pula. Sedangkan rasa sayang, butuh waktu yang sangat lama untuk menumbuhkannya, dan aku jamin itu akan abadi, tak akan pernah hilang. Untuk merasakan apakah itu cinta, diperlukan debaran-debaran khusus, namun tidak untuk sayang. Yang muncul hanyalah perasaan hangat yang menguar dari diri kita kita bertemu yang kita sayangi.
Jika diukur dari kedalaman pun, jelas sayang jauh lebih mendalam. Kata orang pun, dalam membina rumah tangga, rasa cinta itu hanya akan bertahan 1 hingga 2 tahun usia perkawinan. Selebihnya, rasa sayang dan rasa hormat lah yang akan menggantikan.
Aku mencoba memandang fenomena ini dari sisi lain, syar’i. Bagaimana menurut agama kita, bila seorang laki-laki dan seorang wanita sering menghabiskan waktu bersama, mengobrol lepas dengan bebasnya, dan menyadari bahwa ada perasaan lebih dari sekedar teman biasa. Sekalipun kita tetap menjaga hijab, dan tidak menamai hubungan ini sebagai pacaran, apa itu masih dapat dibenarkan menurut ketentuan agama? Jika dilihat dari luar, ya, bisa dibenarkan, lagipula tidak ada orang yang tau apa yang sebenarnya kita rasakan. Tapi bagaimana dengan pikiran kita yang terus tertuju pada seseorang, menyisakan ruang di hati dan pikiran kita untuk seseorang yang khusus. Siapa yang tahu? Apa bedanya dengan pacaran jika begitu? apakah ini yang disebut dengan pacaran yang Islami, jika memang ada?
Aku mengungkapkan semua ini bukan berarti aku merasa aku selalu benar. Aku juga pernah berada dalam situasi seperti ini. Mengapa aku bisa menggambarkan detail perasaan itu, karena aku sendiri pernah merasakannya. Namun, setelah aku mengerti, aku tau bahwa ada yang salah dengan hubungan ini, bukan seperti ini seharusnya. Sampai akhirnya, aku merasa harus melakukan sesuatu. Mundur. Pelan-pelan. Menjauh. Ini bukan jalan yang terbaik. Aku tidak akan pernah menyarankan ini kepada siapapun. Karena ini telah membuatku kehilangan salah satu sahabat terbaikku, tanpa aku bisa menjelaskan padanya mengapa aku melakukan ini. Aku menyesal, harus seperti ini akhirnya.
Untuk siapapun yang terlebih dahulu menyadari bahwa hubungan ini sudah terlalu dekat, bicarakan ini baik-baik dengan sahabatmu. Jelaskan padanya. Syukur-syukur dia bisa mengerti. Memang pasti sulit untuk mengakhiri. Tapi, coba kita pikir lagi, mana yang lebih utama, melakukan apa yang kita inginkan padahal itu salah, atau melakukan apa yang benar, padahal kita tidak menginginkannya?
Maaf, bukan bermaksud untuk menyinggung beberapa pihak, hanya sekedar ingin berbagi setelah melihat fenomena seperti ini di sekitarku.
ehm..Jogja -part3-
February 5, 2009 at 5:54 pm | In Experience | Leave a CommentHari Minggu, 14 Desember 2008, kami semua _yang ikut workshoop_ digiring ke Kampus UGM, di-drop di gedung…apa ya namanya? Pokoknya di gedung tempat anak UGM biasa lecture. Dari situ, yang BAPIN harus naik lagi ke LANTAI 5, paling atas..karena disitulah tempat kami.
Ruangannya lucu banget deh..bolong-bolong, dindingnya dilapisi kain empuk supaya suaranya ga mantul. Di situ, materi pertama yang kita dapat tentang Biomedical Research. Pas materi itu, serasa dapet materi biokim lagi, jadi inget dr. Tri deh…Tapi emang beneran! di situ tuh kebanyakan cuma review tentang materi DNA dan kawan-kawan. Cuma, ada satu yang beda. Qt semua dikasi tau bahwa perkembangan penelitian di bidang genetika sekarang tuh udah berkembang dengan sangat pesat. Buktinya aja, setelah menyelesaikan proyek pemetaan gen, sekarang sedang dilakukan pemetaan epigenome pada manusia. Kalo yang aku tangkap sih epigenome itu lebih spesifik lagi dari gen. Jadi, epigenome itu udah ngeliat variasi pada proses translasi protein, terutama pas metilasi-nya.
Materi kedua tentang Clinical Research. Jujur, sebenernya ga terlalu nangkep inti dari materinya apa. Aku masih belum ngerti jadi sebenernya bidang klinis yang bisa kita jadikan bahan penelitian itu yang mana. Bagi orang lain jelas kali ya..cuma karna akunya yang waktu itu rada2 ngantuk aja kali ya..he..he.. Materi ketiga tentang Community Research. Wahh..qt langsung diajarin sama expert-nya, dr. Yodi. Selain aktif menjadi peneliti di Indonesia, kemampuan beliau juga diakui oleh dunia penelitian internasional lho…
Terus, kita dikasih materi tentang pembuatan poster ilmiah. Ohh..ini materi yang benar2 baru buatku. Ya..walaupun belum mahir, setidaknya jadi tau dasar2nya..Kalo cuma dikasih tau teorinya aja ga enak donk..makanya keesokan harinya kita disuruh langsung praktek bikin poster ilmiah. Kita pergi ke perpusnya FK UGM buat nyari bahan, alias literature searching..materi ini juga sebelumnya udah dikasih tentunya. Selain dari jurnal2 yang ada di perpus, kita juga diperbolehkan nyari literatur di internet, di situs terpercaya tentunya..tapi ada satu masalah..waktu itu mati lampu, jadi kita harus gentian nyalain laptop masing-masing, supaya hemat! Ga begitu sulit ternyata nyarinya..tanpa perlu ke internet lagi..soalnya mba Aul punya koleksi jurnal yang buaannyyaakk…thanks ya mba, jadi memudahkan. Nah..bagian yang paling sulit adalah memahami isi jurnalnya. Kebayang donk..bahasa Inggris, sangat ilmiah, dan yang paling parah..BIOKIMIA!! Errgghh… Tapi akhirnya jadi juga si…dan besoknya langsung dipresentasiin..walaupun cuma dapet juara kedua, tapi lumayan kan?!
Hari presentasi itu adalah hari terakhir buat workshop, dan sorenya diadain penutupan. Sedih..anak BAPIN seru-seru soalnya..
Besoknya, dimulai deh Mukernas yang membosankan tapi nyenengin juga sih. Kita bisa liat orang2 yang saling berargumentasi dari yang emang ada esensinya sampai yang ga penting sekalipun. Tapi, kalo dipikir-pikir Mukernas kemaren seru karena presidiumnya yang aneh tapi bodor itu kali ya…cuma aku nerasa aga ga enak si kemaren, secara anak Unpad kan paling banyak, tapi jarang ngomong (mungkin karena kita baru kali ya..ikutan yang beginian) dan yang paling parah..kita tuh keliatan banget banyak yang tidurnya..kan jadi malu juga sama univ lain.
Karena si mukernas itu berhari-hari dan aku kurang suka ikut yang begituan, makanya, setiap kali ada yang ngajak jalan-jalan, aku langsung setuju..Haha..mending menikmati Jogja daripada duduk diam dan nggak ngapa-ngapain.
Yang paling menyenangkan pas di Jogja itu ya..pas jalan-jalannya, aku sampai 3 kali ke malioboro…ckckck…tapi seru. Cuma masih penasaran sama bus transjogja nih..kemaren ga sempet soalnya.
Tapi ada satu hal yang bikin perjalanan di sana rada-rada ga menyenangkan. 3 atau 4hari terakhir aku kena flu…berat lagi!hiks..yang paling parah tuh pas awal-awalnya, aku ngerasa nggak enak badan, bersin terus, untung hidung ga mampet. Dan sepertinya, karena lagi ga enak badan kayak gitu, mood-ku langsung drop, alhasil jadi lebih supersensitive, dan bawaannya pengen marah mulu. Puncaknya pas mau pulang, pasti keliatan banget deh lagi ga mood-nya, mukaku kan hampir selalu cemberut, jadi ga enak sama yang lain..maaf ya..
Hmmphh..seminggu di Jogja menyenangkan,,,
seneng banget karena banyak jalan2nya…walaupun ada beberapa tempat yang belum dikunjungi, taman pintar misalnya. Masih penasaran sampai sekarang.
Sedih..karena pisah sama temen2 baru..sedih karena kena flu…dan sedih juga karena waktu di sana ga sempet ke ATM, jadi ga bisa beli banyak2..hiks…
Well, I hope it was not my last time visiting Jogja…
ehm…Jogja…-part1-
December 28, 2008 at 12:52 am | In Experience | 3 CommentsAkhirnya, cita-citaku untuk kembali lagi ke kota ini tercapai 2 minggu lalu. Cita-cita? Ceritanya gini, waktu kelas 3 SMA, tepatnya ketika aku bersama rombongan sekolahku yang ikut UM-UGM akan balik ke Bandung, aku secara iseng janji sama diriku sendiri kalo suatu saat aku bakal balik ke kota cantik ini, ya..Jogja.
And…dream comes true… Sejak pertama kali aku ke Jogja, waktu karyawisata kelas 2 SMP, aku langsung jatuh cinta sama kota yang satu ini. Alasannya simple, karena Jogja adalah kota yang sangat cantik, terutama dari segi tata kotanya. Rapi, bersih, culture jawanya kerasa banget, dan yang paling menakjubkan…pemandangan kotanya pas malam hari…wuihh…so romantic lah… Karena itulah, aku nggak bosen-bosennya ada di kota ini.
Dan kali ini, tujuanku adalah ikut Workshop BK ISMKI. Awalnya, aku tertarik untuk ikut bukan karena acaranya. Jujur, waktu pertama ada publikasinya, aku sama sekali ga ngerti itu sebenernya acara apa. Tapi, yang bikin menarik adalah nginep di JOGJA 1 MINGGU!! Ohhh…I love traveling!! dan satu lagi tawaran menarik…bagi yang ingin ikut tapi ga mau repot2 ngeluarin uang yang tentunya sama sekali ga bisa dibilang sedikit, bisa pergi dengan GRATIS, dengan syarat harus nulis essay tentang ISMKI, dan 2 orang beruntung yang essaynya terpilih akan diikutkan tanpa harus membayar.
Syukur alhamdulillah…aku menjadi salah seorang diantara yang beruntung itu. Aku, Icha, sama Monik yang “lolos” dari seleksi yang cuma ada 6 orang pesertanya itu(sampai sekarang aku masih bingung kenapa jadi 3, bukannya awalnya cuma 2). Heran juga si ko bisa..padahal aku ngerasa ga ada yang spesial di essay itu.
Kalo diinget-inget lagi, lucu juga pas bikin essay itu. Cuma berbekal beberapa file tentang profil ISMKI dari Alma, aku ngebut nyelesaiin essay subuh-subuh. Maklum, hari itu udah deadline-nya banget. Pas udah selesai, berhubung printerku yang seperti biasa selalu ngadat, akhirnya aku dan Alma ikut nge-print di teh Nurul deh. Setelah itu, terserah deh mau diapain tuh essay, yang penting udah usaha.
Setelah sempat dipindah untuk ikut workshop SSC, akhirnya aku dikembalikan ke BAPIN juga, sesuai dengan apa yang kutulis di essay.
Ok..time to go..bayangin aja.. jam setengah 4 janjian berangkat, aku baru packing jam 3, mau gimana lagi…seharian itu aku pake buat bikin 3 artikel buat dijadiin mading. Bolak balik nyari foto, gunting-gunting kertas..ya sudahlah…alhasil aku ditinggalin deh ke stasiun Rancaekeknya. Padahal cuma beda beberapa menit sih aku ketinggalan. Akhirnya, dengan menggerek koper dan menjinjing tas, aku naek angkot ke stasiun Rancaekek sendiri..hiks..gapapa juga si..cuma agak malu aja diliatin orang2..mungkin di pikiran mereka….ya ampun ribet banget ya ni anak..! O iya, di perjalanan aku senang sekali karena ditemani supir angkot yang menyenangkan..dari mulai aku naik, dia ngomong,”wahh..abot nya neng”. Bahasanya halus…ditambah lagi setiap ada yang bilang “kiri..!” si mang supir itu selalu menjawab dengan “mangga..” perjalanan yang merepotkan pun jadi lebih menyenangkan. See..bahkan hal-hal kecil yang secara tidak sadar kita lakukan bisa memberi dampak cukup besar pada orang lain.
Sesampainya di Rancaekek, first impression-nya…aku cuma bisa ber-oohh ria ngeliat situasi stasiun di sana. Karena kita ketinggalan kereta Patas, kita harus nunggu deh kereta selanjutnya yang ke st.hall, itu pun yang ekonomi. Yaa..memang perlu dimasukkan ke dalam sejarah juga sih..berhubung itu adalah…_ehm..agak malu juga sih sebenernya_kereta pertama yang kunaiki(puas kamu Dan..!ngejekin mulu..)
Jomplang banget sama di Rancaekek, di St. Hall jauh lebih segala-galanya. Kenapa coba, semua stasiun di Indonesia ga disamain standar kualitasnya aja? Dari sinilah aku merasakan kereta yang bener-bener kereta. Ga ber-AC memang, tapi cukup nyaman. Nah,,dengan kenyamanan tadi, ditambah dengan malam yang udah manggil2 untuk tidur, harusnya perjalanan akan diisi dengan tidur pulas. Tapi..yang terjadi adalah…ayo…selesaiin proker!! Kalo malam hari, aku bener2 ga bisa diajak untuk mikir hal yang berat2 kayak gitu, bawaannya mau tidur mulu, walaupun susah juga untuk tidur waktu itu..jadi maaf aja ya..kalo waktu itu rada2 ga connect.
Cukup buat hari itu..akhirnya bisa tidur juga…for the next journey…just wait and see…
Sebuah ketulusan
November 25, 2008 at 7:45 pm | In Experience | 1 CommentAda sebuah pengalaman menarik yang kudapat pas nge-DaNus di PaUn 2 minggu yang lalu. Rencananya, aku akan “menjual” jasa tensi bareng nes3 yang juga bakal berjualan baju.
Kami berangkat jam 5.30 dari kostan. Sesampainya di PaUn, aku udah cemas duluan bakal ga dapet tempat. Dan ternyata benar…setelah ditelusuri, hampir setiap space udah ditempatin orang-orang yang juga sama-sama mau mengadu nasib, atau setidaknya udah di-take duluan.
Mungkin karena melihat kami yang kebingungan mencari tempat, seorang bapak penjual _sebut saja_ kayu ukir menegur kami, “Ade mahasiswa ya?hubungin dulu bapak -lupa namanya- pengurus PaUnnya, ntar bakal dicariin tempat.” Kami yang udah bingung jadi tambah bingung karena disuruh nyari orang yang entah seperti apa rupanya. Tapi,ujung-ujungnya sih kami ditunjukkan satu tempat kosong yang pantas saja kosong, becek gitu.
Oow…kami dilema. Pertama, karena kami hanya bawa kertas koran seadanya, yang pastinya akan meresap air kalo dijadiin alas. Kedua, karena males nyari tempat kosong lagi, yang kemungkinan emang udah ga tersisa. Dengan berat hati kami terima juga tempat seadanya itu.
Masih bingung gimana ngakalin si becek itu, ada bapak-bapak lain yang ikut nimbrung ngasih saran gimana bagusnya. Yasudah, kami putuskan untuk menggelar koran-korannya sampai beberapa lapis. Di tengah pekerjaan kami itu, bapakyang tadi ngasih saran datang kepada kami lagi dengan menyodorkan 2 lembar kayu mirip triplek lapi lebih tebal untuk kami. Kami kaget, padahal kami tidak meminta apa pun, tapi bapak ini dengan sukarela mau membantu kami. Waaaahh…baik banget ga sih..?
Tidak hanya sampai di situ aja, si bapak yang tadi kembali membawakan satu lembar karung beras tapi agak besar. Pinjam dari temannya yang juga jualan di sana, katanya. Itu aja ?? Belum selesai,,, karena setelah itu, beliau memberi kami lagi 2 lembar kain lebar bekas spanduk untuk dijadikan alas kami duduk. Subhanallah sekali ya?? Tanpa diminta, bapak itu berusaha mencarikan alas yang layak untuk kami duduk, lebih keras usahanya dibandingkan kami sendiri. Kami jadi malu. Padahal kami bukan siapa-siapanya beliau, bahkan mungkin bagi sebagian orang yang sempit pikirannya, kami bisa menjadi saingannya dalam berjualan.
Pada saat itu, dalam diri bapak itu, aku menemukan sebuah ketulusan tanpa syarat yang tidak bisa dideskripsikan melalui kata-kata. Aku tau, mungkin aku tidak bisa memberikan apa-apa atas semua kebaikan beliau. Yang bisa kulakukan hanya mendoakan beliau, semoga kebaikan beliau Allah balas dengan kebaikan yang jauh lebih besar lagi.
Dalam diri beliau pula, aku menemukan jati diri orang Indonesia asli. Ramah, membantu sesamanya tanpa pamrih. Sifat yang sudah jarang kutemui. Wajar, kalo dipikir-pikir, karena memang selama ini aku jarang bergaul dengan “masyarakat” yang sebenarnya.
Ketulusan kedua kudapat dari senyum-senyum yang terpancar dari setiap warga yang selesai ku-tensi. Satu hal lebih yang kudapat dari ‘pekerjaan’ ini selain dana adalah aku bisa benar-benar menyentuh lapisan masyarakat yang benar-benar menbutuhkan. Mendengarkan keluhan-keluhan mereka, membagi ilmu yang telah kita dapat sebelumnya, sampai mencoba merasakan bagaimana menjadi mereka. Sekalipun belum bisa memberikan solusi layaknya seorang dokter, setidaknya kita sudah belajar satu hal sebagai bekal menjadi dokter nantinya, yaitu mendengar.
Ujung Bernama Kematian
November 20, 2008 at 10:38 am | In Experience | Leave a CommentTags: kematian, pengalaman dengan kematian, pengalaman kematian
Ceritanya udah lumayan lama…sekitar 3-4 minggu yang lalu…
Hari Senin itu aku diminta pulang oleh orangtuaku, dengan alasan…ohhh tidak..buat beli sepatu besoknya. Tapi, akhirnya sih ga jadi besoknya, jadinya sore2 aku langsung dari kampus ke cibaduyut sendirian. Dan pulang ke rumah malem-malem, sendirian pula…di angkot yang penuh dengan laki-laki bertampang sangar. Serem sih…untung ga ada apa-apa.
Belum nyampe satu setengah jam di rumah, ada berita mengejutkan yang menghampiriku. Bapak masuk rumah, dan bilang ke aku dan ibuku yang waktu itu lagi nonton TV, “Kayaknya Pak —- meninggal deh..” kami berdua kaget sekali. Untukku kagetnya nambah karena selanjutnya Bapak bilang, “Kak, kamu bisa ngecek ga, udah meniggal atau belum, kamu bisa ngebedain nadi yang udah meninggal sama yang belum kan?”
Ngitung nadi orang yang masih hidup sih gampang, tapi, aku belum pernah ngecek orang meninggal sebelumnya. Dengan jantung berdegup kencang, aku berangkat ke rumahnya yang terletak di 2 rumah samping depan rumahku.
Di sana, aku benar-benar melihat sebuah drama kehidupan, dimana sebuah keluarga menangis ditinggalkan sang imam. Aku dan ayahku masuk ke kamarnya, dan aku langsung mengecek nadi radialisnya. Kupegang tangannya masih hangat, aku meraba cukup lama, tapi aku tetap tidak yakin. Aku merasakan di ujung ketiga jariku terasa ada denyutan. Tapi, karena jantungku sendiri berdegup kencang, jadi aku tidak tau berasal dari mana denyutan itu. Untuk memeriksa lebih jauh lagi di nadi carotis, aku sudah kehilangan keberanian, karena percuma saja memeriksa dalam keadaan deg-degan, karena akan terjadi blur seperti tadi.
Akhirnya, semua keputusan diserahkan pada dokter yang datang tak lama kemudian. Awalnya aku tidak mau ikut masuk melihat dokter memeriksa. Jujur aku tidak tega melihat sebersit harapan dari keluarganya ketika dokter tiba. Tapi, atas desakan ibuku, aku masuk juga.
Pertama, dokter memeriksa tekanan darahnya. Aku tidak dapat melihat hasilnya dengan jelas, tapi kuduga tidak ada getaran pada jarumnya yang biasanya terlihat jika terasa tekanan systole. Kemudian, dokter beralih memeriksa dada beliau yang sudah sangat kurus dimakan oleh penyakit yang telah beberapa lama ini menggerogoti tubuhnya dengan stetoskop. Pemeriksaan ini berlangsung cukup lama, mungkin ada 2 menit. Mungkin, dokternya tidak ingin gegabah memutuskan, karena ini berhubung dengan harapan sebuah keluarga. Terakhir, dokter meminta izin pada istrinya untuk membuka matanya. Istrinya mengizinkan dengan menambahkan, “..yang sebelah kanan saja, dok, soalnya yang kiri sudah tidak berfungsi..” memang, tumornya itu menyerang mata kirinya sehingga sudah lama menjadi tidak berfungsi. Dokter pun membuka matanya dan mengarahkan senter ke matanya. Setelah selesai, ayahku kembali bertanya, “gimana dok, udah ga ada..?”
Ketika dokter menggeleng, pecahlah lagi tangisan ibu dan anak yang sebelumnya reda karena melihat secuil harapan.
Alu sungguh-sungguh tidak tahan berada di dalam sana. Aku tidak tega. Dan pada saat itu, aku membayangkan bagaimana jika yang tergolek lemah itu adalah ayahku?
Istri dan anaknya pun dibawa keluar kamar untuk ditenangkan. Jujur, aku tidak bisa mengatakan apa-apa, I was totally speechless.
Lalu, bagaimana dengan nasib putri tertuanya yang kini sedang kuliah di Jakarta? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya ketika mendengar ayahnya telah tiada. Aku juga tidak bisa membayangkan ketika sedang belajar di sini, aku mendapat kabar yang sama.
Karena tidak tahan lagi, aku mengajak ibuku untuk pulang. Di rumah, aku merenungi semua yang terjadi tadi. Bagaimana nasib sebuah keluarga yang kini benar-benar ditinggal oleh tulang punggungnya? Bagaimana nasib anak-anaknya yang masih ingin mengecap pendidikan? Dan bagaimana jika itu semua terjadi pada keluaragku?
Aku tau, semua itu sama sekali tidak dapat diprediksi. Segalanya dapat hilang hanya dengan jentikan tangan Yang Maha Kuasa.
Aku tau, bahkan sedetik pertemuan bersama keluarga pun akan sangat berharga jika kita telah kehilangan mereka. Sekalipun aku tidak setiap saat bisa pulang ke rumah, setiap kali pulang, aku ingin benar-benar memanfaatkan setiap detik kebersamaanku bersama keluargaku, karena aku tidak ingin menyesal di akhir karena telah menyia-nyiakannya.
Sangat beruntung, orang yang bisa selalu dekat dengan keluarganya. Namun, dia akan menjadi sangat tidak beruntung, jika kesempatan itu tidak dimanfaatkannya untuk mempersembahkan yang terbaik dari yang bisa kita berikan kepada mereka.
Bagi teman-teman yang jarang bertemu keluarganya, jangan sedih, karena masih ada sesuatu yang bernama do’a yang dapat kita persembahkan untuk kedua orang tua kita.
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.